Melon Premium dari Pesisir Paiton Curi Perhatian karena Rasa Manis dan Tekstur Renyah

5

Paiton (WartaBromo.com) — Melon premium hasil budidaya hidroponik di Tanjoeng Farm, Dusun Tanjung Lor, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mulai menarik perhatian pasar karena rasa manis dan teksturnya yang renyah.

Ditanam di kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Madura, melon tersebut memiliki tingkat kemanisan hingga 14 brix dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp 30.000 per kilogram.

Tanjoeng Farm membudidayakan melon menggunakan bibit impor asal Belanda, Thailand, dan Taiwan dengan varietas unggulan seperti lavender, intanon, dan sweet home.

Varietas lavender memiliki daging buah berwarna oranye dengan tekstur crunchy atau renyah, sedangkan intanon memiliki warna hijau dengan tekstur lebih lembut dan aroma khas.

Pengunjung asal Situbondo, Rahma Maula, mengaku tertarik datang karena rasa melon yang segar dan berbeda dibanding melon biasa di pasaran.

“Rasanya manis dan teksturnya crunchy. Jadi terasa segar saat dimakan langsung,” ujar Imelda saat berkunjung ke lokasi.

Hal serupa disampaikan pengunjung lain, Muhammad Hasyim. Menurut dia, kualitas buah yang dihasilkan terlihat premium sejak pertama dipetik.

“Melonnya bagus-bagus dan segar. Lebih puas karena bisa petik langsung dari pohonnya,” katanya.

Seluruh tanaman dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik nutrient film technique (NFT), yakni metode pertanian modern dengan aliran air tipis yang menjaga suplai nutrisi tetap stabil.

Pengelola Tanjoeng Farm Nahrawi, mengatakan kualitas rasa menjadi salah satu fokus utama dalam budidaya melon premium tersebut.

“Kami menjaga nutrisi dan pola tanam supaya tingkat kemanisannya stabil. Alhamdulillah bisa sampai 14 brix,” kata Nahrawi, Sabtu (16/5/2026).

Greenhouse berukuran 16 x 32 meter itu mampu menampung sekitar 1.400 tanaman melon.
Penanaman pertama dimulai pada April 2025 dan panen perdana dilakukan pada Juli 2025 dengan hasil sekitar 2,2 ton.

Menurut Nahrawi, melon hasil panen pertama hingga ketiga dipasarkan melalui konsep wisata petik buah yang dipromosikan lewat media sosial seperti TikTok dan YouTube.

“Untuk harga Rp 30.000 per kilogram. Panen pertama habis dalam dua hari,” ujar pria yang sekaligus Ketua Poktan Tunas Harapan Desa Karanganyar itu.

Melon grade A memiliki berat 1,5 hingga 2 kilogram dan menjadi kategori paling diminati pasar modern.

Sementara grade B memiliki ukuran di bawah 1,5 kilogram atau di atas 2 kilogram. Adapun grade C merupakan buah dengan bentuk tidak simetris.

Memasuki panen keempat awal 2026, Tanjoeng Farm mulai menggandeng Sunpride untuk mendistribusikan buah ke gudang buah nasional.

Sekitar 80 persen hasil panen kini dipasarkan ke distributor buah, sedangkan sisanya digunakan untuk wisata petik dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Nahrawi mengatakan budidaya melon premium di wilayah pesisir sempat diragukan banyak pihak karena karakter tanah dekat laut dianggap kurang cocok untuk hortikultura modern.

Karena itu, ia bersama tim dari Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) sempat belajar ke sejumlah daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Sidoarjo, Jombang hingga Pandaan Pasuruan untuk mencari teknologi pertanian yang sesuai.

“Awalnya memang banyak yang ragu. Tapi kami mencoba membuktikan kalau wilayah pesisir juga bisa menghasilkan melon premium,” ujarnya.

Selain menjadi sentra produksi buah premium, kawasan Tanjoeng Farm kini juga menjadi lokasi pembelajaran pertanian modern bagi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Nurul Jadid (UNUJA) serta tujuan outing class sejumlah sekolah di Kabupaten Probolinggo. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.