Pasuruan (WartaBromo.com) – Aksesoris dalam pernikahan adat Jawa tak hanya berfungsi sebagai pelengkap penampilan, tetapi juga sarat makna filosofi mendalam. Setiap detail yang dikenakan pengantin memiliki simbol harapan agar kehidupan rumah tangga kelak dipenuhi kebahagiaan dan keberkahan.
Salah satu aksesoris yang mencuri perhatian adalah cunduk mentul. Hiasan kepala berbentuk bunga ini biasa disematkan di atas sanggul pengantin wanita Jawa, terutama dalam riasan tradisional.
Secara filosofi, cunduk mentul melambangkan mentari yang menyinari semesta. Makna ini mencerminkan harapan agar mempelai mampu menjadi sumber cahaya, membawa kebaikan, serta menerangi kehidupan keluarga yang dibangun.
Bentuknya yang panjang, tajam, dan menjulang ke atas juga bukan tanpa arti. Cunduk mentul menggambarkan doa agar kehidupan pengantin selalu meningkat, baik dalam kebahagiaan, rezeki, maupun keharmonisan rumah tangga.
Umumnya, aksesoris ini dipasang di bagian atas kepala, tepatnya di atas paes ageng. Penempatannya yang mencolok menegaskan bahwa cunduk mentul menjadi simbol penting dalam mempercantik sekaligus memaknai perjalanan hidup seorang perempuan yang memasuki fase baru sebagai istri.
Tak hanya itu, penggunaan cunduk mentul juga menjadi simbol bahwa mempelai wanita telah dianugerahi kecantikan lahir dan batin, serta siap menjalani kehidupan berumah tangga dengan penuh tanggung jawab. (jun)




















