Tim Gabungan Dapat 8 Orgil, Meski Telah Obok-obok Seluruh Penjuru Kota Probolinggo

648

Probolinggo (wartabromo.com) – Setelah Polres Probolinggo merazia orang gila (orgil), kini giliran Polresta Probolinggo yang melakukan kegiatan serupa. Meski sudah mengobok-obok Kota Probolinggo, tim gabungan masih mendapatkan 8 orang gila.

Petugas gabungan Polresta bersama Satpol PP, Dinas Sosial (Dinsos) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, langsung berangkat dari halaman Mapolresta, Rabu (21/2/2018). Mereka langsung menuju Pelabuhan Perikanan Mayangan yang diduga terdapat beberapa orang dengan gangguan kejiwaan. Di tempati ini, petugas menyisir lokasi dan berhasil menemukan seorang warga. Petugas yang mendekati kemudian membujuknya dan membawanya ke truk tahanan. Meski menolak, petugas tetap membawanya.

Lepas dari itu, petugas kemudian bertolak ke Flora, perempatan jalan DR. Soetomo dan jalan Jenderal Ahmad Yani. Di bawah sebuah pohon, petugas menghampiri seorang wanita tunawisma. Wanita yang mengalami gangguan jiwa itu, mengaku hamil saat ditanya oleh petugas. Selain itu, ia ingin membeli sebuah telepon seluler. Dengan iming-iming dibelikan telepon seluler, wanita itu mau mengikuti petugas mobil patroli.

Selanjutnya, petugas bergerak ke jalan Panglima Sudirman, jalan Cokro, jalan Mastrip, jalan DR. Hamka. Bahkan petugas sempat muter-muter di wilayah Kelurahan Pohsangit dan Sumber Wetan. Kemudian razia itu berakhir di sekitar Terminal Bayuangga di jalan Bromo. Total ada 8 dengan gangguan kejiwaan yang diamankan, yakni 7 pria dan 1 wanita.

Kapolresta Probolinggo AKBP. Alfian Nurrizal menuturkan razia itu dilakukan seiring dengan merebaknya sejumlah kasus penyerangan ke simbol agama yang pelakunya orang gila. Dengan label gila atau modus berpura-pura menjadi orang gila, mereka menyerang korban. Sehingga kegiatan itu diharapkan mampu meredam fenomena yang meresahkan masyarakat tersebut.

“Nanti kita lakukan identifikasi terhadap mereka yang mengalami gangguan jiwa ini dan penyembuhan secara sistemis. Dimana satgas akan merekomendasi atau melakukan visum untuk gangguan jiwanya. Nantinya kita akan melakukan penyembuhan di rumah sakit jiwa di Lawang,” ujar Kapolres.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Probolinggo KH. Nizar Irsyad, menghimbau kepada warga dan ulama untuk tidak resah dengan teror yang berkembang. Meski begitu, ia berharap teror yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia itu tak menular di Kota Probolinggo. “Para ulama dan habaib, kami harapkan untuk tidak resah. MUI dan Polres sudah bekerjasama terkait pengamanan. Kami percaya pihak polisi akan bekerja secara profesional, untuk mencegah terjadinya keresahan di masyarakat,” ujar Nizar.

Untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi warga Kota Probolinggo, rencananya, razia ini bakal digelar petugas secara berkala setiap pekan. (fng/saw)