Petunjuk Tuhan

684

Jam 05.30 WIB. Kau menarik pagar rumahmu dengan tangan kanan dan tubuh doyong ke belakang. Pagar baru separuh terbuka, lenganmu kebas. Matamu melirik ke kanan-bawah tepat tujuh senti di atas siku kananmu. Ada memar. Terang. Biru tua pekat nyaris ungu. Kau angkat tangan kirimu, lalu menyentuhnya. Perih.

Oleh : Amal Taufik

Memar di lengan kananmu bentuknya seperti bekas stempel. Bundar berdiameter satu senti. Hanya bekas itu yang masih terlihat. Kau ingat, laki-laki kurang waras di dalam rumahmu, yang sewaktu kalian masih pacaran dulu setiap hari mengirim makan siang ke kantormu itu, semalam juga memberimu memar di dahi, telinga, paha, punggung.

Dari dalam rumah, terdengar ponselmu berdering. Sebuah nomor yang kau beri nama “Lele Dumbo” muncul di layar ponsel. Ia adalah laki-laki tua ngantukan yang berkali-kali meyakinkan semua orang bahwa alien telah menyusup ke bumi. Para alien itu menyerupai manusia. Bedanya, kata dia, jari kaki mereka hanya berjumlah tiga biji.

“Mbak, bisa ke kantor sekarang?” tanya laki-laki di seberang sana sepagi ini. Jam absen saja belum tiba.

“Saya mungkin telat, Pak. Anak saya sakit,” jawabmu.

“Bawa saja ke kantor. Saya mungkin bisa membantu. Dulu saya pernah belajar pengobatan alternatif. Ya… pakai doa-doa gitulah,” dia menyahut.

Kau paham, laki-laki itu pasti sangat membutuhkanmu pagi itu, sebab ia terlampau tolol dalam menggarap pekerjaan jenis apapun. Gerakannya lambat seperti kura-kura galapagos. Apesnya, dia atasanmu.

Tapi untungnya atasanmu orang yang lucu. Oh, lebih tepatnya penuh cerita lucu. Suatu hari, atasanmu itu pernah masuk kerja dengan masker yang terus melekat menutup mulutnya. Semua mengira ia pilek atau flu atau mengidap penyakit yang gampang menular lewat droplet.

Ketika jam makan siang, ia mengajak tiga stafnya, termasuk kau, ke warung pecel lele yang berjarak delapan kilometer dari kantor. Sampai di warung, ia duduk menyandar kursi, dua tangannya bersedekap di dada. Matanya terlihat begitu awas mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Dengan gerak kurang percaya diri, pelan-pelan maskernya diturunkan. Tawa kalian langsung meledak.

“Kemarin waktu motong-motong ranting pohon mangga, bibir saya disengat tawon sebesar ini,” kata dia sambil menonjolkan dua jempol tangannya.

Bibirnya bengkak persis bibir badut ulang tahun. Tidak hanya itu. Setelah disengat tawon, ia jatuh dari atas pohon dengan posisi wajah lebih dulu mendarat di bibir pot keramik. Dua gigi depannya rompal, sehingga saat ia tertawa, rasanya kau ingin melemparkan biji kuaci di sela-sela giginya.

Kau berbohong pada atasanmu pagi itu. Dua anak perempuanmu sehat dan baik-baik saja. Mereka tidak ada di rumah. Hampir dua pekan mereka berada di rumah orang tuamu. Di rumah hanya kau dan suamimu yang masih mendengkur di sofa ruang tamu.

Baca Juga :   Sakit yang Tak Berujung

Anak pertamamu, Keisya, sering mengingatkanmu pada foto-foto masa kecilmu. Keisya mewarisi bentuk matamu yang lebar, bibirmu yang tipis, dan gaya bicaramu yang tak begitu enak di kuping seperti bunyi mesin diesel. Saat Keisya lahir, suamimu belum gila seperti sekarang.

Kau ingat ketika menjelang persalinan, setiap hari suamimu duduk dan mondar-mandir di sampingmu. Ia melayanimu seperti seorang jongos yang bahkan tidak akan membiarkan seekor nyamuk pun menyentuh kulitmu. Sesekali kau mendengar ia mengaji barang lima hingga sepuluh menit. Kata dia, menjelang lahiran, pikiranmu tidak boleh terganggu dan harus banyak-banyak berdoa.

***

Kalian bertemu di sebuah acara undian yang digelar kantormu sepuluh tahun silam. Kebetulan suamimu adalah salah satu nasabah beruntung yang dapat kesempatan ikut kocokan. Hadiah utamanya satu unit sepeda motor bebek yang, menurut orang-orang, cukup tampan tetapi gampang rewel.

Nomor undian yang dipegang suamimu muncul sebagai pemenang. Dari situlah kalian kemudian sering berkomunikasi. Mulanya hanya urusan administrasi pengambilan hadiah lalu lama kelamaan berkembang menjadi urusan makan di mana, nonton apa, sudah salat atau belum, liburan ke mana, dan lain sebagainya, sampai pada titik ia bertanya apakah kau mau menjadi teman hidupnya hingga dua ratus lima puluh tahun lagi.

“Saya harus istikharah dulu,” jawabmu waktu itu.

Sebenarnya tidak ada keraguan sedikitpun di benakmu. Kau pernah menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki sebelumnya, namun selalu berakhir dengan air mata. Dan ketika ia datang, hidupmu hanya mengalami satu hal: bahagia. Jika sudah saling cocok dan memberi kebahagiaan, Tuhan tak penting-penting amat untuk dilibatkan, begitu pikirmu.

Tapi untuk meneguhkan hati, akhirnya kau tetap minta petunjuk kepada Tuhan. Dalam mimpi pertama, kau melihat taman bunga yang sangat luas lalu di tengah-tengahnya ada gerombolan sapi dan domba. Binatang-binatang itu terlihat gemuk dan sehat dan dagingnya tampak sedap jika disembelih. Dalam mimpi kedua, kau berada di dalam rumah besar. Udaranya sejuk dan menenangkan. Barang-barang di dalamnya tertata rapi. Bau melati menguar di setiap sudutnya.

Dua mimpi yang menyiratkan petunjuk baik, pikirmu.

Sebelum memberi jawaban ke suamimu, sempat kau minta orang tuamu untuk juga melakukan istikharah, tetapi orang tuamu menolak. Ayahmu bertanya, apa kau cinta kepadanya? Kau jawab, ‘ya’. Dia bekerja? Kau jawab, ‘ya’. Dia membuatmu bahagia? Kau jawab, ‘ya’. Dia tanggung jawab? Kau jawab, ‘ya’.

“Kalau begitu jalan saja. Yang baik-baik disuburkan. Yang jelek-jelek diperbaiki bersama. Itu saja cukup,” kata ayahmu.

Selama menikah, suamimu tidak pernah sekalipun menyuruhmu memasak, mencuci, bersih-bersih rumah, atau tugas-tugas lain yang umumnya dikerjakan seorang istri. Ia punya pemahaman, semua urusan itu adalah kewajiban seorang suami. Dan demikianlah, suamimu yang mengerjakan semuanya.

Baca Juga :   Sumpah Lahir

Suamimu adalah pengusaha laundry dengan lima cabang di kotamu. Sebelum berangkat kerja, ia selalu membuat sarapan—setidak-tidaknya setangkup roti selai nanas dan segelas susu untuk kalian berdua. Lalu sore ia pulang untuk bersih-bersih rumah. Malam ia mencuci baju, lalu sebelum tidur ia akan bercerita tingkah-tingkah lucu pegawainya di toko. Kadang-kadang ia juga menanyaimu ‘bagaimana hari ini?’ ‘adakah yang membuatmu bahagia atau murung?’.

Ia adalah laki-laki yang sangat menghormatimu setelah ayahmu. Bahkan ketika ingin menjadi binatang, suamimu lebih dulu bertanya, kau sedang capek atau tidak? Apa kau juga sedang menginginkannya? Jika jawabanmu capek atau sedang tidak menginginkannya, suamimu urung jadi binatang. Hal-hal itulah yang membuatmu, setiap tidur, memeluknya erat. Sangat erat. Kau sadar, kau tak pernah mencintai seseorang sehebat ini.

Hari-hari seperti itu kau lalui hingga delapan tahun pernikahan sebelum kemudian kiamat terjadi.

Suamimu tiba-tiba sering pulang tengah malam dalam keadaan teler dan sering pula, tanpa kau ketahui, tergeletak di teras hingga pagi. Bau nafasnya sengak. Entah sejak kapan suamimu mengenal alkohol. Di sakunya juga kau temukan sebungkus rokok, bahkan kadang-kadang ada beberapa lintingan mirip rokok dalam wadah plastik.

Rumahmu tiba-tiba seperti neraka. Kalian mudah ribut untuk urusan-urusan sepele. Suamimu mendadak gampang mengataimu dengan berbagai jenis binatang dan gampang membanting apapun jika amarahnya meluap. Gelas, piring, dilempar ke jendela, pecah. Vas keramik disepak, hancur.

Yang lebih membuatmu hancur, suamimu juga mudah mengayunkan tinju dan tendangan ke semua bagian tubuhmu. Kau pernah pingsan tiga jam setelah ditempeleng suamimu. Kepalamu pernah sobek karena dilempar pigora lalu kau dilarikan ke UGD. Kau bahkan pernah nyaris menenggak cairan pembersih lantai saking tak kuatnya merasakan perilaku suamimu yang makin tidak waras.

Kau mendengar suamimu main serong dengan seorang sales deterjen. Mulanya sales—yang wajahnya kau sebut mirip cucian mamel—itu hanya sekadar penyuplai deterjen di toko laundry suamimu, lalu entah sejak kapan dan apa yang menyebabkan suamimu bisa jatuh cinta kepada cucian mamel itu.

Akhirnya pada suatu Sabtu sore kau mencoba membuntuti suamimu. Seusai mengecek tokonya, ia pergi ke sebuah kafe. Kau ikut berhenti di kafe itu, memantau dari luar, dari balik jendela. Ia tampak memesan sebotol anggur. Tak lama kemudian, si cucian mamel datang. Mereka berbincang, tertawa keras, diakhiri beberapa kali bersulang. Tidak ada ciuman, tidak ada pelukan, atau bentuk-bentuk kemesraan lainnya.

Keluar dari kafe, mereka berdua pergi naik mobil suamimu. Kau masih membuntutinya. Mobil suamimu kemudian berhenti di salah satu hotel melati yang bangunannya lebih pantas disebut bangunan cagar budaya daripada hotel. Tapi kau tidak langsung menggerebek mereka. Kau biarkan mereka masuk kamar lebih dulu.

Saat mereka sudah masuk kamar, kau mendatangi resepsionis hotel dan menanyakan kamar mana yang disewa suamimu bersama si cucian mamel. Kepada resepsionis hotel, dengan suara gemetar disertai nada ketus, kau meminta agar pihak hotel segera memanggil polisi atau Satpol PP.

Baca Juga :   Angka Perceraian di Pasuruan Tembus 1.261 Kasus

Sayangnya kau tidak cukup telaten menunggu petugas. Sendirian, kau datangi kamar yang disewa suamimu. Di depan pintu kamar, sekujur tubuhmu terasa panas. Otakmu sudah membayangkan bagaimana adegan-adegan menempeleng si cucian mamel dari kanan, kiri, lalu menjambak rambutnya, menendang tubuhnya, bahkan jika perlu, menginjak kepalanya sampai gepeng.

Tapi semua itu tidak pernah terjadi. Saat kau membuka pintu kamar hotel, si cucian mamel tidak ada di sana. Yang kau dapati hanya suamimu bersama dua laki-laki tinggi besar berkulit hitam. Mereka semua telanjang bulat.

Adegannya begini: suamimu telentang di atas kasur, dua laki-laki itu menjilat-jilat sekujur tubuh suamimu.

Pikiranmu gelap. Jantungmu seperti anjlok sampai dengkul. Kau ingin menangis, tapi air matamu sulit pecah. Kau ingin berteriak, suaramu mandek di kerongkongan. Suamimu, yang kaget karena kau membobol kamar, wajahnya merah padam dengan mata menyorot tajam ke arahmu. Tubuhmu langsung berbalik dan lari meninggalkan hotel.

Setelah kejadian itu, suamimu tidak berusaha menjelaskan apapun. Juga denganmu, kau sama sekali tidak mencoba bertanya kepadanya soal apa yang kau lihat di dalam hotel. Kalian menjalani hidup seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Kau berpikir, perpisahan bukan solusi. Kau tidak ingin jika kalian bercerai, Keisya jatuh di tangan suamimu yang kurang waras itu.

Kau masih berusaha mencintai suamimu. Bukan tanpa alasan, sebelum menikah kau sudah meminta petunjuk Tuhan dan menurutmu, Tuhan memberikan petunjuk baik terhadap suamimu. Sampai sekarang kau masih meyakini bahwa suamimu adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan.

Dan pagi itu, kau akhirnya benar-benar berangkat ke kantor. Suamimu masih mendengkur di sofa. Sebelum berangkat, kau membelikannya nasi bungkus di depan gang. Kau masih sempat berbisik ke telinganya kalau sarapan sudah disiapkan di atas meja, tetapi ia terus mendengkur.

Di kantor kau langsung menemui si lele dumbo. Ia memberimu seikat kertas yang cukup tebal. Tugasmu, kata dia, menginput semua data yang ada di dalam kertas tersebut ke dalam aplikasi baru di komputer. Pelan-pelan, kau membuka tali, mempelajari sebagian isi yang ada di dalamnya, lalu memasang earphone di telingamu. Daftar lagu yang kau pilih pagi itu adalah album A Night at the Opera milik Queen. Dan saat sampai pada lagu Love of My Life, rasanya kau tengah berada di tengah konser Queen di London.

“Bring it back… bring it back… don’t take it away from me… because you don’t know… what it means to me…”