Politik tanpa Elite (2): Sang Pendoa Gereja yang Berjuang Membangun Kota

267
Galau membaca alkitab.

Oleh: Amal Taufik

Galau Irma Ari Susanti (35) ingat betul momen Pemilu 2019. Beberapa saat usai penghitungan suara di TPS, seorang pria mendatangi rumahnya. Pria itu adalah salah satu tim suksesnya. Ia datang ke rumah Galau lalu tanpa basa-basi, tiba-tiba menumpahkan air mata. Kata dia, Galau gagal menjadi anggota DPRD Kota Pasuruan.

“Saya dan suami ya kaget. Datang ke rumah menangis. Laki-laki dan sudah beristri pula. Dia menyesal kenapa saya bisa kalah. Sampai kami suruh pulang. Saya bilang saya tidak apa-apa kalah,” kenang Galau saat ditemui WartaBromo, Selasa (06/02/2024).

Perempuan warga Bugul Kidul ini bergabung dengan Partai Golkar sejak tahun 2017. Ia ditugaskan mengurus bidang pemuda dan olahraga di DPD Partai Golkar Kota Pasuruan. Golkar mungkin melihat latar belakangnya yang sudah berpengalaman di dunia olahraga.

Pada tahun 2019, beberapa politisi senior Golkar meminta dirinya maju sebagai calon legislatif (caleg). Permintaan ini cukup mengagetkannya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan suatu saat akan maju sebagai caleg.

Sadar sebagai petugas partai, Galau mengiyakan permintaan tersebut dengan anggapan bahwa partisipasinya hanya sebagai pelengkap syarat keterwakilan perempuan 30 persen. Ia merasa tidak yakin dengan kemampuan dirinya sendiri.

“Awalnya saya menganggap hanya jangkep-jangkepan. Tapi suami menegur, dia bilang harus serius, sekalian. Ya sudah kerjakan. Jadi tidak jadi urusan Tuhan.”

Sebagai newcomer, Galau waktu itu masih meraba-raba medan tempur. Teman, kerabat, dan jejaringnya cukup banyak. Mulai sesama atlet, pegiat olahraga, hingga jemaah gereja.

Suara yang ia peroleh pada Pemilu 2019 itu pun sebenarnya cukup signifikan: 949 suara. Kecewa memang, karena berdasar perhitungannya, seharusnya dia bisa meraup lebih dari 1.500 suara.

Caleg Perempuan dari Warga Minoritas

Pemilu 2019 memberikan banyak pelajaran bagi Galau. Kata dia, ada tiga tantangan waktu itu. Pertama, ia pendatang baru. Kedua, ia adalah perempuan. Ketiga, ia penganut Kristen Protestan. Pernah saat masa kampanye dia memberikan sumbangan speaker ke sebuah musala, tetapi ditolak. Entah apa alasannya.

“Saat itu pernah santer juga jangan pilih Mbak Galau karena minoritas (non muslim). Itu jadi seperti kampanye hitam dan memang terjadi,” ujarnya.

Galau adalah prayer coordinator atau pendoa di Gereja Mawar Sharon, Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo. Tugasnya sehari-hari antara lain: membangun menara doa, mendoakan kebutuhan pribadi jemaah, mendoakan gereja, mendoakan kota dan negara.

Pelayanannya untuk gereja ia lakoni secara sukarela, sukacita, tanpa dibayar. Ia bahkan meyakini jika banyak yang rajin mendoakan kota, maka akan memberikan dampak bagi kota. Kota akan berubah menjadi lebih baik.

Selain sebagai prayer coordinator di gereja, Galau juga dikenal sebagai pelatih renang. Ia berkecimpung di olahraga renang sejak masih anak-anak. Selama belasan tahun ia juga menjadi bagian dari Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI).

Pada Pemilu 2024 ini Galau kembali diusung Partai Golkar maju sebagai caleg DPRD Kota Pasuruan. Sebelum memutuskan untuk maju lagi di tahun 2024, berkaca dari pengalaman Pemilu 2019, Galau sebenarnya masih merasakan trauma dan kecewa.

Ketika kalah di 2019, ia mengaku tidak ada ambisi sama sekali untuk ‘membalas dendam’ di Pemilu 2024. Dalam artian, ia tidak merasa bahwa berbagai kekecewaan yang dilaluinya pada saat itu harus ditebus, diperbaiki, dan menang. Bahkan ia merasa lebih baik melakukan kerja-kerja tim sukses.

“Waktu di angka 949 suara itu saya merasa kapok. Saya ogah nyaleg lagi, cukup sekali itu saja. Politik itu kayak jahat banget. Saya kecewa banget.”

Tantangan yang ia hadapi hampir sama dengan di 2019. Perempuan dan warga minoritas. Bedanya, sekarang ia memiliki bekal pengalaman di pemilu sebelumnya. Selain itu, hari ini, masyarakat sudah lebih mudah menerima dirinya.

Selama kampanye Galau selalu ditemani suaminya. Sebagai perempuan, ia memang merasa harus didampingi suaminya, apalagi konstituen yang dia hadapi sebagian besar adalah laki-laki.

“Karena politik itu jahat. Kalau tidak didampingi suami, rawan menjadi fitnah. Wong didampingi saja, ada yang menghubungi mengajak makan,” tuturnya.

Namun demikian Galau menilai para perempuan sangat perlu berpartisipasi dalam politik. Mereka harus kuat, karena peran mereka memiliki dampak yang cukup besar jika bisa terlibat aktif di dalam perumusan kebijakan dan pembangunan. Perempuan bisa mengerjakan apa yang laki-laki kerjakan.

Modal dan Doa

Galau bukan dari keluarga yang memiliki privilege lebih. Ayah Galau adalah seorang guru renang. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar Galau sudah menjadi atlet renang dan SMP bahkan sudah melatih renang. Bagi dia, figur sang ayah sangat memengaruhi hidupnya sampai sekarang.

Saat SMP, ayahnya meninggal. Tentu ini berdampak pada ekonomi keluarganya. Ketika masuk SMA, Galau memilih sekolah yang jaraknya cukup jauh dari kota. Ini karena sekolah tersebut menawarkan beasiswa untuk dirinya dengan timbal balik Galau harus mengharumkan nama sekolah melalui prestasi olahraga.

“Saya bukan dari keluarga ningrat. Tidak punya warisan yang bagaimana. Kalau bicara modal, saya terang-terangan, saya ini punya apa?”

Tapi menurutnya, sang ayah memberikan warisan nama baik bagi keluarganya. Sebagian besar pendukung Galau kini adalah teman-teman ayahnya. Mereka bahkan rela berkorban materi untuk mendukung Galau. Selain itu, beberapa petinggi parpol juga memberikan dukungan kepadanya, baik material maupun spiritual.

Mungkin dulu saat 2019, meski tak banyak, suaminya masih punya cukup modal. Suaminya yang seorang wiraswasta masih sedikit banyak memberikan sokongan materi. Namun pandemi Covid-19 kemarin membuat usaha suaminya ambruk dan belum benar-benar pulih sampai sekarang.

Belum lagi ia harus menghadapi vote buying yang masih menjadi fenomena hingga saat ini. Dulu tahun 2019, ia sempat membagikan satu liter minyak goreng untuk satu rumah konstituennya sebagai bentuk terima kasih. Tetapi sekarang, hal tersebut belum dia lakukan.

Pada pemilu kali ini, Galau menyebut tidak 100 persen mengandalkan finansial. Sebagai pelayan gereja, ia memiliki keyakinan bahwa doa yang dia panjatkan tiap hari kepada Tuhan mampu menjaga dirinya dan pendukungnya dari apapun.

“Yang mengendalikan hati itu lebih kuat daripada uang. Mungkin dulu 2019 doa saya bolong-bolong. Hari ini saya memperkuat doa dan hal-hal spiritual. Hampir tiap hari saya berdoa di gereja. Saya tahu kekuasaan Tuhan melebihi segalanya, bahkan dari uang. Seandainya saya terpilih, dengan segala keterbatasan saya, berarti itu miracle dan bukti kekuatan doa lebih dari apapun,” pungkas Galau. (asd)