Pasuruan (WartaBromo.com) – Ketupat memang sudah jadi “menu wajib” saat Idulfitri. Tapi di balik bentuknya yang sederhana dan anyaman janurnya yang rumit, tersimpan makna yang jauh lebih dalam tentang kehidupan, hati, dan hubungan antar manusia.
Mengacu pada jurnal Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa karya Sriyana dan Wiwik Suprapti, setiap bahan dalam ketupat ternyata punya filosofi tersendiri. Mulai dari janur, beras, hingga santan, semuanya menyimpan pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Berikut filosofinya:
1. Janur Kuning
Janur bukan sekadar pembungkus ketupat. Kata ini berasal dari bahasa Arab jâ’a nûr, yang berarti “datangnya cahaya”. Dalam pandangan orang Jawa, janur juga dimaknai sebagai sejane ning nur, yaitu usaha manusia untuk menuju cahaya Ilahi.
Warna kuning pada janur pun bukan tanpa arti. Ia melambangkan sabdo dadi, sesuatu yang lahir dari hati yang jernih. Karena itu, janur sering dimaknai sebagai simbol harapan bahwa setelah Ramadan, manusia kembali pada kondisi hati yang bersih, jujur, dan dekat dengan Tuhan.
2. Beras
Isi ketupat, yaitu beras, juga punya makna yang kuat. Dalam tradisi masyarakat, beras identik dengan kemakmuran dan kesejahteraan.
Tak heran, ketupat sering dimaknai sebagai doa agar setelah Lebaran, hidup menjadi lebih berkecukupan. Tapi bukan sekadar soal materi, beras juga melambangkan hasil dari hati yang sudah mampu menahan dan mengendalikan nafsu.
Artinya, kesejahteraan yang diharapkan bukan datang begitu saja, melainkan sebagai buah dari pengendalian diri.
3. Santan
Nah, yang tak kalah menarik adalah santan. Dalam bahasa Jawa, santan disebut “santen”, yang bunyinya mirip dengan kata “ngapunten” atau memohon maaf.
Makna ini terasa sangat relevan dengan suasana Lebaran. Ketika ketupat bersantan disajikan dan dinikmati bersama, itu bukan sekadar makan bersama tapi juga simbol bahwa pintu maaf telah dibuka.
Ketupat bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang makna. Ia mengajarkan tentang pentingnya membersihkan hati, menahan diri, dan saling memaafkan.
Itulah mengapa tradisi ini tetap bertahan hingga sekarang. Dari generasi ke generasi, ketupat terus hadir bukan hanya di meja makan, tapi juga dalam nilai-nilai yang dijaga bersama setelah Ramadan usai. (jun)





















