Sempat Alot, Ini Kesepakatan Warga Sadengrejo dengan Pihak Tol Gempas

1130
Warga Sadengrejo, DPRD Kabupaten Pasuruan, Jasa Marga, PT PP menandatangani hasil kesepakatan masalah proyek tol Gempas, Senin (5/11/2018). Foto: Ardiana Putri

Pasuruan (wartabromo.com) – Warga Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, lakukan pertemuan terkait masalah proyek Tol Gempol-Pasuruan (Gempas) Seksi 3-B. Dua jam bermusyawarah, akhirnya muncul kesepakatan, antara Warga Sadengrejo serta pihak pelaksana proyek, Senin (05/11/2018).

Ada 4 poin hasil kesepakatan dalam pertemuan di Balai Desa Sadengrejo tersebut, yakni pertama, overpass tetap ada dan dilandaikan. Kedua, underpass berdimensi lebar 3 meter dan tinggi 2,5 meter, akan dikerjakan pada minggu ketiga setelah diresmikan oleh presiden. Ketiga, Sungai Sadengrejo diluruskan, dan keempat, Box Culvert untuk saluran air diperdalam.

Musyawarah ini diawali, setelah perwakilan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, melakukan dialog dan konsultasi dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) yang berkedudukan di Jakarta. Hasilnya, proyek overpass akan tetap diadakan walaupun warga tak menghendaki hal itu. Namun pihak dewan tetap mengusahakan Underpass juga segera dibangun.

“Hasil konsultasi dari Jakarta bukanlah hasil final, yang jelas overpass tetap harus ada, tapi kita usahakan ada underpass juga,” terang Rusdi Sutejo anggota DPRD Kabupaten Pasuruan Komisi C yang juga menjadi pemimpin musyawarah.

Sementara Mulyono, perwakilan pihak Jasa Marga, mewakili pelaksana proyek Tol Gempas juga menawarkan solusi dari permasalahan ini. Jasa Marga mengusulkan pengadaan 1 box culvert ukuran 3×3 (untuk saluran) dan 1 box tunnel ukuran 3×3 (untuk pedestrian).

Sesaat setelah penyampaian usul dari Jasa Marga tersebut, ratusan warga bersorak dan mengaku kecewa. Warga merasa usulan–usulan tersebut tetap tak memberikan solusi sesuai keinginan mereka.

“Yo lek ngono carane pancet banjir pak, tambah lahar sing iyo (ya kalau begitu caranya pasti tetap banjir, malah bisa jadi semakin parah),” celoteh warga kesal.

Musyawarah ini sempat alot dan sedikit tegang beberapa saat, namun warga tetap kondusif. Pihak DPRD dan perwakilan masyarakat kembali merumuskan usulan yang akhirnya ditandatangani sebagai bentuk hasil kesepakatan. Warga Sadengrejo juga mewanti-wanti jika kesepakatan tersebut diingkari, maka warga tak akan segan untuk memblokir akses jalan tol.

Dalam musyawarah tersebut, Warga Sadengrejo juga meminta kamera pemantau dan penerangan yang disebar diseluruh jalan di sekitar tol karena di daerah tersebut memang terkenal sebagai daerah rawan kejahatan.

Pertemuan membahas persoalan tol kali ini, selain melibatkan Warga Desa Sadengrejo, tampak juga warga Desa Kawisrejo, Kecamatan Rejoso.

Sebelumnya, warga Desa Sadengrejo demo di depan kantor Pemerintah Kabupaten Pasuruan di jalan Hayam Wuruk dan melanjutkan aksi di gedung DPRD Kabupaten Pasuruan. Masalah kontruksi tol hingga aktivitas proyek membuat jalanan desa rusak disoal. Selain menimbulkan debu dan bising, banyak warga menjadi korban, gara-gara terjatuh di jalanan berlubang. (trp/ono)