Kadipaten Punjer Jawa Kok Mau Hilang Cerita?

14

“Benar. Kota santri sekaligus kota begal,”

Oleh : Abdulrozaq

Seraya ngopi di lapak UMKM di sekitar acara pesta rakyat hari jadi kadipaten, Cak Paijo LSM nyeletuk

“Ngomong-ngomong, kesenian asli kadipaten kita ini apa ya?”

“Sound horeg, cak,” ujar Mahmud Wicaksono cengengesan.

“Ngawur,” timpal Cak Manap.

“Sound horeg itu bukan kesenian. Lha wong musiknya sulit didengar, filosofinya juga belum ditemukan,” timpal Cak Paijo LSM. “Itupun, sepertinya berasal dari daerah Singhasari, bekas wilayah Ken Arok,” sambungnya.

“Iya ya? Apa ya kesenian asli kadipaten kita ini?”

“Konon, dulu ada kesenian terbang bandung. Mbahku pernah cerita begitu,” kata Mahmud Wicaksono mengingat-ingat.

“Kita ini kok melas, ya? Padahal kadipaten kita tak seberapa jauh dari kotaraja Majapahit, tapi kok tak tercatat di Negara Kertagama atau kitab lainnya. Apa leluhur kita dulu tak ada yang hebat? Tak ada seniman yang terkenal? Banyuwangi yang jauh di ujung pulau saja, banyak tokoh-tokohnya yang tercatat dalam Negara Kertagama. Bahkan, mereka punya beberapa kesenian tradisional. Tari Gandrung, misalnya,” gumam Mahmud Wicaksono.

“Hus! Gak ilok menyepelekan kadipaten kita sendiri. Elek-elek o ya, kita punya Mbah Sakerah, Mbah Arif, Mbah Semendi, Mbah Slagah dan Mbah Hamid,” celetuk Gus Karimun tiba-tiba nyeletuk.

“Jadi benar kalau kadipaten kita ini kota santri ya, gus?” Tanya Cak Manap.

“Benar. Kota santri sekaligus kota begal,” malah Cak Paijo LSM yang menjawab.

“Hus, gak ilok, cak,” lerai Gus Karimun.

“Tapi memang melas, lho gus,” kata Mahmud Wicaksono. “Catatan kadipaten kita hanya terlacak saat Mbah Untung Surapati membelot ke Mataram, saat disuruh VOC memerangi saudaranya sendiri…..”

“Ya sampeyan saja yang kurang detail membacanya. Kadipaten kita itu sudah dicatat sejarah sejak era Mpu Sindok. Kadipaten kita ini, sebenarnya sudah berdiri tak lama dari era Kalingga. Pusatnya ada di daerah Gempol,” jelas Gus Karimun seraya tersenyum penuh arti.

“Lha kok tidak ada sosialisasi? Kok tidak ada bukunya, tidak diajarkan kepada anak-anak di sekolah?”

“Lha itu PR kita,” jawab Gus Karimun seraya menyeret sepiring gorengan, agar para sahabatnya itu menghabiskannya dan pemilik warung dadakan gembira.

“Soal tak tercatat dalam sejarah, tak perlu terlalu dirisaukan. Dan jangan membuat kita berkecil hati. Sejarah itu ditulis oleh pemenang, jadi seringkali tendensius. Lagi pula buat apa tercatat dalam sejarah, tapi sebagai antagonis? Hitler juga tercatat dalam sejarah, tapi anak cucunya pasti malu setiap kali membaca buku sejarah.”

“Tapi saya malu kalau melihat indeks pendidikan kita, gus. Sepertinya kita belum punya lembaga pendidikan yang bisa dibanggakan. Daha atau Kadiri punya kampung Inggris. Singhasari punya banyak kampus bagus dan tokoh nasional. Jombang apalagi. Ada Mbah Hasyim Asyari hingga Cak Nun. Lha kita, yang banyak sih legenda begal yang kebal bacok dan suka bawa bondet,” ujar Mahmud Wicaksono.

“Lain wilayah, lain potensinya kan, mas? Kita ini basis pesantren dan para wali. Pesantren Sidogiri di sini, pesantren Besuk, Salafiyah, Podokaton. Bahkan tak jarang, satu desa ada beberapa pesantren sekaligus.”

“Dan rebutan santri!” Potong Cak Paijo LSM.

“Gak ilok, cak. Kalau segala hal hanya kita cari sisi buruknya, tak ada hal baik di dunia ini,” kata Gus Karimun.

“Kita mungkin tak punya kampus taraf nasional, tapi alhamdulillah penganut atheis, agnostik, satanisme dan komunitas LGBT tidak terang-terangan. Ibarat paku bumi, kita ini punjernya Jawa dalam hal spiritual. Ada goro-goro dan bencana apapun, alhamdulillah seakan kita terhindar. Kemajuan kan bukan hanya dalam bidang kebebasan berpikir sampai menjadi atheis atau sekuler radikal? Wong orang Eropa ramai-ramai mencari jalan spiritual, kita kok malah ketinggalan zaman, baru mau masuk atheisme dan sekularisme.” Gus Karimun tertawa lepas.

“Okelah, anggap masyarakat kita minim literasi buku-buku kiri seperti Madilog dan Ecce Homo, tapi santri-santri di pesantren reyot di kadipaten kita ini, akrab membaca buku karya filsuf kelas dunia seperti Ihya Ulumuddin, Alhikam bahkan karya Ibnu Khaldun.”

“Mas Mahmud Wicaksono sendiri, elek-elek o ya juga penulis. Cerpennya pernah diapresiasi KH Ahmad Tohari, penulis novel Roggeng Dukuh Paruk itu. Tongkrongannya Sosiawan Leak, Gus Mus, KH. Agus Sunyoto, Wina Bojonegoro..”

“Heleh, gus. Tukang cukur kok dialem,” protes Cak Paijo LSM.

“Malah ini uniknya. Kadipaten Cak Manap ini sudah lebih maju, lho. Tukang cukurnya saja merangkap penulis, konten kreator dan sarjana. Hanya saja karena budaya di negara Cak Manap ini kurang menghargai pemikir, jadinya Mas Mahmud Wicaksono kalah pamor sama dancer sound horeg.”

“Tapi masih ada lagi kekurangan kadipaten kita, gus?” celetuk Cak Paijo LSM.

“Apa, cak?”

“Sound horeg dianggap seni, bahkan ada yang menganggapnya sekte. Salah satu indikasi kota maju itu kan, meminimalisir gangguan terhadap ketenteraman orang lain.”

“Lha ya itu. Ini siapa sebenarnya yang layak dipaiduh. Lha wong yang suka juga banyak, meski awal mula fatwa penertiban sound horeg juga berasal dari kadipaten kita ini.”

“Berarti masyarakat kita belum maju, dong, gus.”

“Halah mbuh kalau soal itu.”

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.