Mengenang Kisah Perjuangan Mbah Slagah, Lawan Penjajah hingga Dirikan Masjid Jamik Kota Pasuruan

334
Peringatan haul Mbah Slagah yang digelar tahun lalu.

Pasuruan (WartaBromo.com) – Sayyid Hasan Sanusi atau yang dikenal dengan “Mbah Slagah” adalah salah satu mubaligh dan mujahid besar yang berada di Kota Pasuruan. Haul mbah Slagah ini selalu diperingati pada 8 Syawal, atau saat Hari Raya Ketupat.

KH Ahmad Nadhif Imam pernah menuliskan jika Mbah Slagah lahir di Desa Keboncandi, Kabupaten Pasuruan. Nama lengkapnya yaitu Hasan Sanusi bin Syakaruddin bin Sholeh Sumendi bin Maulana Hasanuddin Banten bin Sultan Syarif Hidayatullah.

Mbah Slagah mendapat julukan Singa Putih. Mubaligh asal Kota Pasuruan ini memang tidak hanya gigih dalam penyebaran agama Islam di Kota Pasuruan, namun juga mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Diceritakan saat itu, Mbah Slagah tampak seperti ingin “menerkam” penjajah yang ada. 

Baca Juga :   Ini 10 Daftar Pesisir di Jawa Timur yang Berpotensi Tsunami

Saat itu Raden Surgo, Bupati Pasuruan meminta Mbah Slagah untuk tetap berada di Pasuruan untuk membantu mengusir penjajah. Meski pada akhirnya Mbah Khotib, adik mbah Slagah gugur melawan penjajah.

Usai perang, Bupati Pasuruan menghadiahi sebidang tanah ke Mbah Slagah. Hingga kemudian Mbah Slagah bermukim di Panggungrejo dan mendirikan masjid Jamik Agung Al Anwar Kota Pasuruan.

Mbah Slagah Tak Dimakamkan di Belakang Masjid

Seringkali menjadi pertanyaan, mengapa mbah Slagah tidak dimakamkan di pemakaman belakang masjid Jamik Al Anwar Kota Pasuruan? Dilansir dari nu.or.id, makam mbah Slagah memang diletakkan di Pemakaman Kedunglo, Kelurahan Pekuncen, Kota Pasuruan. Hal ini karena wasiat dari Den Ayu Beri.

Baca Juga :   Awas! Ada Empat Titik Rawan Nataru di Pasuruan

Konon saat melawan penjajah, Mbah Slagah dikejar oleh Belanda. Hingga kemudian masuk ke rumah Den Ayu Beri dan bersembunyi dalam kain batik yang sedang digambar oleh Den Ayu. Akibat pertolongan itu, Mbah Slagah pun selamat.

Mbah Slagah kemudian bertanya kepada Den Ayu imbalan apa  yang bisa Ia berikan kepadanya. Den Ayu tidak meminta banyak saat itu. Hanya meminta ketika Mbah  Slagah meninggal dunia, maka dimakamkan di samping makam Den Ayu, di Pemakaman Kedunglo tersebut. (may)