Sebulan, Ada 30 Kali Pencurian Sapi di Lumajang

1653

Lumajang (wartabromo.com) – Dalam sebulan, setidaknya ada 30 kali kasus pencurian sapi yang terjadi di Lumajang. Pelaku biasanya berkelompok, yang terdiri dari 5-10 orang.

Hal tersebut diungkapkan oleh AKBP Arsal Sahban, dalam jawaban terbuka Kapolres Lumajang.

“Perlu diketahui bahwa pencurian sapi sangat meresahkan masyarakat Lumajang. 1 bulan bisa terjadi sampai 30 kali pencurian sapi. Pelaku biasanya berkelompok 5-10 orang bahkan bisa lebih,” tulis Arsal.

Laki-laki lulusan Akpol ini juga mengatakan, pelaku tidak memiliki rasa takut “ketahuan” saat melakukan aksinya. Ini karena mereka membawa senjata tajam seperti celurit bahkan bondet (bom ikan) untuk menakuti korbannya.

“Sebenarnya korban atau masyarakat seringkali tahu siapa pelakunya tapi tidak berani menyampaikan karena takut di teror oleh pelaku dan kelompoknya,” lanjutnya.

Baca Juga :   Ini Dia Batik Sirih dan Pusaka Suropati, Khas Kota Pasuruan

Baca Juga : Tangkap Pencuri Sapi, Polres Lumajang “Dinyinyiri” Warga Net

Polres Lumajang bahkan mengaku kesulitan dalam proses pengusutan pencurian sapi ini. Apalagi ditemukan dalam sebuah kasus, ada seorang Kepala Desa yang bahkan menganggarkan dana khusus untuk menghalau pencuri sapi di desanya. Meski berniat untuk melindungi warganya, namun cara ini dianggap keliru.

“Dalam masyarakat Lumajang terkenal dengan istilah Tak Oneng yang artinya tidak tahu (bahasa madura). Budaya Tak Oneng ini sudah mendarah daging di Lumajang. Budaya inilah salah satu penyumbang sulitnya diungkap jaringan pencurian sapi di Lumajang,” ungkap Arsal.

Dalam kasus pencurian yang dapat merugikan warga hingga puluhan juta rupiah ini, Polres Lumajang mengaku telah menyiapkan berbagai macam cara. Seperti program rantai sapi, garasi ternak, hingga satgas keamanan desa.

Baca Juga :   Bupati dan Wakil Bupati Lumajang Turun ke Jalan Dukung Polisi Ungkap Kasus Q-Net

Baca Juga : Sebelum Dijual, Maling di Lumajang Sembunyikan Sapi Disini

Sementara untuk menangkap pelaku, polisi menerjunkan anjing pelacak hingga drone. 2 cara ini beberapa kali telah menampakkan hasil. Meski begitu, harapan kepolisian yakni kerjasama warga. Khususnya dalam pelaporan tentang kehilangan sapi.

“Pencurian sapi sedikit (yang dilaporkan, red). Umumnya mereka tidak mau lapor polisi dengan beberapa pertimbangan. Diantaranya, lapor polisi maka sapi tidak akan kembali karena biasanya ada istilah tebusan, kalau lapor polisi maka mereka akan diintimidasi, lapor polisi percuma, tidak akan ketemu juga,” jelas Arsal beberapa waktu lalu. (may/ono)