Pasuruan (WartaBromo.com) – Salat syuruq atau yang juga dikenal sebagai salat isyraq semakin populer di kalangan umat Islam karena disebut memiliki keutamaan besar. Bahkan, amalan ini sering dikaitkan dengan pahala setara haji dan umrah sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Meski demikian, masih banyak muslim yang menganggap salat syuruq sebagai salah satu salat sunah tersendiri yang berbeda dengan salat duha. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa pemahaman tersebut perlu diluruskan.
Dinukil dari ums.ac.id, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Isman, menjelaskan bahwa salat syuruq bukanlah ibadah yang berdiri sendiri dan terpisah dari salat sunah lainnya.
Menurutnya, salat syuruq atau salat isyraq sejatinya merupakan bagian dari salat duha yang dikerjakan pada awal waktunya.
“Salat syuruq juga biasa disebut salat isyraq. Ibadah ini bagian dari duha, bukan ibadah yang terpisah,” jelas Isman.
Penjelasan tersebut merujuk pada pandangan para ulama fikih yang tercatat dalam Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, salah satu ensiklopedia fikih yang banyak dijadikan rujukan oleh kalangan akademisi dan ulama.
Istilah syuruq dan isyraq berasal dari kata yang berkaitan dengan terbitnya matahari. Dalam tradisi keilmuan Islam, istilah ini digunakan untuk menggambarkan waktu pagi ketika matahari mulai muncul dan meninggi.
Dasar penggunaan istilah isyraq juga ditemukan dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Sad ayat 18:
اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِۙ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi (isyraq).”
Menurut Isman, sebagian ulama tafsir dari kalangan Syafi’iyah menafsirkan kata isyraq dalam ayat tersebut sebagai waktu pelaksanaan salat duha ketika matahari baru terbit dan mulai meninggi.
Karena dilakukan pada awal waktu duha, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai salat syuruq atau salat isyraq. (Jun)





















