Bukan di Sarang, Ikan Papua Ini Menggendong Telurnya di Dahi hingga Menetas

7

Pasuruan (WartaBromo.com) – Papua dikenal sebagai rumah bagi berbagai satwa unik yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Salah satunya adalah ikan kaca atau ikan perawat, spesies langka yang memiliki cara berkembang biak tak biasa.

Dilansir dari mongabay.co.id, alih-alih menyimpan telur di sarang atau dasar sungai, ikan jantan justru mengerami telur-telurnya di atas kepala hingga menetas. Keunikan tersebut menjadikan ikan bernama ilmiah Kurtus gulliveri castelnau sebagai salah satu spesies air tawar paling menarik di kawasan Papua dan Australia utara

Ikan kaca pertama kali dideskripsikan pada tahun 1878 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan Thomas Allen Gulliver, seorang pegawai pos dan telegraf Australia di sekitar Sungai Norman, Teluk Carpentaria.

Nama spesies ini menyimpan kisah panjang tentang sejarah alam kawasan Papua dan Australia. Menurut peneliti arkeologi BRIN, Hari Suroto, sekitar 17.000 tahun lalu Papua dan Australia masih tergabung dalam satu daratan besar bernama Sahulland.

Pada masa itu, berbagai jenis fauna dapat bergerak bebas melintasi wilayah yang kini telah terpisah oleh laut. Ikan kaca menjadi salah satu saksi hidup dari masa tersebut karena hingga kini masih ditemukan di kedua wilayah.

Julukan ikan kaca berasal dari penampilannya yang mencolok. Tubuhnya pipih dan tinggi menyerupai belah ketupat memanjang dengan warna perak mengilap di kedua sisi tubuhnya.

Kilauan tersebut membuat tubuh ikan tampak seperti kaca saat terkena cahaya. Namun, daya tarik utamanya justru terletak pada perilaku reproduksi yang sangat langka di dunia ikan.

Berbeda dari kebanyakan ikan, jantan ikan kaca memiliki tonjolan tulang berbentuk kail yang melengkung di bagian dahi. Struktur unik ini digunakan untuk membawa telur-telur hasil pembuahan. Telur berukuran sekitar 2,1 hingga 2,5 milimeter menempel pada tonjolan tersebut dan terus dijaga hingga menetas.

Karena perilaku inilah ikan ini juga dikenal sebagai ikan perawat. Para peneliti menduga tonjolan di kepala jantan merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan sungai dan rawa yang memiliki kadar oksigen rendah serta tingkat kekeruhan tinggi.

Setelah menetas, larva ikan hidup di permukaan air dengan tubuh yang hampir transparan. Larva juga memiliki kantung kuning telur berukuran besar sebagai sumber nutrisi awal sebelum mampu mencari makan sendiri.

Habitat utama ikan kaca berada di sungai-sungai berair gelap, muara, serta rawa bakau di selatan Papua.
Penyebarannya meliputi Sungai Digul, Sungai Maro, Sungai Mappi, hingga berbagai perairan di Kabupaten Boven Digoel, Merauke, Mappi, Asmat, dan Fakfak. (Jun)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.