Sukapura (WartaBromo.com) – Perayaan Yadnya Kasada 2026 tidak hanya menghadirkan prosesi persembahan sesaji ke kawah Gunung Bromo.
Di balik rangkaian ritual yang berlangsung khidmat, terdapat agenda penting yang menjadi perhatian masyarakat Tengger, yakni ujian bagi tiga calon dukun Pandita yang akan menentukan kelayakan mereka sebagai pemimpin spiritual umat Hindu Tengger.
Ketiga calon tersebut belum dapat langsung menyandang gelar dukun Pandita.
Mereka diwajibkan mengikuti tahapan ujian yang dilaksanakan bertepatan dengan puncak pelaksanaan Kasada di Pura Luhur Poten.
Hasil dari ujian itu akan menjadi penentu apakah mereka layak dikukuhkan atau harus menunda pengangkatan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menjelaskan bahwa proses pengangkatan dukun Pandita harus melalui mekanisme yang ketat sesuai tradisi yang berlaku.
“Tiga calon dukun Pandita harus mengikuti ujian terlebih dahulu. Ujian tersebut dilaksanakan saat rangkaian pemujaan di Pura Luhur Poten. Jika dinyatakan lulus, mereka akan diangkat menjadi dukun Pandita,” ujarnya, Minggu malam (31/5/2026).
Menurut Bambang, ketiga peserta berasal dari Desa Ngadisari, Desa Pandansari, dan wilayah Sedang, Kabupaten Pasuruan.
Sebelum mencapai tahap ujian akhir, mereka telah menjalani pembinaan dan persiapan dalam waktu yang tidak singkat.
Meski rincian materi ujian tidak diungkapkan secara terbuka, dalam tradisi masyarakat Tengger seorang calon Pandita tidak hanya dituntut menguasai doa dan mantra ritual.
Mereka juga harus menunjukkan kematangan spiritual, pengendalian diri, serta kemampuan memimpin upacara keagamaan dengan baik.
Apabila seluruh peserta berhasil melewati ujian tersebut, jumlah dukun Pandita di wilayah Probolinggo akan bertambah dari 50 menjadi 53 orang.
Jumlah ini tergolong istimewa karena proses pengangkatan seorang Pandita dilakukan secara selektif dan tidak berlangsung setiap tahun.
Pelaksanaan ujian pada momentum Yadnya Kasada dipandang memiliki makna tersendiri.
Bagi masyarakat Tengger, Kasada merupakan salah satu upacara keagamaan paling sakral sehingga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menguji kesiapan spiritual para calon pemimpin adat dan agama.
Dalam kehidupan masyarakat Tengger, dukun Pandita memegang peran penting sebagai pemimpin ritual sekaligus penjaga harmoni hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Karena tanggung jawab tersebut sangat besar, setiap calon harus melalui proses seleksi yang ketat sebelum memperoleh pengakuan resmi dari komunitasnya. (lai/saw)





















