Keluarga, Fondasi Utama Membangun Masa Depan Anak

0
530
DUNIA BERMAIN: Anak-anak PAUD Golden Kids, Pandaan tengah bermain dengan didampingi guru pendamping. Foto adalah ilustrasi.
Cukup banyak teori yang mengajarkan betapa keluarga berperan pada perkembangan dan pendidikan anak. Tetapi, pengalaman pula yang pada akhirnya mengajarkan betapa kehadiran keluarga lebih penting dari segalanya.
Laporan: M. Asad Asnawi
Harta yang paling berharga, adalah keluarga… yang paling indah, adalah keluarga….
Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga….
Mutiara tiada tara, adalah keluarga….

LAGU berjudul Keluarga Cemara ini begitu populer. Sebuah penggambaran akan pentingnya sebuah keluarga. Bahkan, dalam lirik lagu yang juga menjadi soundtrack sinetron di era 90-an itu, keluarga tidak kalah lebih berharga daripada harta apapun, istana manapun.

Tetapi, bukan karena lagu itu Darmawan ngeh dengan arti keluarga. Sampai sebuah peristiwa yang menimpa anak pertamanya, seolah menamparnya, hingga membuatnya tersadar betapa kehadiran keluarga begitu berarti bagi si anak.

Ceritanya, hari-hari itu Darmawan memang tergolong cukup sibuk. Maklum, ia belum lama diberhentikan dari tempatnya bekerja. Karena itu, demi mencukupi keluarganya, ia pun kerja membanting tulang. Berangkat pagi, pulang malam.

“Saya datang, dia sudah tidur. Saat berangkat, kadang dia yang masih tidur karena saya juga pagi-pagi sekali berangkatnya,” terangnya.

Ia sejatinya menyadari, perubahan pola kerjanya itu membawa konsekuensi lain. Intensitasnya bertemu dengan anaknya berkurang. Sampai kemudian, di beberapa kesempatan, ia merasa ada yang tidak beres dengan gaya bicara putranya; kurang memperhatikan kala diajak bicara.

Melihat perubahan perilaku pada sang anak, Darmawan mulai curiga. Tanpa sepengetahuan si anak, ia berinisiatif untuk memeriksa isi tasnya. Satu dua kali, ia tidak mendapati apa-apa. Hingga suatu ketika, ia menemukan beberapa butir obat terlarang di dalam tas.

“Ya, apa yang saya khawatirkan ternyata benar,” ujar Darmawan, 25 Juli lalu.

Minimnya perhatian akibat kesibukannya di luar, menjadi alasan anakya mengonsumsi obat terlarang itu. Bahkan, imbas dari penyimpangan tersebut, fokus belajarnya menjadi berkurang. Sampai kemudian, satu kali ia tidak naik kelas.

“Sejak saat itu, aktivitas di luar akhirnya saya batasi,” terangnya.

Jika tidak, ia meluangkan waktu akhir pekan untuk berkumpul di rumah atau rekreasi.

Bukan saja Darmawan. Pengalaman yang sama juga datang dari Ariansyah, pengusaha asal Pasuruan. Kesibukannya mengurusi pekerjaan di luar, membuat hari-harinya untuk berkumpul anak-anaknya sedikit berkurang. Yang terjadi, sang anak mencari perhatian di antara teman-temannya. Sampai suatu waktu, ia mendapat laporan dari salah satu temannya yang kerap menjumpai anak perempuannya kongkow-kongkow hingga larut malam.

Dua cerita yang datang dari orang tua asal Pasuruan itu, hanyalah potret akan dampak dari minimnya perhatian terhadap sang anak. Karena itu, memberikan perhatian yang cukup, seperti sekadar menanyakan suasana belajar di sekolah, menjadi hal penting.

“Bagi sebagian orang, mungkin sepele ya. Tapi, seperti saya yang pernah mengalami langsung, ternyata itu sangat penting,” kata Darmawan.

Seorang anak, kata dia, tidak sekadar butuh uang saku tiap pagi. Lebih dari itu. Mereka lebih butuh pertanyaan, perhatian ketika sepulang dari sekolah. Nah, perhatian-perhatian kecil seperti itu yang jarang ia berikan, sebelum ia memergoki penyimpangan pada anaknya. Bukannya tidak sadar. Tetapi, tuntutan ekonomi yang membuatnya tak sempat.

Menurut Darmawan, sebenarnya, ada pola yang bisa dilakukan, guna mempersempit kemungkinan adanya perilaku menyimpang pada anak. Misalnya, dengan menjaga hubungan atau komunikasi yang baik dengan lingkungan dan juga sekolah.

Pada lingkungan misalnya. Paling tidak, ketika itu bisa dilakukan, si orang tua bisa ikut menitipkan kepada tetangga atau siapapun yang dikenal untuk ikut menjaga.

“Atau paling tidak, ngasih kabar ketika menjumpai anak-anak, dimana pun itu. Karena dengan begitu, kita bisa tahu dimana anak-anak sedang bermain,” terangnya.

Komunikasi dengan sekolah juga tak kalah penting. Karena lepas dari rumah, bagi anak-anak usia sekolah, hampir pasti sebagian waktunya dihabiskan di sekolah. Dalam konteks ini, yang paling tahu dan mengerti apa yang dilakukan si anak, adalah lingkungan sekolah.

Beberapa sekolah memang membuat aturan yang cukup ketat kaitannya dengan ini. SMA Maarif NU Pandaan misalnya. Masing-masing wali kelas, membuat grup obrolan dengan seluruh wali murid. Keberadaan grup obrolan itu sekaligus menjadi media penyampai pesan ketika jam belajar di sekolah sudah habis.

Kepala sekolah SMA Maarif Pandaan, Suhadi mengatakan, keberadaan grup WhatsApp itu, memang dibuat sebagai media komunikasi antara sekolah dengan wali murid. Dengan begitu, apa yang dilakukan si murid, bisa terus dipantau.

“Kalau jam belajar selesai, kan mesti kami sampaikan. Jadi, si anak juga mau tidak mau harus pulang. Kalau pun ada kegiatan lain selepas sekolah, ya harus izin dulu ke orang tuanya,” jelas Suhadi.

Dikutip dari laman dosenpsikologi.com, keluarga sangat penting dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Keluarga dalam konteks yang lebih luas (bukan hanya orang tua, tapi juga saudara yang lain), harus bisa menjadi guru, pembimbing, pengawas, bahkan teman bagi si anak itu sendiri. Peran itu bahkan disebut yang sebagai pertama dan utama sebuah keluarga sebelum si anak masuk sekolah.

Mrs. Jeanne Leonardo, ahli psikologi anak mengatakan, keluarga memiliki peran penting terhadap tumbuh kembang anak. Salah perlakuan, bukan saja akan berakibat buruk pada perkembangan sang anak itu, tapi juga masa depan yang bersangkutan. Karena itu, memahami keinginan anak mutlak diperlukan agar perlakuan yang diberikan juga sesuai dengan kemauan si anak.

“Dalam banyak kasus memang begitu. Orang tua terlalu sibuk, atau abai dengan keadaan si anak, cuek. Jadinya, si anak akhirnya mencari perhatian dari teman-temannya sebagai pelampiasan,” terang perempuan yang juga pengelola lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ini.

Sayangnya, kesadaran semacam itu belum dimiliki secara merata oleh orang tua. Penyebabnya, kapasitas SDM (sumber daya manusia) yang memang belum sampai ke sana. Alih-alih memahami dunia dan keinginan si anak. Beberapa orang tua, justru acapkali terkesan memaksakan kehendaknya pada anak. Anak, kata Mrs. Jeanne, tak ubahnya adalah pewaris mimpi yang mau tidak mau harus melakukan apa yang dimaui si orang tua. Akibatnya, anak menjadi sulit berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Dan itu baru akan terlihat ketika anak sudah mulai beranjak dewasa.

“Karena itu, bagaimana pola pendidikan anak oleh keluarga, sangat menentukan bagaimana masa depan si anak,” ujarnya saat ditemui di kantornya.

Sebab, bagi Mrs. Jeanne, keluarga tak ubahnya fondasi awal untuk mengantarkan si anak menerima pengetahuan-pengetahuan yang ada di luar dirinya. (*)