Pasuruan (WartaBromo.com) – Target pemerintah menghadirkan internet dengan kecepatan rata-rata 100 Mbps pada 2028 ternyata bukan semata-mata mengejar angka. Fokus utama yang ingin dicapai adalah mengurangi kesenjangan akses internet antara wilayah perkotaan dan daerah yang selama ini masih sulit menikmati layanan internet berkualitas.
Dilansir dari komdigi.go.id, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), pemerintah menjadikan pemerataan konektivitas sebagai salah satu prioritas transformasi digital nasional. Dalam dua tahun ke depan, masyarakat diharapkan dapat menikmati internet berkecepatan tinggi dengan biaya yang lebih terjangkau.
Seperti dikutip dari ETCIO Southeast Asia, pemerintah mendorong operator telekomunikasi mempercepat investasi jaringan untuk mendukung target tersebut.
Langkah yang disiapkan meliputi pembangunan jaringan serat optik, penguatan layanan fixed broadband, hingga pemanfaatan teknologi satelit guna menjangkau daerah terpencil dan wilayah yang belum terlayani secara optimal.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan akses internet yang andal kini telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, pemerintah berupaya memperkecil kesenjangan konektivitas yang masih terjadi di berbagai daerah.
Tak hanya di luar Pulau Jawa, kesenjangan akses internet juga masih ditemukan di sejumlah wilayah di Jawa yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.
Selain memperluas jaringan, pemerintah juga mendorong operator seluler meningkatkan belanja modal agar kualitas layanan semakin baik dan titik-titik blank spot dapat dikurangi.
Menurut Nezar, pentingnya infrastruktur telekomunikasi juga terlihat ketika terjadi bencana. Pemulihan jaringan komunikasi menjadi kebutuhan yang sama pentingnya dengan distribusi bantuan darurat kepada masyarakat terdampak.
Pemerintah berharap pemerataan internet cepat mampu memperkuat ekonomi digital nasional. Dengan akses internet yang lebih merata, sektor perdagangan elektronik, pendidikan daring, layanan kesehatan digital, hingga teknologi finansial diperkirakan berkembang lebih pesat dan dapat dinikmati masyarakat di seluruh Indonesia. (Jun)




















