Work From Coffe Shop, Kerja Dari Warung Kopi

9

Ini kalau buruh pabrik, pasti sudah di-PHK. Tapi karena pegawai ber-SK, punya NIP, paling ya hanya diingatkan sebagai formalitas.

Oleh : Abdurrozaq

Kenapa tubuh Mahmud Wicaksono tetap kurus kering saat teman seusianya sudah tambun, bahkan ada beberapa yang sudah stroke, itu karena hidup Mahmud Wicaksono memang sengsara. Ia jarang makan, bahkan kadang lupa kalau belum makan. Tidur pun hanya sebentar. Setiap malam ia insomnia. Pikirannya terlalu ribut bahkan ketika ia sudah merebahkan diri menjelang subuh. Apakah Mahmud Wicaksono depresi oleh masalah ekonomi? Memikirkan penghasilannya yang tak pasti, sedangkan kedua anaknya sudah mulai bersekolah, kelak harus berkuliah hingga ke jenjang S2. Apakah Mahmud Wicaksono memikirkan hutang-hutang recehannya kepada para kenalannya? Itu memang menjadi beban pikirannya, namun yang paling membuatnya depresi, ia sok peduli memikirkan bangsanya yang entah sampai kapan tak juga ada niat untuk menjadi lebih baik.

Puluhan tahun lalu, negara-negara kecil seperti Malaysia, Brunei dan Singapura telah mengadopsi pola pikir, kurikulum pendidikan dan budaya positif negara-negara maju. Sejak belasan tahun lalu, negara-negara gak maen seperti Vietnam, Kamboja dan Mongolia, juga mulai berbenah diri dan mengalami kemajuan yang terlihat. Namun di negaranya, kenapa kebobrokan berkembang cukup agresif, tapi hal-hal baik selalu gagal diadopsi menjadi budaya? Hal-hal itulah, yang hingga di usia matangnya ini, selalu mengganggu tidur Mahmud Wicaksono. Ia sangat mencintai negerinya ini, ia sangat bangga dengan negaranya ini. Ia sangat sakit hati jika ada orang yang menghina negaranya di media sosial, meski tak jarang hinaan itu memang fakta. Gus Karimun sendiri sampai heran, adakah pejabat, wakil rakyat bahkan penguasa tertinggi di negara ini yang cintanya lebih besar daripada Mahmud Wicaksono kepada bangsa ini?

Malam itu, Mahmud Wicaksono misuh-misuh sak katek-katek e di warung Cak Sueb. Mungkin ia lupa jika di sana ada Gus Karimun, atau saking mangkele, ia tetap misuh-misuh seperti para bocah yang kalah main game online atau Cak Paijo LSM kalah main judol atau luput nombok togel.

“Weddus ancene!” umpatnya.

“Beddes! Jam kantor kok mbolos di warung kopi.” Umpatnya lagi.

“Ini kalau buruh pabrik, pasti sudah di-PHK. Tapi karena pegawai ber-SK, punya NIP, paling ya hanya diingatkan sebagai formalitas. Ya bagaimana lagi, lha wong para seniornya dulunya juga begitu. Atau sekarang tambah parah,” gerutu Mahmud Wicaksono.

“Berita apa, mas?” ujar Gus Karimun penasaran. “Razia pegawai negara di warung kopi saat jam kantor itu, ya?” lanjutnya.

“Ya, benar, gus.”

“Itu masih lumayan, mas. Lha teman saya, sudah belasan tahun hanya titip absen. Pagi absen finger print, setelah itu kalau tidak mancing, ya adu pitik. Kalau tidak adu pitik yang karaokean di warung Rondo Bohai atau makelaran. Saktinya, di tetap digaji. Jangankan dipecat, dimutasi saja tidak.” Gus Karimun tertawa penuh arti.

“Mungkin karena gajinya kurang besar, gus,” ujar Cak Paijo LSM. Cari perkara.

“Seja Era Gus Dur gajinya rutin mundak, lho cak. Ada tunjangannya, ada pensiunan, ada BPJS ketenaga kerjaan. Bahkan saking nyaman dan terjaminnya profesi ini, andai negara perang pun, mereka akan tetap digaji.

“Masalahnya itu, hampir semua hajat hidup mereka sudah kita tanggung secara gotong royong, cak,” ujar Mahmud Wicaksono. “Masa gak betah berada di kantor beberapa jam saja? Berseragam, bersepatu, wangi, kantornya ber-AC. Masa masih jenuh, wong di kantor bisa guyon vulgar dengan teman lawan jenis. Kalau jenuh karena pekerjaan sudah selesai atau gak mood untuk mengerjakan, kan bisa menonton Tiktok atau main game online? Paling tidak, tetap berada di kantor lah, agar kita yang menggaji mereka ini tidak sakit hati. Masa jam kantor ngelompro di warung kopi, pakai seragam dan kendaraan dinas, kok yo ora sungkan blas.”

“Tapi berita terbarunya, sudah ada ratusan yang dimutasi oleh Adipati, lho, Mas,” bela Cak Paijo LSM.

“He he he, apa efeknya mutasi, cak? Kalau dipecat atau diturunkan pangkatnya. baru agak sepadan,” kata Mahmud Wicaksono.

“Harusnya memang pakai sistem outshourcing alias kerja kontrak. Tapi sekali main-main dengan tupoksi, ya langsung diberi tindakan tegas agar jera,” ujar Gus Karimun.

“Masyarakat kita memang harus dihipnotherapi massal, agar pikiran kita benar. Penjajah Belanda sudah lama kita usir lho, tapi kenapa alam bawah sadar kita masih merasa masih era penjajah Belanda. Pegawai pemerintah itu sejatinya kan bawahan rakyat seperti kita, tapi kenapa masih kita anggap sebagai Ndoro atau Meneer? Sudah mau perang dunia ketiga, kita kok masih merasa di era Majapahit. Merasa kaum ksatria lebih tinggi daripada kaum sudra seperti kita? Jadinya ya, mereka manja. Dan orang-orang yang berseragam, seringkali merasa lebih tinggi derajatnya daripada orang yang tidak berseragam.”

Hanya fiksi, jika ada kesamaan peristiwa, oknum atau semacamnya, hanya kebetulan semata

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.