Sistem SKS: Antara Ambisi dan Realita

3068
Proses belajar mengajar dalam kelas di SMA Negeri 1 Grati, Kabupaten Pasuruan.
Selayaknya filosofi telur. Jika telur dipecahkan dari luar, maka kehidupan di dalam telur telah berakhir. Namun jika sebuah telur dipecahkan dari dalam, maka kehidupan baru telah lahir. Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam diri masing-masing. Selamat berjuang siswa dan guru Indonesia, mewujudkan ambisi sistem pendidikan ideal dengan tetap berpijak pada realita. Menguatkan pendidikan, memajukan kebudayaan.

Oleh Ema Rany Widi Widana

BERPERAN sebagai siswa SMA di era milenial memang harus ‘strong’ dengan tantangan yang tidak sama dengan masa sekolah era 80/90 an. Perubahan kurikulum dengan sistem SKS  menjadikan siswa dituntut untuk bertanggung jawab lebih terhadap kemampuan akademisnya. Ada 17 mata pelajaran harus diampu dengan standard ketuntasan minimun 75 -bahkan lebih tinggi dari itu- pada sekolah-sekolah yang berani mengunggulkan kemampuan aspek akademis siswanya.  Empat puluh sembilan jam perminggu harus dijalani siswa untuk berkutat dengan pelajaran secara formal di dalam kelas. Bahkan masih ditambah beberapa jam tambahan bagi kelas XII yang akan menghadapi ujian nasional.

Kalau sudah begitu, muncul berbagai pertanyaan dalam menyikapi dan menghadapi perubahan itu. Bagaimana dengan aspek pengembangan diri mereka? Dapatkah maksimal? Apa memang harus diacuhkan?.

Mengingat sistem yang seolah  ‘hanya’ berorientasi pada pencapaian angka akademis saja sebagai alat ukur keberhasilan siswa dan sekolah. Walaupun, di dalamnya terdapat muatan berupa lintas minat yang memfasilitasi siswa untuk dapat lebih berkembang dalam bidangnya.

Bagaimana dengan hak siswa, yang seolah dikebiri oleh semua tuntutan akademis tersebut? Masih perlukah siswa yang berprestasi dibidang olah raga atau bakat lainnya, mendapat prioritas untuk berkembang di sekolah? Sementara waktu mereka habis untuk ‘duduk manis’ di dalam kelas ataupun berkutat dalam tugas-tugas yang sangat banyak, berpacu dengan materi pelajaran yang beraneka ragampenilaiannya. Masih dapatkah mereka mengukir masa paling indah di SMA yang selama ini selalu menjadi jargon kehidupan? Sementara mereka harus dipaksa mengejar target kurikulum dengan sistem SKS seperti layaknya mahasiswa.

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab. Pasal 12 ayat (1b) juga menyatakan, bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.

Melihat tujuan ideal dari undang-undang tersebut, jelas tidak hanya aspek akademis yang keberhasilannya diukur oleh angka-angka ideal yang menjadi patokannya. Pendidikan manusia seutuhnya juga selayaknya menjadi perhatian institusi ataupun pembuat kebijakan di sekolah. Kurikulum dengan banyak muatan pelajaran dengan memuat kompetensi inti dan pendidikan karakter, nyatanya belum menjadi alat mencapai tujuan pendidikan secara holistik.

Aspek psikologi siswa pada masa usia remaja dalam pencarian dan pengembangan jati diri juga sudah selayaknya dikembalikan lagi ke tempatnya, mendapatkan porsi yang seimbang dalam pelaksanaan pendidikan sesuai dengan usianya. Siswa sekolah lanjutan masih perlu dibimbing, diarahkan, dan dimotivasi. Kondisi yang mungkin tidak sama urgentnya dibandingkan mahasiswa.

Dari survey tentang pelaksanaan SKS yang dilakukan pada siswa di wilayah Kabupaten/Kota Pasuruan dengan sejumlah 420 siswa, sebanyak 96% siswa menyatakan terbebani dengan sistem tersebut. Hal ini berkaitan dengan kurangnya waktu siswa dalam menyelesaikan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM), yang dinyatakan oleh 93% siswa.  Sejumlah 89% siswa menyatakan masih belum paham dengan materi apabila tidak dijelaskan oleh guru. Siswa juga menyatakan bahwa sistem SKS mendorong mereka untuk bersikap individu sebanyak 84% siswa.

Menyoal tentang pengembangan bakat dan minat selama belajar di sekolah lanjutan, sebanyak 82% siswa menyatakan, bahwa sistem SKS membuat mereka kurang berkembang dalam menyalurkan bakat dan minatnya dengan terkendala waktu. Bahkan 51% siswa menyatakan pihak sekolah terkesan kurang peduli dengan kegiatan ekskul di sekolah.

Hal ini berkaitan dengan pendanaan ketika melakukan kegiatan lomba yang harus ditanggung sendiri oleh siswa dan orang tua. Bahkan terdapat sedikit ketidakharmonisan antara siswa berprestasi di bidang non akademis dengan kebijakan sekolah yang mengunggulkan aspek akademisnya saja. Padahal berhasil tidaknya siswa di masa depan tentu tidak lepas dari kemampuan bakat dan minat mereka yang dapat dikembangkan di bangku sekolah. Halaman Selanjutnya …