Habis Curiga, Terbitlah Terang; Cerita Mereka yang Tak Mampu Beli Setrum

435
Corporate Affairs Manager CCEP Indonesia Anang Zakaria berfoto bersama warga penerima manfaat program donasi instalasi listrik. Sepanjang Juli 2022 mendistribusikan donasi sambung listrik bagi masyarakat kurang mampu.

Pasuruan (WartaBromo.com) – Husni (50 tahun) akhirnya bernapas lega. Dua lelaki itu terbukti tak memungut uang sepeser pun setelah tuntas melakukan instalasi sambungan listrik di rumahnya, di Desa Candi Binangun Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan, pada pertengahan Juli 2022 lalu.

“Awalnya saya curiga mereka menawarkan bantuan abal-abal,” kata Husni menceritakan kembali peristiwa itu, Selasa 23 Agustus 2022.

Meski kedua petugas instalasi listrik itu telah memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuannya, Aisyah (47 tahun), istri Husni, bahkan berlari ke arah rumah tetangga ketika diminta memperlihatkan identitas kependudukan. Menurut Husni, permintaan itu untuk memverifikasi nama calon penerima bantuan sambungan listrik. “Karena ditanya KTP, istri saya curiga mereka polisi yang sedang mengejar buron,” katanya.

Mendengar Husni mengisahkan tingkah kocaknya, Aisyah yang sedari awal wawancara memilih diam, kini melepas tawanya.

Seorang warga Kabupaten Pasuruan berdiri di depan pintu rumah. Kendati rasio elektrifikasi di Jatim mencapai 105,47 persen, secara spasial masih ada disparitas antar kota/kabupaten.

Pada Juli lalu, Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia menyalurkan donasi instalasi listrik bagi puluhan rumah tangga miskin di Kabupaten Pasuruan. Para penerima manfaat program tersebut berasal dari 6 desa/kelurahan di dua kecamatan; Sukorejo dan Prigen.

Regional Corporate Affairs Manager CCEP Indonesia Armytanti Hanum Kasmito mengatakan agar penerima manfaat program tepat sasaran dan terkoordinasi dengan upaya pemerintah mengurangi angka kemiskinan, daftar rumah tangga penerima dikonsultasikan dengan Dinas ESDM Jatim. 

Bahkan, lanjut dia, sebelum petugas memasang instalasi listrik, nama penerima diverifikasi dengan mencocokkan identitas dan menyurvei lokasi rumah. “Harapannya manfaat program bisa diterima orang-orang yang memang membutuhkan,” katanya.

Husni, lelaki dengan dua anak itu, bekerja sebagai tukang ojek. Sehari-hari, ia mangkal di Pasar Sukorejo. Berangkat pagi pulang sore, ia bisa kembali ke rumah dengan membawa uang Rp 30 ribu-Rp 40 ribu. Itu kalau sedang beruntung mendapat penumpang. Seringkali, kata dia mengaku, uang yang ia dapat hanya cukup membeli bensin.

Toh, ia bersyukur. 20 tahun bekerja jadi tukang ojek, 10 tahun lalu ia bisa membangun rumah sederhana untuk keluarganya. Lantaran belum mampu melengkapi dengan instalasi listrik, ia nebeng aliran listrik kerabatnya. “Untuk tagihannya kami patungan,” katanya.

Di Candi Binangun, juga di kawasan perdesaan lain, satu instalasi sambungan listrik lazim dialirkan ke beberapa rumah tangga. Atmani (57 tahun), warga lainnya, mengatakan 11 tahun lampu yang menerangi rumahnya berasal dari instalasi listrik tetangga. Agar bisa mengakses listrik tersebut, Karnadi, suaminya, harus menyisihkan Rp 20 ribu dari penghasilan mengumpulkan barang bekas untuk urunan tagihan PLN.

Kini, meski senang rumahnya telah terinstalasi sambungan listrik, ia mengatakan harus pandai-pandai berhemat energi. “Pokoknya kalau tak dipakai ya dimatikan,” katanya.

Dalam dokumen Perubahan Rencana Strategis Dinas ESDM Jatim 2019-2024, bertarikh Maret 2022, tercatat rasio elektrifikasi di Jatim pada 2021 mencapai 105,47 persen. Meski demikian secara spasial masih ada disparitas wilayah dimana ada yang sangat tinggi hingga 170 persen dan ada yang belum terpenuhi yaitu pada interval 70-92 persen di Madura dan Tapal Kuda.

Armytanti mengatakan CCEP Indonesia berkomitmen menciptakan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya di sekitar wilayah operasionalnya. Termasuk mendukung upaya pengurangan kemiskinan melalui donasi instalasi sambungan listrik bagi rumah tangga kurang mampu. (asd)