Mengapa Gunung Kawi Identik dengan Pesugihan? Ini Mitos dan Faktanya

36

Pasuruan (WartaBromo.com) – Nama Gunung Kawi di Jawa Timur kembali menjadi perbincangan publik setelah isu mengenai praktik pesugihan kembali viral di media sosial. Tak sedikit masyarakat yang menganggap kawasan tersebut sebagai tempat mencari kekayaan melalui ritual mistis.

Padahal, pengelola Pesarean Gunung Kawi menegaskan bahwa kawasan itu merupakan destinasi wisata religi sekaligus cagar budaya yang digunakan masyarakat untuk berziarah dan mengenang jasa para tokoh terdahulu. Bukan lokasi untuk menjalankan praktik ilmu hitam maupun pesugihan.

Lantas, mengapa Gunung Kawi begitu lekat dengan citra pesugihan? Berikut beberapa faktor yang membuat anggapan tersebut terus berkembang hingga sekarang:

1. Berawal dari Tradisi Ziarah Makam Tokoh yang Dihormati

Salah satu alasan utama munculnya anggapan tersebut adalah keberadaan Pesarean Gunung Kawi yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Eyang Djoego atau Kiai Zakaria II serta Raden Mas Iman Soedjono.

Keduanya dikenal sebagai tokoh berpengaruh pada masa Perang Diponegoro. Semasa hidup, mereka dihormati karena dikenal sebagai ulama, tabib, sekaligus sosok yang banyak membantu masyarakat.

Awalnya, masyarakat datang untuk berziarah dan memanjatkan doa. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian peziarah mulai meyakini bahwa tempat tersebut dapat menjadi sarana memohon kelancaran rezeki hingga keberhasilan usaha.

2. Mitos Pohon Dewandaru yang Dianggap Membawa Keberuntungan

Di dalam kompleks pesarean terdapat Pohon Dewandaru yang sudah lama dipercaya memiliki nilai spiritual. Beredar kepercayaan bahwa seseorang yang sedang berdoa atau bertapa di bawah pohon tersebut, kemudian mendapatkan daun, buah, maupun ranting yang jatuh, diyakini akan memperoleh keberuntungan.

Benda-benda itu bahkan dipercaya sebagian orang dapat dijadikan jimat penglaris usaha atau simbol datangnya rezeki. Meski demikian, keyakinan tersebut hanyalah mitos yang berkembang di tengah masyarakat dan tidak pernah menjadi bagian dari ajaran resmi pengelola.

3. Akulturasi Budaya Membentuk Beragam Tradisi

Pesarean Gunung Kawi juga dikenal sebagai simbol akulturasi budaya Jawa, Islam, dan Tionghoa.
Tidak sedikit peziarah keturunan Tionghoa datang untuk berdoa maupun menjalankan ritual tradisional seperti Ciam Si, yakni praktik ramalan kuno yang umum ditemukan di sejumlah kelenteng.

Selain itu, banyak pelaku usaha yang memanjatkan doa agar usahanya berkembang. Keberhasilan ekonomi sebagian peziarah kemudian memunculkan anggapan bahwa kesuksesan tersebut diperoleh melalui ritual pesugihan, meski tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.

4. Cerita Mistis Terus Berkembang dari Generasi ke Generasi

Citra mistis Gunung Kawi semakin kuat karena berbagai cerita yang terus diwariskan dari mulut ke mulut. Belakangan, narasi tersebut semakin meluas melalui film horor, konten media sosial, hingga berbagai kisah bertema mistis yang beredar di internet.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi di sekitar kawasan pesarean juga ikut berkembang. Berbagai perlengkapan ritual seperti dupa, kemenyan, bunga, hingga sesajen dijual kepada para peziarah. Kondisi ini semakin menguatkan kesan mistis di mata sebagian masyarakat.

5. Faktor Psikologi dan Harapan Mendapat Jalan Pintas

Pengamat menilai mitos pesugihan juga dipengaruhi faktor psikologi sosial. Sebagian orang yang menghadapi tekanan ekonomi, persaingan usaha, maupun kegagalan hidup terkadang mencari alternatif untuk memperoleh harapan baru.

Tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai spiritual kemudian dipersepsikan sebagai jalan pintas menuju kesuksesan. Meski demikian, anggapan tersebut lebih banyak dipengaruhi kepercayaan pribadi dibanding fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah. (Jun)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.