Probolinggo (WartaBromo.com) – Rata-rata wisatawan yang menginap di hotel Kabupaten Probolinggo hanya bertahan satu hari. Bupati Probolinggo Mohammad Haris atau Gus Haris ingin mengubah pola tersebut dengan menjadikan daerahnya sebagai hub tourism atau pusat perjalanan wisata menuju berbagai destinasi.
Gus Haris menilai Probolinggo tidak boleh hanya dikenal sebagai pintu menuju Gunung Bromo. Daerah ini perlu menawarkan rangkaian destinasi yang membuat wisatawan tertarik menginap lebih lama.
“Kalau Probolinggo ingin lama menginapnya meningkat, daerah ini harus menjadi hub,” kata Gus Haris, Rabu (28/10/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Probolinggo yang dirilis 5 Oktober 2026, rata-rata lama menginap tamu hotel pada Agustus tercatat 1,00 hari, baik untuk wisatawan nusantara maupun asing.
Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel pada periode yang sama sebesar 18,63 persen. Angka itu turun dari 21,11 persen pada Juli 2026, tetapi naik dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 16,11 persen.
TPK Kabupaten Probolinggo juga masih jauh di bawah rata-rata Jawa Timur yang mencapai 48,40 persen pada Agustus 2026.
Gus Haris mencontohkan Kota Malang yang menjadi basis menginap wisatawan untuk menjelajahi Gunung Bromo dan kawasan Batu. Wisatawan bisa kembali ke hotel setelah mengunjungi satu destinasi, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat lain pada hari berikutnya.
“Ke Bromo hari pertama, kembali ke Malang. Hari kedua ke Batu, lalu kembali lagi. Pola seperti itu yang ingin kita bangun di Probolinggo,” ujarnya.
Menurut dia, Kabupaten Probolinggo memiliki beragam potensi wisata alam. Namun, potensi tersebut perlu didukung akomodasi yang memadai dan akses antardestinasi agar wisatawan tidak hanya datang ke satu lokasi.
Salah satu tantangannya adalah persebaran hotel yang masih terkonsentrasi di kawasan Bromo. Sementara itu, Kraksaan sebagai pusat pemerintahan kabupaten dinilai masih membutuhkan tambahan fasilitas penginapan.
“Hotel kita banyak terkonsentrasi di Bromo. Kalau wisatawan sudah ke sana, belum tentu mereka melanjutkan perjalanan ke Kraksaan,” kata Gus Haris.
Gus Haris menyebut pembangunan hotel di Kraksaan telah memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking. Kehadiran hotel itu diharapkan mendukung pengembangan Kraksaan sebagai titik menginap sekaligus pusat perjalanan wisata.
Ia membayangkan wisatawan bisa mengunjungi danau dan air terjun pada hari pertama, menikmati pantai pada hari kedua, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bromo pada hari ketiga.
“Harapan kita, Probolinggo bisa menjadi hub tourism,” tegasnya.
Pengembangan konsep tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, pelaku usaha perhotelan, dan pengelola destinasi. Selain menambah akomodasi, konektivitas perjalanan dan promosi paket wisata juga menjadi faktor penting untuk mendorong wisatawan tinggal lebih lama.
Dengan pola perjalanan yang terhubung, kunjungan wisata diharapkan tidak hanya terkonsentrasi di Bromo, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi destinasi lain dan masyarakat Kabupaten Probolinggo. (fat/saw)




















