Bugul Kidul (WartaBromo.com) – Seorang balita berusia dua tahun ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di aliran Sungai Petung, Kelurahan Bakalan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Rabu (11/3/2026) siang. Korban diduga terjatuh ke sungai saat bermain di sekitar rumahnya.
Korban diketahui bernama Maulid Alfarizi (2 tahun 5 bulan), warga Jalan KH Hasyim Ashari RT 02 RW 04, Kelurahan Bakalan, Kecamatan Bugul Kidul.
Peristiwa ini pertama kali diketahui sekitar pukul 11.17 WIB ketika tubuh korban ditemukan mengambang di aliran sungai, tepatnya di sisi utara jembatan Sungai Petung.
Abdul Hamid (45), warga sekitar yang ikut mengevakuasi korban, mengatakan dirinya awalnya tidak menyadari bahwa yang mengapung di sungai adalah seorang anak kecil.
“Saya kaget waktu lihat ada sesuatu mengambang di sungai. Setelah saya dekati, ternyata balita. Kondisinya sudah mengambang telentang di air,” kata Hamid saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, warga kemudian segera mendekat untuk memastikan kondisi korban. Namun saat diangkat dari sungai, korban diketahui sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Sementara itu, Plt Kasi Humas Polres Pasuruan Kota Aipda Junaedi menjelaskan, peristiwa tersebut bermula ketika ibu korban menyadari anaknya tidak berada di dalam rumah sekitar pukul 10.00 WIB.
“Saat dicek, pintu belakang rumah dalam kondisi terbuka. Ibu korban kemudian berinisiatif mencari di sekitar rumah hingga menyusuri aliran Sungai Petung yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggal,” jelasnya.
Namun saat pencarian awal dilakukan, korban belum ditemukan. Hingga akhirnya sekitar pukul 11.17 WIB, salah satu keluarga yang berada di sekitar sungai melihat tubuh korban mengapung.
“Korban kemudian dievakuasi oleh warga bersama anggota Polsek Bugul Kidul dan dibawa ke RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan awal dan keterangan keluarga, polisi menduga balita tersebut terjatuh ke sungai saat bermain di sekitar rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Pihak keluarga juga telah menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah korban.
“Keluarga korban menerima kejadian ini sebagai kecelakaan dan tidak berkenan dilakukan autopsi,” pungkas Junaedi. (don)





















