Tradisi Ziarah Kubur Masih Kental di Hari Raya Idul Adha

44

Probolinggo (WartaBromo.com) – Ziarah kubur, sebuah tradisi yang telah lama melekat di masyarakat Probolinggo, tetap hidup dan lestari, terutama saat perayaan Idul Adha. Kegiatan ini bertujuan untuk mendoakan orang tua dan kerabat yang telah tiada, serta mempererat silaturahmi keluarga.

Seperti yang tampak TPU Dusun Nangger, Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk, banyak warga berziarah usai melaksanakan salat Idul Adha pada Senin (17/6/2024) pagi.

Dipimpin tetua keluarga, mereka melantunkan tahlil dan doa. “Kami sering berziarah, tidak hanya di hari raya. Tapi pada hari raya, keluarga yang datang lebih lengkap,” kata M. Damanhuri, warga setempat.

Tak hanya warga desa setempat, dari lain desa juga berdatangan untuk berziarah. Munisa Latif, warga Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, melaksanakan ziarah ke makam leluhur mereka

Baca Juga :   Pemkab Probolinggo Usulkan Pembangunan Tangkis Laut Senilai Rp 62 Miliar ke BNPB

“Ini sudah menjadi tradisi keluarga kami setiap hari Lebaran atau Idul Adha,” ungkap Munisa yang datang bersama keluarga besar Wiryo Reso.

Menurut sejarah, tradisi ziarah kubur di Indonesia telah ada sejak awal penyebaran Islam di Nusantara. “Walisongo adalah tokoh yang memperkenalkan tradisi nyekar atau ziarah kubur di Nusantara,” jelas S. Adi Wardhana, Sekretaris Takmir Masjid Nurul Aziz Desa Alassumur Lor.

Ziarah kubur pada awalnya dilarang oleh Nabi Muhammad SAW karena khawatir umat Islam yang baru memeluk agama Islam akan tergelincir akidahnya. Namun, seiring waktu dan semakin kuatnya akidah umat, Nabi kemudian membolehkan ziarah kubur.

“Rasulullah SAW bersabda: ‘Berziarahlah kalian ke kuburan, karena sesungguhnya hal itu dapat mengingatkan kalian pada kehidupan akhirat,” kata Adi mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Baca Juga :   Kasus Baru HIV/AIDS di Probolinggo Lebih Dari Dua Ribu

Adi menambahkan bahwa Rasulullah membolehkan ziarah kubur tanpa menentukan waktu tertentu. “Tradisi ziarah kubur yang menjadi sunnah dalam Islam kini terus dipertahankan dan menjadi momen untuk mempererat silaturahmi keluarga,” lanjut pegiat di Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana untuk mendoakan arwah yang telah berpulang, tetapi juga mengingatkan para peziarah akan kehidupan akhirat. Serta pentingnya menjaga hubungan antar keluarga. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.