Ini 3 Pantangan yang Tak Boleh Dilanggar di Malam 1 Suro, Kamu Percaya?

4113

Pasuruan (WartaBromo.com) – Malam 1 Suro merupakan malam yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa. Di malam ini pula ada beberapa pantangan khusus yang tak boleh dilanggar.

Adanya pantangan ini bermula sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Dimana saat itu Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645) berniat menyatukan masyarakat Jawa yang terpecah.

Tak lain terpecah karena ada kepercayaan Kejawen dan Putihan (kepercayaan Islam). Maka, Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma mengubah kalender Saka.

Kalender tersebut kemudian dibuat dengan penanggalan Jawa dan Hindu agar sesuai dengan penanggalan Hijriah dalam Islam. Dalam masa pengubahan kalender tersebutlah masyarakat Jawa dilarang melakukan hal-hal tertentu.

Apa saja pantangan tersebut? Berikut dilansir dari beberapa sumber:

Baca Juga :   Korban "Ritual Maut" Berasal dari Padepokan Tunggal Jati Nusantara

1. Pindah Rumah

Larangan pertama adalah masyarakat Jawa tidak diperbolehkan pindah rumah. Pasalnya, dalam primbon Jawa disebutkan ada hari baik dan buruk.

Serta, secara turun temurun di malam 1 Suro terdapat mitos yang dipercaya bisa mendatangkan malapetaka bagi orang yang pindah rumah di malam ini.

2. Berbicara

Bagi masyarakat Jawa yang kental dengan tradisi kerajaan kuno, maka akan memegang teguh pantangan ini. Yakni melakukan tap bisu dan tidak bicara selama malam 1 Suro.

Selain bertapa, orang tersebut juga diharuskan melakukan ritual khusus. Yaitu berkeliling benteng keraton di wilayah setempat.

3. Menggelar Pernikahan

Banyak orang percaya melakukan pernikahan di bulan Suro hanya akan berujung petaka. Namun, kepercayaan ini hanya dianggap mitos belaka.

Baca Juga :   Sakral! Ini Tradisi Malam 1 Suro Bagi Masyarakat Jawa

Mitos ini muncul akibat pesta pernikahan yang meriah dianggap menyaingi kesakralan ritual mengelilingi keraton. Mitos ini juga berlaku pada pesta atau hajatan lainnya.

Semua pantangan di atas sampai saat ini dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Jawa. Nah, apa Bolo juga percaya dengan semua pantangan di atas?. (trj)