Ngobrol Bareng Gubernur Terpilih Khofifah Indar Parawansa

1175
Khofifah Indar Parawansa, saat berada di rumahnya di kawasan Jemursari, Surabaya. Foto: M Asad Asnawi.

Jawa Timur akhirnya punya pemimpin baru. KPU setempat menetapkan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih pilgub Jatim untuk masa bhakti 2018-2023.

Khofifah menumbangkan dominasi Saifullah Yusuf yang pada dua Pilgub sebelumnya menjegalnya. Kini, sambil menunggu jadwal pelantikan, alumni FISIP UNAIR Surabaya itu, telah menyiapkan sejumlah agenda untuk masa kepemimpinan lima tahun ke depan. Apa saja itu?

Berikut petikan obrolan jurnalis wartabromo.com, dengan gubernur terpilih, Khofifah Indar Parawansa di kediamannya di kawasan Jemursari, Surabaya, Jawa Timur.

Laporan: M. Asad Asnawi

WartaBromo     : Apa kabar Bu Khofifah?

KHOFIFAH          : Alhamdulillah baik. Ini tamu gak selesai-selesai. Pada datang terus. Sampai-sampai, ada seorang ibu-ibu yang datang sendirian naik bis ke sini. Kalau ditolak kan tidak mungkin. Jauh-jauh mereka datang, sudah susah nyewakendaraan untuk datang rombongan.

WartaBromo     : Dengan tamu yang hampir tidak ada jeda, bagaimana Bu Khofifah mengatur waktu, antara istirahat, menemui tamu, dan juga memantau proses rekapitulasi yang sedang berjalan?

KHOFIFAH          : Saya yang membatasi diri saya. Mengatur sendiri. Jadi, setiap dua jam sekali, saya harus masuk ke dalam. Itu harus. Saat di dalam itu pula, saya memantau, menelepon sana-sini untuk memantau proses perhitungan. Untuk istirahat, sejak pemungutan suara, tidur saya tidak lebih dari dua jam.

WartaBromo     : Hasil perhitungan cepat menempatkan Bu Khofifah sebagai pemenang Pilgub kali ini. Bagaimana tanggapan Bu Khofifah? Apakah sudah ada telopon atau sekadar ucapan selamat dari rival?

KHOFIFAH          : Biasa saja. Bagi saya, ini adalah amanah yang harus saya jalankan dengan baik. Saya mohon doanya. (Khofifah tersenyum). Mmm, mungkin saja beliau telepon, tapi pas saya lagi sibuk terima tamu. Jadi kan tidak dengar (Khofifah kembali tersenyum).

WartaBromo     : Dua kali gagal di Pilgub, apa yang membuat Bu Khofifah maju untuk kali ketiga? Padahal,  dalam waktu yang sama, Ibu juga menjabat sebagai Menteri Sosial?

KHOFIFAH          : Ini pertanyaan lama yang terus diulang-ulang. Saya bukan orang yang mencari kekuasaan. Tapi, bagaimana bekerja untuk umat. Dulu, saya pernah diajak Umroh sama Gus Dur (Mantan Presiden keempat Abdurrahman Wahid, Red) bersama rombongan 9 orang. Saat di Multazam, saya sempat tanya, doa apa yang Gus Dur panjatkan? Lalu dijawab minta rezeki yang banyak. Saya tanya lagi untuk apa? Lalu dijawab oleh beliau untuk umat agar tidak terperangkap dengan kemiskinan. Dan doa yang sama beliau panjatkan ketika berada di Madinah.

Pengalaman saya di Kementerian Sosial, setidaknya bisa menjadi bekal bagaimana upaya pengentasan kemiskinan itu bisa terus didorong. Ini pula yang mendorong saya untuk kembali ke jalan itu (maju di Pilgub).

WartaBromo     : Jawa Timur merupakan daerah yang dinamis, dengan segala persoalan yang melingkupinya. Setelah dilantik, apa yang pertama Bu Khofifah lakukan?

KHOFIFAH          : Ada banyak sebenarnya persoalan. Pendidikan, kemiskinan, ketimpangan sosial menjadi salah satu prioritas untuk ditangani. Karena data yang kami punya, ketimpangan-ketimpangan itu terus meningkat.

Untuk ini, saya sudah bentuk tim navigasi yang komposisinya dari berbagai latar belakang berbeda. Anggotanya 15 orang lebih. Salah satu tugasnya adalah menginventarisasi semua problem-problem yang ada di masyarakat. Kemiskinan, pendidikan, infrastuktur dan lain sebagainya. Jadi saya memang ingin menarik semua energi positif yang ada di Jawa Timur.

Ke depan, setelah pelantikan, tim navigasi ini akan kita arahkan sebagai tim transisi. Makanya, tadi juga ada rombongan dari teman-teman kampus. Ini yang ke depan akan coba kami sambungkan, bagaimana antara pemerintah dan pihak kampus terjalin sinergi, tidak jalan sendiri-sendiri. Karena sampean tahu, untuk persoalan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Jawa Timur misalnya, terendah dari provinsi di Jawa. Kaget kan? Ini yang perlu Anda ketahui. IPM kita, lebih rendah loh dibanding Provinsi Banten. Itu data 2017 loh.

WartaBromo     : Satu hal yang juga kerap menjadi polemik di daerah-daerah adalah sektor pendidikan. Termasuk di dalamnya adalah soal status GTT (guru tidak tetap). Bagaimana Bu Khofifah menanggapi ini?

KHOFIFAH          : Begitu, satu yang terpenting bahwa kita harus berpikir soal NKRI. Ketika semua didasarkan pada NKRI, maka, pola pikirnya adalah bagaimana mencari problem solving, mencari solusinya. Kalau soal GTT, memang harus ada promosi. Tidak semua sekolah boleh mengangkat GTT. Harus ada proporsinya. Misalnya, sekolah yang boleh mengangkat GTT itu seperti apa, berapa dibanding berapa. Harus juga ada standarnya. Tidak boleh ada GTT dengan gaji di bawah UMK, kan kayak gitu. Jadi, mulai dari perencanaan sampai rekrutmen gurunya harus sudah terkomunikasikan. Bisa jadi, antar daerah nanti tingkat kesejahteraannya berbeda. Yang terpenting, tidak boleh lebih rendah dari UMK.