Sampah Mikroplastik Bisa Memicu Gangguan Hormon

62
Prigi Arisandi saat mengambil sampel air di salah satu sungai di Indonesia. Foto: Istimewa.

Pasuruan (WartaBromo) – Sebagian besar sungai di Indonesia disebut telah tercemar mikroplastik. Mikroplastik ini bisa memicu gangguan hormon pada manusia.

Direktur Asosiasi Komunitas Sungai Indonesia (AKSI) Nusantara, Prigi Arisandi mengatakan, plastik merupakan jenis sampah yang tidak bisa diurai.

Sampah plastik biasanya akan pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil bernama mikroplastik. Prigi menyebut, temuannya di lapangan, mikroplastik berasal sampah-sampah seperti tas kresek, sedotan, sachet, botol plastik.

Mikroplastik ini, menurut Prigi, sangat berbahaya. Pertama, mikroplastik saat berada di alam, ia dapat menyerap polutan.

“Jadi misalnya di sungai kita ada (pencemaran) logam berat, pestisida yang tadinya terpisah. Dengan adanya mikroplastik, mereka bisa jadi satu. Mikroplastik ini mempersatukan pencemaran,” kata Prigi dalam diskusi bersama WartaBromo, Kamis (19/01/2023).

Kedua, mikroplastik tersusun dari berbagai bahan tambahan kimia seperti pewarna dan pelentur. Bahan-bahan tambahan ini termasuk dalam bahan kimia pengganggu hormon.

Ketiga, mikroplastik menjadi media tumbuh bakteri patogen atau bakteri berbahaya. Bakteri patogen merupakan mikroorganisme parasit yang dapat menyebabkan penyakit pada inangnya seperti tubuh manusia.

“Salah satu bukti gangguan hormon itu yang sekarang banyak terjadi itu seperti menopouse lebih awal, menstruasi lebih awal. Ini karena pola konsumsi kita banyak makan yang mengandung plastik,” ujar Prigi.

Sejak bulan Maret tahun 2022, Prigi Arisandi melakukan ekspedisi sungai nusantara. Ia berkeliling sungai-sungai di Indonesia untuk mengetahui kondisi kesehatan sungai.

Menurutnya, dari semua sungai yang ia datangi, 98 persen airnya sudah tercemar sampah plastik. (tof/asd)