Kenalkan Ferdi, 5 Tahun Jualan Peyek Keliling demi Bisa Terus Sekolah

0
307
Ferdi saat menjajakan dagangannya./WARTABROMO/Sundari A. W

Kanigaran (wartabromo) – Himpitan ekonomi keluarga bukan sebuah alasan untuk putus sekolah. Fersya Sholehudin (16), warga Jalan AA Maramis Perum Asabri Nomor 100, Kelurahan Kanigaran, Kota Probolinggo, berkukuh terus menuntut ilmu meski dalam keterbatasan.

Siswa kelas X SMKN 1 Probolinggo jurusan Pemasaran atau Marketing ini berjualan makanan ringan sehabis sekolah dengan berkeliling. Perjungan yang sudah ia lakukan sejak kelas 6 sekolah dasar (SD).

“Saya sudah lakukan ini sejak SD,” kata Fersya Sholehudin berbincang dengan wartabromo.com, Jumat (23/10/2015).

Sejak duduk di kelas 6 SDN Tisnonegaraan III, Fersya sudah mandiri. Setiap habis sekolah ia tidak langsung beristirahat tidur siang atau belajar mereview pelajaran sekolah. Setelah melepas seragam ia langsung mempersiapkan barang dagangannya, seperti peyek, lemet, botok, sate usus dan sate ayam.

Setelah dagangannya beres, remaja yang akrab dipanggil Ferdi ini, kemudian dengan mengendarai sepeda angin menyusuri jalan di sekitar Perum Asabri untuk menjajakan dagangan.

Selesai dari komplek perumahan itu, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bambang Sutowo (51) dan Rusmi Hariyati (50) ini, kemudian berkeliling ke komplek perumahan lain. Dengan rute, jalan Beberan, jalan Supriyadi dan kemudian berakhir di jalan brantas. Dijalan terakhir ini, Ferdi mangkal menunggu pembeli.

Rute sepanjang kurang lebih 10 kilo meter itu, ia telusuri setiap hari Senin hingga Kamis, sejak pukul 14.30 hingga 17.00. Rute ini bisa berubah pada hari Jumat – Minggu, sebab pada hari-hari tersebut, ia juga melayani jasa antar bagi pelanggan yang memesan dagangannya via sms atau facebook.

“Nganternya bisa sampai Desa Muneng Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Kalau gak ada pesanan yang mangkal di Brak (Perempatan jalan Sukarno-Hatta dengan Panglima Sudirman),” ujarnya.

Ferdi lantas menceritakan awalnya dirinya membantu menjajakan peyek milik tetangganya di sekitar perum Asabri dengan berjalan kaki. Lantas ia kemudian meminta ibunya untuk membuat peyek sendiri, agar mempunyai penghasilan lebih besar. Hingga menginjak bangku SMPN 7 Probolinggo, Ferdi juga melanjutkan bisnisnya tersebut.

“Ingin meringankan beban orangtua, ibu saya menderita diabetes sejak 15 tahun lalu. Sementara ayah hanya bekerja sebagai buruh las. Yang penting halal, gak nyolong dan saya bisa sekolah,” tuturnya.

Hampir 5 tahun lamanya Ferdi berjualan, sehingga tidaklah heran jika pelanggannya cukup banyak. Baik dari pembeli yang memakai roda dua hingga roda empat. Dengan harga rata-rata Rp 1.000 hingga Rp 1.500, dagangannya cukup laris.

“Sudah lama saya dan suami langganan membeli, kadang beli disini, kadang di kantor. Anaknya baikdan sopan, saya salut kepadanya,” ujar salah satu pembeli Ester Banowati.

Namun, tak setiap hari barang dagangan Ferdi ludes terjual, terkadang masih tersisa cukup banyak. Rata- rata setiap harinya ia memperoleh pendapatan kotor antara Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu, jika Sabtu-Minggu omsetnya dapat meningkat hingga lebih dari Rp 200 ribu.

Selama menunggu pembeli, Ferdi menggunakan waktu luang untuk membaca buku. Selain membawa buku pelajaran, ia juga membawa buku catatan pelanggan yang sudah order dagangannya. (saw/fyd)