Menangisi “Mikrajnya” Mbah Kiai Subadar

0
164

Gusti Allah yang Maha Nepotisme, seringkali memberi perlakuan khusus bagi para kekasih-Nya. Yang sedang terjadi hari ini misalnya, Allah menagih rindu kepada Mbah Kiai Subadar untuk Ia “sandingkan” di sisi-Nya, sementara kita, anak-anak yatim sejarah, kembali kehilangan bapak peradaban. Mbah Kiai Subadar sedang berbahagia dengan “ijab qabul” sebagai “pengantin” kerinduan Allah, sementara kita, anak-cucu peradaban beliau menangis dan entah sampai kapan belasungkawa dan kehilangan ini akan membekas.

Mbah Kiai Subadar bukanlah hanya milik putra-putri, keluarga serta santri-santri beliau, tapi juga milik umat dan bangsa Indonesia. Dan hari ini, di tengah kekalutan kita menunggu nuzulnya ruh-ruh pilihan untuk membopong dan menebarkan cahaya di bumi, sekali lagi lentera bumi dipadamkan oleh Allah.

Manusia-manusia dengan kualitas ruh dan ahlak sekelas Nabi Muhammad, hanya sekali diturunkan dalam kurun sejarah kehidupan di bumi. Manusia dengan kualitas cahaya sekelas Syaikh Abdul Qadir Jilany, hanya beberapa kali diturunkan untuk melenterai sejarah kita yang senantiasa gulita ini. Dan manusia limited edition seperti Mbah Subadar, belum tentu akan dikirimkan penggantinya dari langit dalam kurun sepuluh, dua puluh atau bahkan seratus tahun akan datang.

IMG-20160730-WA0032Kiai, dalam khazahah Islam berasal dari kata Qi ayi yang berarti “jagalah ayat-Ku”. Kiai, dalam kultur masyarakat santri, adalah “pekerja sosial” murni yang selalu kita riwuki mulai dari urusan nyuwuk, memberi nama anak, melentarai kegelapan budaya hingga memperjuangkan hak politis mereka. Dan Mbah Kiai Subadar, kita tahu adalah salah satu “penjaga gawang” peradaban yang telah berkali-kali menjaga gawang kita dari tembakan pinalti penyakit sejarah.

Beliau adalah mujahid di bidang keilmuan yang telah berhasil menahkodai kapal besar bernama pesantren Besuk. Banjir bandang peradaban telah menyelamatkan jutaan anak manusia dari kegelapan kebodohan dengan beliau angkut dalam “bahtera Nabi Nuh”. Jutaan orang terselamatkan dan berhasil menjejak “tanah yang dijanjikan” setelah menumpang di kapal besar bernama pesantren Besuk.

Beliau juga mujtahid politik yang telah memperjuangkan dan memenangkan deal-deal politis umat Islam yang meski mayoritas, selalu dipecundangi oleh minoritas. Beliau adalah mujahid budaya, terbukti dengan masih terjaganya kultur santri –terutama di sekitar Kejayan dan—Pasuruan. Beliau adalah pembawa obor estafet langit agar kegelapan tak semakin menjadi menyelubungi kita. Beliau adalah mujahid enterprenuer, ekonomi mikro, kultul agraris, mujahid kebersajaan kaum santri nasionalis dan sekaligus pencinta NKRI tanpa diragukan lagi.

Dan duka kita hari ini, bukan karena Mbah Kiai Subadar telah diambil kembali oleh Sang Kekasih, namun juga keraguan kita akan lahirnya anak manusia yang setara dengan beliau. Kita sadar akan keyatiman kita sebagai umat Islam, namun kita sepakat jika menyemai calon-calon pembawa obor langit di pesantren sudah tidak relevan dengan tuntutan duniawi. Pun, kita yang saat sedang menempa diri di pesantren, para “putera mahkota” pewaris tahta kepemimpinan pesantren, kurang begitu sanggup menerima mandat dari Mbah Kiai Subadar.

Selamat “bermikraj” Mbah Kiai Subadar, Njenengan tersenyum, kami menangis entah sampai kapan?

Penulis: Abdur Rozaq