Kampanye HIV-AIDS, Mantan Sekuriti Ngontel Keliling Nusantara

1049
Hidup sebagai orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memang bukan perkara mudah, tapi itu tidak membuat Wijianto (35), warga Menteng, Jakarta Pusat, menyerah begitu saja. Ditemani sebuah sepeda fixie, ia keliling Indonesia dengan niat memberi semangat dan contoh bagi penderita HIV supaya tetap semangat menjalani hidup.

Laporan: Gufron Alamiri, Probolinggo

BERBEKAL sepeda fixie, sejumlah buku dan pakaian, sejak Jumat (27/7/2018) hingga Minggu (29/7/2018), Wijianto berada di Probolinggo. Pria murah senyum itu, bertemu sejumlah pegiat penanggulangan HIV/AIDS. Ada misi khusus yang diembannya, yakni menyadarkan masyarakat agar waspada terhadap penularan virus Human Immunodeficiency Virus atau HIV.

Ia ingin memberikan semangat kepada OHDA (orang hidup dengan HIV/AIDS) yang ada di daerah, bahwa mereka masih bisa berkarya, meski miliki harapan hidup tipis. Salah satu contoh nyata adalah dirinya yang bisa keliling Indonesia.

“Saya keliling Indonesia ini bertujuan untuk memotivasi penderita HIV, untuk melanjutkan hidup, saya ingin membuktikan pada mereka bahwa penderita HIV itu, masih bisa keliling Indonesia bahkan dengan berjalan kaki dan sepeda ontel seperti saya ini,” ujarnya kepada wartabromo.com, Sabtu (28/7/2018).

Kampanye keliling Indonesia dilakukan dengan mengayuh sepeda angin dari Kota Mojokerto pada Rabu (24/7/2018). Dari Mojokerto ia singgah di Pasuruan. Selama di sana, Wijianto bertemu dengan sejumlah kalangan yang terlibat dalam penanggulangan HIV-AIDS. Setelah itu melanjutkan perjalanannya ke Bumi Banger.
Tour kali ini, menurut mantan buruh pabrik tersebut, merupakan awalan dari Ngontel Nusantara yang ia rencanakan. Dari Provinsi Jawa Timur, Wijianto berencana mengunjungi berbagai daerah di 34 Provinsi di Indonesia.

“Ini baru awalan dari kampanye yang saya rencanakan. Mudah-mudahan lancar dan masyarakat Indonesia semakin melek akan penyebaran HIV,” tutur ayah satu anak ini.

Wijianto mengungkapkan, awalnya ia tidak mengetahui kalau tertular HIV. Sekitar 2011 lalu, saat sedang bekerja sebagai sekuriti di salah satu perusahaan di Jakarta, dirinya ngedrop. Ia kemudian masuk rumah sakit dan dirawat hingga sembuh. Pasca sakit ia bekerja kembali, namun kondisi itu tak berlangsung lama. Ia kembali sakit, menjalani rawat inap lagi.

“Kondisi saya waktu itu, sakit-sembuh, sakit-sembuh, begitu terus. Sehingga seorang dokter menyarankan saya untuk tes HIV karena pada mulut muncul jamur-jamur putih. Hasilnya ternyata saya positif kena virus. Saya langsung drop waktu itu. Ya mikirin diri sendiri dan juga keluarga,” tutur pria kelahiran Nganjuk ini.

Diduga, ia tertular HIV dari jarum suntik yang ia pakai bersama dalam komunitasnya. Diakui sejak 2000, ia sering kumpul temannya di Surabaya, memakai narkoba.

“Saya kerja sebagai buruh di pabrik di daerah Gresik. Tapi sering ke Surabaya kumpul teman. Mungkin diantara teman itu ada yang terinfeksi. Karena saya di Jakarta baru sekitar 2009 dan tidak make’ lagi sampai saya menikah,” ujarnya.

Beruntung dalam posisi terpuruk itu, dukungan istri dan keluarga sangat besar. Berkat support dan dibantu para relawan HIV-AIDS, Wijianto bangkit untuk melanjutkan hidupnya. Ia rajin mengkuti program pengobatan Antiretroviral (ART). Selain itu, ia menjalani pola hidup sehat dengan berolahraga.

Titik balik itulah yang kemudian menginspirasi dirinya, untuk menyadarkan masyarakat agar waspada terhadap penularan virus HIV. Ia kemudian mengelilingi 30 Provinsi di Indonesia dengan berjalan kaki mulai 7 November 2015 hingga 10 November 2017. Perjalanan itu, kemudian dibukukan dengan judul ‘Jejak cak Garèng’.

“Keberhasilan bertahan hidup dan bisa berkeliling Indonesia itulah yang memotivasi saya untuk kembali menjelajah nusantara. Dalam perjalanan kali ini, saya juga membawa buku karya saya. Selain sebagai bekal hidup dalam perjalanan, hasil penjualannya juga saya jadikan untuk mereka, senasib dengan saya,” tandas pria yang akrab dipanggil Gareng ini.

Menurut Badrud Tamam (35), Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kota Probolinggo, apa yang dilakukan Wijianto patut diapresiasi. Sebab, tak jarang ODHA patah semangat untuk bertahan hidup. Ada pula yang berpikiran negatif dengan balas dendam menularkan penyakitnya ke orang lain. Sehingga kampanye Wijianto patut didukung.

“Sebenarnya penderita HIV ini tak perlu dijauhi, karena penularannya itu melalui hubungan sex dan jarum suntik yang dipakai secara bersamaan. Kalau cuma minum satu gelas tidak akan menular, cuma ditakutkan penyakit lain yang diderita oleh ODHA tersebut yang menular. Seperti TBC dan lain-lain, berciumanpun virus HIV tersebut, tidak akan menular,” jelasnya. (*)