Jembatan Bailey di Lumbang Rampung, Akses Warga yang Terputus Sebulan Kembali Tersambung

13

Lumbang (WartaBromo.com) — Akses penghubung warga Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo yang sempat terputus selama lebih dari satu bulan akibat longsor, kini kembali terbuka. Jembatan bailey yang dibangun sebagai pengganti sementara, mulai diuji coba pada Selasa (5/5/2026).

Keberadaan jembatan darurat tersebut menjadi solusi sementara bagi warga yang selama ini mengalami kesulitan mobilitas setelah jembatan utama ambruk diterjang bencana hidrometeorologi pada akhir Maret lalu.

Komandan Korem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, menyebut bahwa pembangunan jembatan ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan infrastruktur dan ekonomi masyarakat.

“Dengan akses kembali terbuka, aktivitas warga dan distribusi hasil pertanian diharapkan kembali normal,” katanya saat meninjau lokasi.

Pantauan di lokasi, struktur jembatan modular telah tersambung di kedua sisi lengkap dengan lantai baja.

Sejumlah pengendara roda dua mulai melintas secara terbatas sembari menunggu hasil uji kelayakan konstruksi.

Komandan Yon Zipur 5/ABW Kepanjen Malang, Letkol Czi Wahyu Wuhono Widhi Nugroho, mengatakan jembatan yang dipasang merupakan tipe modular acropanel yang dirancang untuk kebutuhan darurat dan dapat dirakit dalam waktu relatif cepat.

“Jembatan ini merupakan tipe modular yang memang digunakan untuk penanganan akses darurat pascabencana. Materialnya baru dan proses pemasangannya melibatkan kolaborasi lintas satuan,” ujar Widhi.

Pembangunan jembatan dilakukan bersama personel Yonif TP 836/Brahma Yodha, Kodim 0820 Probolinggo, Koramil setempat, serta dukungan masyarakat sekitar.

Menurut Widhi, setelah proses pemasangan selesai, tim melakukan tahapan pengujian berupa uji beban statis, dinamis, dan uji defleksi guna memastikan keamanan struktur sebelum dioperasikan penuh.

Ia menjelaskan, secara teknis jembatan mampu menahan beban hingga sekitar 12 ton. Namun, untuk keamanan penggunaan harian, kendaraan yang melintas disarankan tidak melebihi 5 hingga 8 ton.

“Kami tetap menerapkan batas aman agar struktur jembatan tetap stabil selama digunakan,” katanya.

Selain pengujian teknis, pengecekan berkala juga akan dilakukan setiap tiga bulan untuk memastikan kondisi baut, sambungan, dan struktur utama tetap dalam kondisi baik.

Widhi mengakui proses pemasangan jembatan menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi tanah di area fondasi yang terus mengalami perubahan akibat longsor dan timbunan material.

“Kontur tanah di lokasi cukup menantang karena terjadi perubahan elevasi yang signifikan dibanding kondisi sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Probolinggo, Hengki Cahjo Saputra, menyebut jembatan bailey tersebut menjadi langkah percepatan pemulihan akses masyarakat sekaligus jalur menuju kawasan wisata Air Terjun Madakaripura.

“Alhamdulillah akses masyarakat mulai kembali terbuka. Ini hasil kolaborasi pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat,” kata Hengki.

Ia menambahkan, jembatan modular tersebut direncanakan digunakan sekitar satu tahun sambil menunggu pembangunan jembatan permanen yang akan diproses pada 2027.

Menurut Hengki, pemerintah daerah juga terus mengusulkan penanganan infrastruktur lain yang rusak akibat bencana ke pemerintah provinsi dan Kodam V/Brawijaya.

Sebelumnya, gorong-gorong di blok Duren, Desa Negororejo putus akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Lumbang pada 28 Maret 2026. Peristiwa itu sempat melumpuhkan akses transportasi warga dan aktivitas ekonomi antarwilayah. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.