Laporan : Akhmad Romadoni
Minggu malam di permukiman Sutojayan RT 06 TW 01, Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, sebenarnya berjalan seperti biasa. Sebagian warga mulai menutup pintu rumah, sebagian lain masih bercengkerama di teras sambil menikmati udara malam.
Namun, sekitar pukul 21.10 WIB, suara lirih dari sebuah sumur tua justru mengubah suasana kampung menjadi penuh rasa penasaran sekaligus haru.
Suara itu bukan suara manusia meminta tolong. Melainkan suara seekor kucing liar yang terjebak di dasar sumur sempit dan rapuh.
Sudah sejak Sabtu sore, warga mendengar suara mengeong dari sekitar lokasi sumur. Namun kala itu, tak ada yang benar-benar mengetahui dari mana asal suara tersebut. Ada yang mengira hanya suara kucing yang berkeliaran di atap rumah atau sela-sela gang kampung.
“Awalnya dikira biasa saja. Suaranya samar,” ujar Mohammad Fadori, warga yang kemudian melaporkan kejadian tersebut.
Malam berganti pagi, dan Minggu sore suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Rasa penasaran warga mulai tumbuh. Beberapa orang kemudian mencoba mencari sumber suara dengan menyusuri sekitar halaman rumah dekat sumur tua yang sudah lama jarang dipakai.
Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui suara itu berasal dari dalam sumur.
Di dasar sumur yang gelap dan lembab itu, seekor kucing liar tampak berusaha bertahan hidup. Tubuhnya basah dan gemetar. Sesekali terdengar suara mengeong lirih seperti meminta pertolongan.
Warga sekitar tak tega melihat kondisi hewan tersebut.
Berbagai cara sederhana langsung dicoba. Ada yang mengambil keranjang plastik, ada pula yang mengikat tali seadanya untuk diturunkan ke bawah. Harapannya, kucing itu bisa naik sendiri dan menyelamatkan diri.
Namun usaha itu tak berjalan mudah.
Diameter sumur yang kecil membuat posisi kucing sulit dijangkau. Selain itu, kondisi dinding sumur sudah rapuh sehingga warga khawatir jika nekat turun sendiri justru membahayakan keselamatan.
“Sudah dicoba dipancing pakai keranjang, tapi tidak berhasil,” kata Fadori.
Waktu terus berjalan. Malam mulai larut, sementara suara kucing itu terdengar semakin lemah. Warga akhirnya kehabisan akal.
Dalam kondisi itulah, warga memutuskan meminta bantuan petugas pemadam kebakaran Kota Pasuruan melalui layanan panggilan darurat 112.
Tak lama berselang, kendaraan petugas datang ke lokasi. Tim dari Damkar Kota Pasuruan bersama personel Satpol PP langsung melakukan asesmen di sekitar sumur. Sebanyak lima personel diterjunkan untuk proses penyelamatan.
Di bawah penerangan lampu seadanya dan kerumunan warga yang menyaksikan dengan cemas, proses evakuasi dimulai.
Bagi sebagian orang, menyelamatkan seekor kucing liar mungkin terdengar sepele. Namun bagi petugas penyelamat malam itu, setiap nyawa tetap berarti.
Anang Sururin, Kasi Kedaruratan Damkar Kota Pasuruan, mengatakan tim harus bekerja ekstra hati-hati karena kondisi sumur sudah tua dan rawan longsor.
“Sumurnya sempit dan kondisinya rapuh. Jadi proses evakuasi harus benar-benar hati-hati,” ujarnya.
Salah satu petugas bernama Andy menjadi orang yang ditugaskan turun ke dalam sumur. Dengan perlengkapan sederhana dan bantuan tali pengaman, ia perlahan masuk ke ruang sempit yang hanya diterangi cahaya dari atas.
Warga yang melihat proses itu sempat dibuat tegang. Dinding sumur terlihat lapuk. Sedikit saja salah pijakan, tanah di sekitarnya bisa longsor sewaktu-waktu.
Namun Andy tetap turun perlahan.
Dari atas sumur, beberapa warga terus memperhatikan sambil sesekali memberi arahan. Ada pula yang memegang tali pengaman dengan erat.
Menurut Andy, proses penyelamatan berlangsung dramatis karena kondisi di dalam sumur sangat sempit dan licin.
“Masuknya pelan-pelan karena takut longsor. Sumurnya kecil dan sudah rapuh,” katanya.
Saat berhasil mendekati dasar sumur, Andy melihat kucing liar itu dalam kondisi lemas dan kedinginan. Hewan tersebut tampak ketakutan setelah berjam-jam, bahkan mungkin hampir dua hari, terjebak di dalam sumur.
“Kucing itu sudah kedinginan, kasihan,” ungkapnya.
Dengan hati-hati, Andy mencoba meraih tubuh kucing itu. Sesekali hewan tersebut memberontak karena takut. Namun setelah beberapa saat, akhirnya kucing itu berhasil diamankan.
Tepuk tangan warga spontan pecah ketika tubuh kecil berbulu itu berhasil diangkat ke atas.
Suasana yang sejak tadi tegang berubah menjadi lega.
Kucing liar itu terlihat menggigil. Tubuhnya basah dan penuh lumpur. Namun kondisinya selamat.
Momen itu terasa sederhana, tetapi juga menyentuh. Di tengah hiruk-pikuk berita kriminal, kecelakaan, dan persoalan hidup sehari-hari, malam itu sekelompok warga bersama petugas justru disatukan oleh kepedulian terhadap seekor hewan kecil yang terjebak di dasar sumur.
“Mau tak kasih nama. Nama siapa. Kasihan kucing itu,” kata Andy.
Di balik seragam petugas damkar yang identik dengan api dan kebakaran, ada sisi lain yang jarang terlihat masyarakat. Mereka bukan hanya memadamkan kobaran api, tetapi juga sering menjadi penyelamat dalam situasi-situasi tak terduga—mulai evakuasi ular, membantu warga terkunci, hingga menyelamatkan hewan yang terjebak.
Dan malam itu, di sebuah sumur tua di Kelurahan Pohjentrek, mereka kembali menjalankan tugas kemanusiaan dengan cara yang berbeda. (don)





















