Kraksaan (WartaBromo.com) — Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS RA) Pimpinan Cabang GP Ansor Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menyiapkan Dirosah Ula sebagai bagian dari penguatan kaderisasi. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 itu, juga membuka ruang keterlibatan bagi kalangan pesantren.
Langkah tersebut menunjukkan upaya MDS RA menghubungkan kegiatan keagamaan dengan pembinaan kader. Tradisi dzikir dan sholawat tetap menjadi bagian utama, sementara forum pembelajaran dan komunikasi organisasi diperluas.
Ketua PC MDS Rijalul Ansor Kraksaan, Gus Ahmad Yasin Fawaid, mengatakan kegiatan rutin MDS RA tidak hanya dimaknai sebagai agenda keagamaan. Pertemuan kader juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan memperkuat karakter dalam menjalankan aktivitas organisasi.
“Rutinan menjadi ruang untuk menjaga tradisi dzikir dan sholawat sekaligus mempererat silaturahmi. Dari sini kami ingin spiritualitas kader tetap menjadi bagian dari perjalanan organisasi,” ujar Gus Fawaid saat rutinan MDS RA di Pondok Pesantren Miftahul Hasan, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Jumat (18/9/2026) malam.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti kajian kitab, dzikir, dan sholawat bersama. Forum kemudian dilanjutkan dengan pembahasan sejumlah agenda organisasi, termasuk persiapan pengukuhan bidang, Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab), dan Dirosah Ula.
Sekretaris PC GP Ansor Kraksaan, Abd Wahid, mengatakan Dirosah Ula yang akan digelar pada Oktober mendatang diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus memperluas komunikasi antara MDS RA dan kalangan pesantren.
“Dirosah Ula kami siapkan sebagai ruang pembelajaran sekaligus perjumpaan. Kami berharap para Gus dan pengasuh muda pesantren dapat ikut mengambil bagian dalam khidmah bersama Ansor,” kata Wahid.
Dirosah Ula tersebut diproyeksikan diikuti sekitar 100 peserta. Mereka berasal dari pengurus MDS RA Cabang Kraksaan, anggota MDS RA dari PAC se-Cabang Kraksaan, pengasuh muda pesantren di wilayah Cabang Kraksaan, serta pengurus MDS RA dari luar Cabang Kraksaan.
Menurut Wahid, keterlibatan kalangan pesantren diharapkan tidak berhenti pada keikutsertaan dalam satu kegiatan. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi pintu untuk membangun komunikasi dan sinergi yang lebih berkelanjutan.
“Yang ingin kami bangun adalah komunikasi yang lebih dekat antara kader Ansor dan kalangan pesantren. Dari perjumpaan itu diharapkan muncul ruang-ruang khidmah yang bisa dikerjakan bersama,” ujarnya.
Bagi MDS RA Kraksaan, penguatan kaderisasi tidak dilepaskan dari tradisi keagamaan yang selama ini menjadi identitas organisasi.
Kegiatan rutin menjadi ruang untuk menjaga kesinambungan dzikir dan sholawat sekaligus mempertemukan kader dalam suasana kebersamaan.
Di sisi lain, pembahasan agenda organisasi dan rencana Dirosah Ula memberikan ruang bagi kader untuk mengembangkan kapasitasnya.
Gus Fawaid berharap MDS RA dapat terus menjadi wadah yang mempertemukan aspek spiritual dengan pengabdian organisasi.
“Harapannya, tradisi keagamaan tetap hidup dan pada saat yang sama kader memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, serta memperkuat pengabdian kepada masyarakat dan organisasi,” katanya.
Melalui pola tersebut, MDS Rijalul Ansor Kraksaan menempatkan kegiatan keagamaan dan kaderisasi dalam satu rangkaian. Tradisi yang dirawat melalui dzikir dan sholawat diharapkan berjalan beriringan dengan proses pembelajaran dan penguatan jejaring pesantren. (fat/saw)






















