Kisah Dibalik Film Dokumenter ‘Dolly’ Karya Arek MAN Bangil

0
151
eagle-junior-award
Hasyim menunjukkan piagam penghargaan dan Piala Eagle Junior Documentary Camp 2014 / eml

Bangil (wartabromo) – Gara-gara mengangkat kehidupan Kawasan Lokalisasi Dolly Surabaya, 3 remaja jebolan MAN Bangil berhasil menjadi juara dalam Eagle Junior Documentary Camp 2013, yang diselenggarakan oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) bekerjasama dengan salah satu Televisi Nasional (MetroTV) serta Eagle Institute Indonesia.

Ketiga remaja tersebut adalah Mochammad Robithul Hasymi, Wahyu Gumelar Cipto Adi, dan Ahmad Ainul Muttaqin.

Film dokumenter berjudul “Kisah Genre Lokalisasi” tersebut sukses merebut 3 juara yakni film terbaik, film terbaik pilihan juri serta ide film terbaik.

Kepada Warta Bromo, Hasymi bercerita bahwa kakak perempuannya Shofwatul Qolbiyah (22) yang berprofesi sebagai perawat itu, memiliki beberapa teman yang tergabung dalam Komunitas Kompas (Komunitas Anti Madat dan Seks Bebas) di Universitas Airlangga Surabaya. Di situlah, akhirnya muncul ide cemerlang untuk membuat film tentang kehidupan remaja di Kawasan Prostitusi yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara tersebut.

“Awalnya saya bingung mau buat film yang cocok dengan tema lomba yakni yang muda yang berencana. Kemudian saya sedikit sharing dengan kakak, eh ndilalah kakak punya ide,” ungkap Hasymi saat datang ke sekolah.

Begitu tiba di Surabaya, baik Hasymi dan kedua temannya langsung meneliti aktifitas gang dolly yang baru pertama kali mereka datangi. Akan tetapi, ternyata mereka mengalami kesulitan dalam mendapatkan surat ijin pengambilan gambar, lantaran baik RT hingga ketua RW tak menandatangani permintaan mereka.

“Gang Dolly sangat sensitif akan kamera ataupun siapa saja yang datang ke sana, karena ada preman yang langsung menghadang, bahkan sampai mengusir kami,”tuturnya.

Namun, kesulitan yang dihadapi Hasymi dan kedua temannya itu tak menyiutkan semangat untuk terus memproduksi film di dolly. Berbagai usaha pun dilakukan, sampai akhirnya memaksa mereka untuk menyewa preman, demi mulusnya langkah mereka membuat film berdurasi 7 menit 13 detik tersebut.

“Kami menyewa 2 preman dengan biaya 600 ribu selama 4 hari,” tambah Hasymi.

Tak hanya preman, ketiganya juga dibantu beberapa mahasiswa Unair.

“Kami bersama dapat mengarahkan para remaja untuk beraktifitas lain misalnya mengajak ke taman sambil menunjukkan betapa bahayanya free seks dan narkotika dan kami juga mendirikan cafe kecil-kecilan, supaya dapat mengalihkan perhatian terhadap perilaku seks yang ada di dolly,” jelasnya.

Kerja keras mereka membuahkan hasil. Tepatnya 9 november lalu, panitia menghubungi pihak sekolah bahwa film yang diproduksi selama 4 hari itu keluar sebagai juara.

Hasymi dan kedua temannya yang pada saat lomba masih duduk di bangku kelas XII tersebut mengucap syukur, khususnya kepada pihak sekolah yang telah membimbing mereka dengan optimal.

“Senang sekali, ternyata kami menang. Ini adalah kado kami untuk MAN Bangil. Sekalipun kami sudah lulus, tapi jiwa kami masih ada di sini,” ucapnya.

Sementara itu, Alfan Makmur, Kepala MAN Bangil mengaku telah memberikan reward tersendiri untuk ketiga mantan anak didiknya yakni menjadikannya sebagai movie trainer dalam kelas multimedia.

“Mereka kami angkat sebagai pegawai sekolah, untuk melatih adik kelasnya yang kelas X maupun kelas XI,” ujar Alfan saat ditemui di sekolahnya. (eml/yog)