Dari TikTok hingga Jadi Keluarga, Cerita Ibu-Ibu Pasuruan yang Disatukan Cinta Bollywood

6

Laporan: Akhmad Romadoni

Bagi sebagian orang, lagu-lagu Bollywood mungkin hanya menjadi kenangan masa kecil. Namun, bagi puluhan perempuan di Pasuruan, musik India masih menjadi bagian dari keseharian. Bahkan, kecintaan itu membawa mereka bertemu, belajar menari bersama, hingga membangun ikatan layaknya keluarga.

Di tengah tren hiburan yang terus berganti, mereka tetap setia mengikuti irama lagu-lagu India. Gerakan tangan, langkah kaki, hingga ekspresi khas tarian Bollywood menjadi cara mereka menikmati hobi sekaligus melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Tim liputan wartabromo berkesempatan mengunjungi komunitas Bollywood yang ada di Jalan Sunan Ampel, Kota Pasuruan.

Mereka tergabung dalam Apsara, Pecinta Bollywood Pasuruan. Komunitas ini menjadi ruang bagi para penggemar Bollywood untuk menyalurkan kecintaan yang selama ini mungkin hanya bisa dinikmati sendiri di rumah.

Bagi Alifianti, yang lebih dikenal dengan nama panggung Tephin, membentuk komunitas ini berawal dari keinginan sederhana: mengumpulkan orang-orang yang memiliki kegemaran serupa.

Sebelum Apsara terbentuk, Tephin sudah rutin membuat konten dan melakukan siaran langsung di media sosial. Ketika TikTok semakin populer, jangkauan penontonnya meluas. Dari sana, ia mulai mengenal banyak orang yang ternyata sama-sama menyukai musik dan tarian Bollywood.

Awalnya, komunikasi hanya berlangsung melalui grup WhatsApp. Anggotanya berasal dari berbagai wilayah di Pasuruan, termasuk Pandaan dan daerah sekitarnya. Keinginan untuk bertemu langsung kemudian mendorong mereka membentuk komunitas.

“Cita-cita saya tuh pengen ngumpulin pencinta-pencinta Bollywood di Pasuruan,” ujar Tephin.

Keinginan itu akhirnya terwujud setelah seorang temannya bersedia meminjamkan tempat untuk berkumpul dan berlatih. Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah Apsara mulai tumbuh.

Nama Apsara sendiri diambil dari bahasa Sanskerta yang merujuk pada sosok bidadari atau penari kahyangan. Nama tersebut terasa selaras dengan aktivitas mereka yang menjadikan tarian sebagai pengikat kebersamaan.

Kini, grup WhatsApp Apsara dihuni sekitar 40 orang. Namun, anggota yang rutin mengikuti kegiatan berkisar 20 orang. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga dan perempuan yang bekerja, sehingga jadwal latihan harus menyesuaikan kesibukan masing-masing.

“Senanglah, karena memang kayak untuk mencari teman-teman pecinta Bollywood itu kan susah. Terus ternyata setelah saya coba untuk bentuk Apsara ini, kok ternyata banyak yang minat,” kata Tephin.

Bagi Tephin, kebahagiaan itu bukan semata karena semakin banyak orang yang mengikuti kelas tari. Ia juga merasa bisa menemani mereka yang sebelumnya hanya menikmati Bollywood seorang diri.

“Mereka yang biasanya sendiri di rumah, pulang kerja, capek, ke sini,” tuturnya.

Kecintaan Tephin terhadap Bollywood ternyata tumbuh sejak kecil. Saat duduk di kelas III sekolah dasar, sang ayah membelikannya film India Kuch Kuch Hota Hai. Sejak itu, lagu-lagu dan film Bollywood menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Sampai sekarang, ia masih menikmati karya para aktor dan aktris India, mulai dari Shah Rukh Khan, Salman Khan, Aamir Khan, hingga Kajol dan Rani Mukerji.

Baginya, Bollywood bukan sekadar tontonan. Musiknya memiliki daya tersendiri untuk membangkitkan suasana hati.

“Musik Bollywood tuh auranya kayak bahagia. Kayak bisa membangun mood tiap hari. Kalau misalnya nggak dengarin lagu Bollywood tuh kayak kurang,” ungkapnya.

Kecintaan serupa juga dimiliki para anggota Apsara. Ada yang telah menyukai film India sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ada pula yang selama bertahun-tahun hanya bisa menonton video musik, mengikuti gerakannya sendiri, atau berandai-andai menari bersama orang lain.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika mereka mengetahui keberadaan komunitas.

Salah satunya Rida, perempuan berusia 44 tahun yang tinggal di Pandaan. Ia rela menempuh perjalanan menuju tempat latihan karena ingin menyalurkan kegemarannya yang sudah tumbuh sejak kecil.

Rida mengetahui Apsara melalui TikTok. Ia kemudian menghubungi Tephin dan menyampaikan keinginannya untuk berkumpul bersama sesama pencinta Bollywood.

“Dulu cuma lihat di TV, mungkin cuman lihat nari-narinya terus ngikut-ngikut. Terus ternyata ada Apsara kayak gini kan jadi hobi kita tersalurkan,” kata Rida.

Bagi Rida, bergabung dengan komunitas membuat hari-harinya terasa lebih menyenangkan. Ia tak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi juga bisa ikut menari, belajar gerakan baru, dan berbagi kegembiraan bersama teman-teman.

Bahkan, kegemarannya itu perlahan menular kepada sang suami. Rida bercerita, dahulu suaminya sempat merasa jengkel karena ia hampir setiap hari menonton lagu-lagu India melalui VCD dan DVD. Kini, sang suami justru mulai ikut menikmati kegemaran tersebut.

Cerita Rida menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Bollywood tak selalu berhenti pada diri sendiri. Hobi yang semula dinikmati sendirian bisa berkembang menjadi aktivitas bersama, bahkan melibatkan keluarga.

Hal menarik dari Apsara bukan hanya soal kemampuan menghafal koreografi atau mengikuti gerakan para bintang film India. Di balik tawa selama latihan, tumbuh kedekatan yang membuat para anggotanya merasa memiliki tempat untuk sejenak melepas penat dari kesibukan.

Asih Kinasih, anggota Apsara lainnya, mengaku sejak kecil sudah menyukai Bollywood. Namun, kegemaran itu lebih sering ia nikmati sendiri karena tidak semua orang di sekitarnya memiliki minat yang sama.

Kehadiran Apsara membuatnya menemukan teman dengan kesukaan serupa.

“Joget-joget sendiri, makanya ada Apsara ini kayak wah ada temannya,” ujar Asih Kinasih.

Kedekatan mereka juga terlihat ketika salah satu anggota menghadapi situasi sulit. Rida menceritakan pengalamannya saat tak bisa mengikuti kegiatan komunitas ke Surabaya karena suaminya mengalami insiden jatuh.

Ketika anggota lain mengetahui Rida tidak ikut berangkat, mereka sempat menghubunginya. Bahkan, setelah acara selesai, sejumlah anggota menyempatkan diri mendatangi rumah Rida pada malam hari.

Bagi Rida, perhatian tersebut menjadi bukti bahwa hubungan mereka tak sebatas teman latihan.

“Serasa seperti keluarga aja. Seneng, pastinya seneng,” katanya.

Ikatan itu pula yang membuat para anggota merasa nyaman. Ada yang awalnya malu-malu ketika datang, hanya berani berdiri di pinggir ruangan. Namun, seiring waktu, rasa canggung itu mencair.

Latihan yang semestinya menjadi waktu untuk menghafal gerakan sering kali justru dipenuhi gelak tawa. Ada anggota yang tiba-tiba bernyanyi, ada yang bertingkah lucu, bahkan sesekali pengajar sendiri lupa dengan koreografi yang hendak diajarkan.

Bagi mereka, hal-hal sederhana itulah yang membuat pertemuan selalu dinantikan.

“Kalau sudah sampai sini, sedihnya ambyar sudah,” kata Rida sambil tertawa, menggambarkan suasana ketika mereka berkumpul.

Untuk urusan tarian, anggota Apsara belajar dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing. Mereka mempelajari gerakan dari video musik maupun konten yang beredar di media sosial, kemudian mengadaptasinya agar lebih mudah diikuti.

Kostum khas India juga bukan syarat untuk bergabung. Tephin mengatakan, anggota boleh datang dengan pakaian biasa. Seiring waktu, sebagian anggota mulai mengoleksi atau membuat sendiri busana Bollywood untuk dikenakan saat latihan maupun tampil di acara tertentu.

Aktivitas mereka pun tak terbatas di ruang latihan. Apsara pernah tampil di panggung pembukaan Muktamar di Jombang. Mereka juga mengadakan kegiatan di luar ruangan, seperti berkemah di Trawas dan berkunjung ke kebun raya.

Anggota Apsara juga pernah menghadiri acara komunitas Bollywood di Surabaya yang diselenggarakan Komunitas Bollywood Indonesia. Berbagai kegiatan tersebut membuat mereka bisa memperluas pertemanan sekaligus mengenal sesama penggemar Bollywood dari daerah lain.

Meski demikian, mempertahankan kecintaan terhadap Bollywood di tengah perubahan tren menjadi tantangan tersendiri. Tephin menyadari, anggota komunitasnya saat ini masih didominasi kalangan ibu-ibu, sedangkan anak muda belum banyak yang bergabung.

Ia berupaya mengikuti tren koreografi yang sedang populer dan menyisipkan unsur Bollywood agar tetap menarik bagi generasi yang lebih muda.

Baginya, kecintaan terhadap musik India perlu terus dikenalkan, termasuk kepada anak-anak sejak dini.

Di tengah kesibukan rumah tangga dan pekerjaan, Apsara menjadi pengingat bahwa perempuan tetap bisa menyediakan waktu untuk dirinya sendiri. Menari bukan sekadar menggerakkan tubuh mengikuti musik, tetapi juga menjadi ruang untuk bersenang-senang, membangun pertemanan, dan saling menguatkan.

Tephin berharap Apsara terus berkembang tanpa kehilangan kehangatan yang menjadi dasar terbentuknya komunitas tersebut.

“Semoga tetap solid, tetap menjaga kekeluargaan kita. Pokoknya di sini kita berangkat happy, pulang harus happy,” ujarnya.

Harapan serupa disampaikan Rida dan Asih Kinasih. Mereka ingin semakin banyak pencinta Bollywood bergabung, bukan sekadar datang karena penasaran, lalu menghilang.

Sebab, bagi mereka, kebahagiaan tak harus selalu dicari melalui sesuatu yang besar. Terkadang, cukup dengan mendengar lagu India, mengikuti gerakan tarian bersama, dan tertawa dengan teman-teman yang memiliki kegemaran sama. (don)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.