Prigen (WartaBromo.com) – Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo yang berada di lereng Gunung Arjuno-Welirang masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut, sebanyak 92 titik panas (hotspot) masih terdeteksi di kawasan tersebut. Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini mengupayakan bantuan helikopter untuk mendukung pemadaman melalui metode water bombing.
Khofifah mengatakan, upaya mendapatkan bantuan helikopter tengah dikomunikasikan agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih efektif, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
“Kita sedang mengomunikasikan agar mendapat bantuan heli untuk melakukan water bombing. Saya rasa kalau ada water bombing, kita bisa lebih efektif,” ujarnya saat melakukan rapat darurat karhutla di Hutan Cempaka Prigen, Kabupaten Pasuruan pada Selasa (21/10/2026) malam.
Selain upaya pemadaman, Khofifah juga menerbitkan surat edaran (SE) yang meminta pondok pesantren, pimpinan organisasi Islam, Dewan Masjid Indonesia, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyelenggarakan salat Istisqa secara lebih masif.
Langkah tersebut dilakukan sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan.
“Dan tentu hujan ya, memohon kepada Allah menurunkan hujan yang bermanfaat dan hujan yang membawa rahmat,” kata Khofifah.
Ia menjelaskan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan baru akan turun pada periode Desember hingga Februari. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian karhutla perlu diperkuat sembari mengantisipasi dampak kemarau terhadap masyarakat.
Khofifah juga mengingatkan bahwa kemarau yang berlangsung lebih panjang tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan, tetapi juga dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan air bersih.
“Jadi tahun ini hujannya agak lambat dan tahun depan hujannya lebih singkat. Jadi apa yang tadi menjadi rekomendasi dari Kepala Balai Gakkum itu menjadi penting untuk dimitigasi bersama semuanya,” ujarnya.
Menurut Khofifah, mitigasi perlu dilakukan secara bersama-sama dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin timbul akibat kondisi cuaca tersebut. Persoalan ketersediaan air bersih menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi apabila musim kemarau berlangsung panjang. (Fir)





















