Pasuruan Dihantui Bencana Hidrometeorologi : Musim Hujan Kebanjiran, Musim Kemarau Kekeringan

10

Pasuruan (WartaBromo.com) – Warga Kabupaten Pasuruan seolah tidak pernah lepas dari ancaman bencana hidrometeorologi. Saat musim hujan tiba, sejumlah wilayah dilanda banjir. Sementara ketika musim kemarau datang, warga harus menghadapi persoalan kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih.

Kondisi tersebut menjadi persoalan yang terus berulang setiap tahun dan berdampak terhadap aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat.

Saat musim hujan, bencana banjir seolah menjadi langganan bagi sejumlah wilayah di Pasuruan. Salah satu kejadian banjir cukup besar yang pernah dicatat Wartabromo, pada Sesala (24/3/2026) setidaknya ada 33 desa di 9 kecamatan yang terendam banjir dan menyebabkan ratusan KK turut terendam.

Akibat kejadian tersebut sejumlah warga sampai tidak bisa memasak karena peralatan dapur terendam banjir dan mengandalkan bantuan makanan yang dikirim pemerintah.

Berdasarkan data rilis resmi Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur mencatat bencana hidrometeorologi yang terjadi di Jatim sejak November 2025 hingga Maret 2026 tercatat 285 kejadian banjir.

Dari data tersebut, Kabupaten Pasuruan berdasarkan diurutan pertama dengan total 37 kejadian banjir.

Bahkan selain banjir, Pasuruan juga tercatat sebagai daerah yang rawan longsor. Dari total 450 kejadian banjir di Jawa Timur, Kabupaten Pasuruan menyumbang sebanyak 36 kejadian, menempatkan sebagai posisi keempat daerah rawan banjir.

Direktur Eksekutif WALHI Jatim Pradipta Indra, menegaskan bahwa rentetan bencana ini tidak bisa lagi hanya dituduhkan kepada faktor cuaca semata. Data lapangan menunjukkan adanya kerusakan lanskap alam yang sudah melampaui ambang batas daya dukung lingkungan.

“Temuan kami menegaskan, ini bukan tentang cuaca ekstrem semata, tetapi data tersebut menunjukkan bahwa lanskap yang sudah tidak mampu lagi menahan tekanan apapun, dan dalam kondisi lanskap yang sudah rusak, bahkan hujan normal pun dapat memicu bencana masif,” ujarnya dalam siaran pers tertulis yang dirilis di Surabaya pada (18/6/2026) lalu, sebagaimana dikutip dari artikel WartaBromo sebelumnya.

la menjelaskan, daerah yang terdampak bencana umumnya memiliki tingkat deforestasi tinggi. Hilangnya vegetasi menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyerap air sehingga meningkatkan aliran permukaan yang memicu banjir bandang maupun tanah longsor.

“Ini membuktikan bahwa penggundulan hutan bekerja sebagai pelipat ganda dampak buruk. Sistem alam yang rusak tidak lagi mampu menahan gempuran cuaca ekstrem. Tanpa vegetasi, tanah kehilangan kemampuan menyerapnya, dan air langsung mengalir dalam bentuk flashy flow yang memicu banjir bandang dan tanah longsor,” jelas Indra.

Pada saat musim hujan berganti musim kemarau, masyarakat menjadi resah dan kebingungan untuk mendapatkan akses air bersih.

Saat musim kemarau sejumlah daerah mendadak mengalami kekeringan cukup ekstrim, bahkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari masyarakatpun sulit didapatkan. Sejumlah mata air diberbagai desa menjadi mati.

Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dalam pemenuhan air bersih masih bergantung pada kiriman bantuan air melalui tangki air.

Pada Kamis (17/9/2026) BPBD Kabupaten Pasuruan mencatat setidaknya ada sepuluh desa diempat kecamatan yang mengalami kekeringan ekstrim dan membutuhkan suplai air bersih setiap hari.

“Setiap hari setidaknya butuh 18 tangki air untuk didistribusikan kepapa masyarakat di sepuluh desa tersebut,” kata Sugeng.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan air di Kabupaten Pasuruan masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Ketika musim hujan, masyarakat menghadapi ancaman banjir dan longsor. Sebaliknya, saat musim kemarau, warga harus berjuang mendapatkan air bersih.

Situasi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk mencari solusi jangka panjang, mulai dari pengelolaan lingkungan, pemulihan kawasan resapan air, hingga penguatan sistem pengendalian banjir dan penyediaan air bersih bagi masyarakat.

Penanganan bencana tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Upaya pencegahan dan perbaikan kondisi lingkungan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko bencana yang terus berulang setiap tahun. (Fir)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.