Pandaan (WartaBromo) – Ratusan warga Pandaan dan sekitarnya memadati area persimpangan Patung Sapi, Pandaan, pada Minggu (12/7/2026). Kehadiran massa dari berbagai elemen masyarakat ini bertujuan untuk menggelar selamatan Jenang Sengkala, doa bersama, sekaligus tabur bunga.
Aksi kultural ini diinisiasi oleh Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur sebagai respons atas insiden kecelakaan maut yang merenggut empat korban jiwa pada Selasa (7/7/2026) lalu.
Dalam filosofi Jawa, Jenang Sengkala atau bubur sengkolo sendiri diyakini sebagai simbol ritual untuk menolak segala bentuk keburukan, kesialan, maupun musibah.
Ketua FPK Jatim, Ki Bagong Sabdo Sino Karto, mengungkapkan bahwa agenda ini digelar secara spontanitas. Sebagai pelaku budaya, mereka merasa terketuk untuk melakukan pendekatan kultural spiritual sebagai bentuk empati dan upaya batiniah agar tragedi serupa tidak terulang.
“Ini sebenarnya acara sangat spontan karena kita tidak tahu kapan ada peristiwa. Begitu ada peristiwa tragis hari Selasa lalu, kami para pelaku budaya terketuk. Yang bisa kami lakukan adalah kegiatan terkait pendekatan kultural. Biasanya orang Jawa ketika ada musibah atau agar jangan sampai mendapatkan keburukan, melakukan selamatan bubur sengkolo,” ujar Ki Bagong saat ditemui di lokasi acara.
Ki Bagong mengaku tidak menyangka bahwa agenda yang awalnya dirancang sederhana bersama para budayawan setempat justru memikat perhatian massa dalam jumlah besar.
“Ini di luar prediksi. Sebenarnya fokus kami kan untuk teman-teman seniman dan budayawan, ternyata antusiasme dari masyarakat di luar sangat luar biasa,” imbuhnya.
Ia berharap kegiatan ini bisa menjadi pemantik awal. Terkait kemungkinan acara ini bertransformasi menjadi agenda rutin, pihaknya menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada warga di sekitar area Patung Sapi.
Di lokasi yang sama, Camat Pandaan, Timbul Wijoyo, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh komunitas dan elemen masyarakat yang hadir. Menurutnya, gerakan kultural ini menjadi wujud kepedulian bersama sekaligus momentum memperingati 7 hari wafatnya para korban kecelakaan.
“Ini adalah gerakan yang awalnya sebatas beberapa orang, ternyata banyak yang mengikuti dari berbagai elemen. Kami selaku kepala wilayah matur nuwun sangat atas support dan respons teman-teman semua demi menjaga terkait laka ini agar tidak terus-menerus terjadi di Patung Sapi,” ungkap Timbul.
Lebih lanjut, Timbul menegaskan bahwa langkah antisipasi tidak hanya berhenti pada jalur spiritual. Secara struktural, pihak kecamatan berencana melayangkan surat resmi kepada otoritas jalan untuk melakukan kajian keselamatan teknis di area persimpangan rawan tersebut.
“Saya rencana akan bersurat kepada Balai Besar Jalan Nasional. Saya minta nanti dikaji apakah perlu kita tutup ataukah kita buat semacam alih arus lalu lintas, biar nanti dikaji oleh Balai Besar Nasional. Itu harapan kami, mudah-mudahan kita diberikan kesehatan dan keselamatan semua, khususnya warga Pandaan,” pungkasnya. (fir)





















