Hidup di Lubang dan Dirantai, Akhir Perjalanan Kelam Bambang di Tangan Ipda Purnomo

43

Lumbang (WartaBromo.com) – Seorang pria dengan gangguan kejiwaan di Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, harus menjalani kehidupan yang jauh dari kata layak. Selama bertahun-tahun, ia dipasung oleh keluarganya sendiri di tengah hutan, dalam kondisi yang memprihatinkan.

Pria bernama Bambang itu akhirnya dievakuasi dalam sebuah proses yang berlangsung dramatis. Evakuasi dipimpin oleh Ipda Purnomo, sosok polisi yang dikenal humanis. Upaya tersebut tidak berjalan mulus, lantaran sempat mendapat penolakan dari pihak keluarga.

Selama kurang lebih satu dekade terakhir, Bambang hidup tanpa busana di dalam sebuah lubang di kawasan hutan Dusun Sekarputih. Kedua kakinya dirantai menggunakan besi, lengkap dengan pemberat berupa ban bekas yang dicor semen.

Di sekelilingnya terdapat kubangan sedalam hampir dua meter, dengan diameter sekitar lima meter, seolah menjadi batas tak kasat mata yang mengurung ruang geraknya.

Penjabat Kepala Desa Boto, Syaiful, mengungkapkan bahwa lubang tersebut digali sendiri oleh Bambang dengan tangan kosong, dilakukan secara bertahap pada malam hari selama bertahun-tahun.

Syaiful yang baru menjabat sekitar satu setengah bulan itu juga menuturkan, kisah kelam Bambang bukan baru kali ini terjadi.

“Sebelumnya, ia pernah dipasung di wilayah Desa Bades, Kecamatan Kuripan, tempat tinggal ayahnya, selama sekitar 12 tahun, sebelum akhirnya berhasil melarikan diri,” jelas Syaiful, Selasa (31/3/2026).

Setelah itu, Bambang dibawa keluarganya ke Dusun Sekarputih, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah ibunya, Sumariyah. Di lokasi inilah ia kembali dipasung, jauh dari jangkauan masyarakat.

Menurut penuturan warga yang dihimpun pemerintah desa, Bambang dulunya dikenal sebagai pemuda normal. Perubahan mulai terjadi sekitar 23 tahun lalu, setelah ia mengalami perundungan dari teman-temannya. Ia kerap diejek karena tidak mampu memiliki sepeda motor yang diinginkannya, yakni RX-King.

Ayah Bambang yang bekerja sebagai sopir bus AKAS sebelumnya dikenal selalu menuruti permintaan anaknya. Namun ketika permintaan terakhir tak mampu dipenuhi, kondisi psikis Bambang perlahan berubah. Ia menjadi murung, menarik diri, hingga menunjukkan gejala gangguan kejiwaan.

Kondisi tragis yang dialami Bambang akhirnya terungkap setelah seorang kerabatnya yang bekerja di Bali pulang kampung saat momen Lebaran.

“Merasa iba, kerabat tersebut merekam kondisi Bambang dan mengirimkan video itu kepada Ipda Purnomo, dengan harapan ada tindakan penyelamatan,” lanjutnya.

Upaya evakuasi pun dilakukan, meski tidak mudah. Penolakan keras datang dari pihak keluarga, terutama sang ibu.

Selama ini, berbagai upaya pengobatan sebenarnya telah dilakukan pemerintah setempat, namun selalu kandas karena tidak mendapat persetujuan keluarga. Bambang bahkan sempat dibawa ke RSJ Lawang, tetapi kembali dipasung setelah kondisinya kambuh.

Melalui pendekatan persuasif dan humanis, akhirnya keluarga luluh. Bambang pun berhasil dibawa untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih layak.

“Saat ini, Bambang menjalani perawatan di RSJ Lawang, Malang. Setelah itu, ia direncanakan menjalani rehabilitasi di shelter Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur di Bangil. Seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh Pemkab Probolinggo,” tandas Syaiful.

Tak hanya itu, Ipda Purnomo juga menyatakan komitmennya untuk memastikan Bambang tetap mendapatkan perawatan, bahkan hingga pulih sepenuhnya. Ia juga siap membantu merawat Bambang apabila keluarga tidak lagi bersedia menerimanya kembali. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.