Urunan Agustusan Londo Ireng

9

“Sound Horeg tetap boleh, tapi pakai sound system jamiyyah tahlilan dimuat becak atau Tossa. Dan yang joget, kalian para remaja laki-laki, tapi tak pakai minum ciu.”

Oleh : AbdurRozaq

Sial benar nasib Mahmud Wicaksono. Meski buyutnya pejuang Hizbullah, mbahnya Laskar Anshar, bahkan konon ia masih trah Mbah Sakerah, ia seakan hidup di era penjajah Nipon. Apa saja dari hidupnya selalu dipajaki, dipalaki, sedangkan ia sama sekali tak mendapat bansos. Lebih sakit hati lagi, ia tak bisa njotosi para maling uang negara seperti njotosi begal tempo hari. Di Youtube, ia tahu di negara lain sana orang lemah seperti dirinya, dibantu negara. Lha di sini, mulai negara hingga RT/RW, malah memalaki dirinya sepanjang tahun. Ia negara apa preman, sih? Batin Mahmud Wicaksono.

Maka, rapat agustusan kali ini pun, Mahmud Wicaksono kembali ngamuk. Lurah, pegawai kelurahan hingga Ketua RT dan Ketua RW, sebenarnya sudah mewanta-wanti agar Mahmud Wicaksono tidak ngamuk-ngamuk. Tapi karena diprovokasi dengan –sekali lagi—urunan agustusan yang besarnya naudzu billah min dzalik, tukang cukur sarjana itu akhirnya ngamuk juga.

“Saya sudah berkali-kali berpesan kepada Pak RT dan Pak RW, agar mempertimbangkan masyarakat. Jangan terlalu memaksakan peringatan agustusan, jangan menarik iuran terlalu besar. Banyak warga yang wadul pada saya karena terlalu banyak iuran. Lha kok sekarang setiap warga dipaksa iuran seratus ribu,” ujar Mahmud Wicaksono.

“Mas, ini kan wujud kecintaan kita pada negara? Apalagi setahun sekali, itupun hanya seratus ribu,” ujar Pak Lurah mencari perkara.

“Ngapunten, Pak Lurah. Soal cinta kepada negara, kaum jelata seperti kami sudah melakukannya sepanjang tahun. Kami membayar PBB, pajak kendaraan, pajak penghasilan, pajak bernafas, pajak berkedip, bahkan buang air di kamar mandi sendiri pun harus bayar. Kami sudah patuh untuk tidak membikin sepiteng sendiri, karena tinja kami dikelola negara,” Mahmud Wicaksono berhenti untuk menyeruput kopinya.

“Mohon izin Pak Lurah, seperti yang njenengan tahu, hampir tiap hari kami ditarik iuran ini-itu. Ada iuran buang sampah, iuran perawatan makam, iuran pengajian, iuran rebutan maulidan, iuran tahlilan, iuran perawatan mesjid, iuran kematian, ditarik nasi bungkus untuk pengajian di luar kecamatan, membeli kalender pesantren antah berantah, iuran sanitasi, iuran beli bola lampu jalan yang sering dicuri orang. Dipaksa ikut ziarah, dan kalau tidak ikut harus membayar separuh. Kami sampai puyeng harus mengirit uang jajan anak-anak, pak.”

“Ya, hidup bermasyarakat memang begitu, mas. Banyak iuran yang harus kita keluarkan. Makanya kita harus bekerja keras untuk memenuhi itu semua. Kita tidak boleh malas, memang,” ujar Pak Lurah semakin memancing Mahmud Wicaksono.

“Bicara soal kerja keras, sepertinya kami sudah sedikit layak menjadi contoh, pak. Cak Sueb, buka warung hampir dua puluh empat jam. Kalau njenengan ngopi santai, saya ngopi sambil menjaga lapak cukur rambut. Kalau dini hari njenengan sudah bertahajjud, saya masih menulis artikel, mengkonsep konten Youtube, atau baru selesai membuat video. Wak Takrip, tengah malam harus bangun memberi makan wedus-wedusnya. Saya kira, kami bukan pemalas, pak.”

“Begini mas,” ujar Bapak Aparat mencoba menengahi. “Agustusan ini kan pesta rakyat? Apa salahnya kalau kita rayakan lebih meriah. Itung-itung berterima kasih kepada para pejuang.”

“Lha kalau memang ini pesta rakyat, seharusnya rakyat tidak dibebani dengan iuran yang terlalu besar lho, pak. Kalau bicara soal berterima kasih kepada para pejuang, ya bahagiakan hati para pejuang dengan tidak membebani rakyat. Tujuan mbah-mbah pejuang kan membebaskan kita dari penjajahan. Lha kok kita memaksa mengadakan pesta agustusan ala londo ireng,” Bapak Aparat mati kutu mendengar ucapan Mahmud Wicaksono.

“Satu lagi saya usul. Ini usul buat kaum muda,” sambung Mahmud Wicaksono seraya menggasak rokok Pak Lurah.

“Saya tidak setuju warga dipaksa iuran untuk menyewa sound horeg! Saya juga mengulitimatum, jangan sampai warga yang tidak ikut iuran sound horeg dikucilkan, disindir apalagi dimusuhi. Hobi mahal kalian menyewa sound horeg, tidak harus ditanggung oleh warga yang tidak suka sound horeg. Okelah kegiatan berisik itu hobi kalian. Tapi kami yang sudah tua, juga punya hobi untuk hidup tenang,”

“Sepakat!!!” entah siapa berteriak di belakang sana.

“Tapi tidak meriah kalau pawai tanpa sound horeg, mas!” Sanggah Ketua Pemuda.

“Dulu tahun 1990 an, pawai agustusan jauh lebih meriah tanpa sound horeg. Coba kalian bikin karnaval bertema kesenian daerah, teaterikal perang melawan penjajah, bikin karnaval berkostum lucu, bikin karnaval teatrikal koruptor dijotosi sepanjang jalan, bikin karnaval pakai kostum anime game online atau apalah. Masa kalian rela, istri, adik atau ibu kalian joget geyal-geyol memamerkan tobrut sepanjag jalan. Mana ahlak kita kepada para pejuang?” Seorang pemuda tiba-tiba berdiri seraya menuding-nuding Mahmud Wicaksono.

“Mas, tolong dijaga kalau bicara!”

“Oke, saya minta maaf! Tapi apa kamu rela istri atau adik perempuanmu pamer paha sambil joget-joget sepanjang jalan?” Pemuda itu hendak meninju Mahmud Wicaksono, namun segera dipiting entah oleh siapa.

“Hop! Sabar! Sabar!” lerai Pak Lurah. “Usulan Mas Mahmud Wicaksono ini memang pedes, tapi saya pikir ada benarnya,” lanjut Pak Lurah.

“Sepakat, Pak Lurah,” teriak Wak Takrip.

“Begini saja,” sanggah Cak Sueb. “Sound Horeg tetap boleh, tapi pakai sound system jamiyyah tahlilan dimuat becak atau Tossa. Dan yang joget, kalian para remaja laki-laki, tapi tak pakai minum ciu.”

“Dan agar agustusan kali ini tidak ada unsur Londo Ireng yang suka memaksakan kehendak kepada sesama pribumi, iuran tidak boleh malak. Sekhlasnya saja demi efisensi,” ujar Mahmud Wicaksono lantang.

“Kegiatan agustusan juga harus berisi barikan dan tahlilan kepada para syuhada’, nyekar ke makam para pahlawan, bersih-bersih sungai, lomba membaca puisi kemerdekaan atau lomba bikin robot sederhana. Awas kalau ada pemuda yang tak terima, akan saya laporkan akun judol kalian!”

Pak Lurah nampak manggut-manggut, para pemuda nampak sibuk menghapus akun judol di HP masing-masing.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.