Unas dan Tahun Politik

0
410
Mereka punya hak melaksanakan ujian seperti tahun-tahun sebelumnya. Siswa butuh nyaman dalam persiapan menghadapi Unas.

Oleh : Anang Prasetya.S.Pd

SISWA SMK dijadwalkan mengikuti Ujian Nasional (Unas) pada Senin, 25 Maret 2019. Seminggu kemudian siswa SMA menyusulnya.

Perubahan jadwal, dengan maju satu bulan dari yang ditetapkan sebelumnya itu terkesan mendadak.

Pertanyaannya.
Bagaimana guru harus mengejar materi pembelajaran yang tidak sesuai dengan kalender pendidikan?
Bagaimana mempersiapkan psikis siswa menghadapi jadwal pembelajaran di atas rata-rata?
Bagaimana mengajak orang tua siswa untuk mengadakan kontrol pembelajaran di rumah?

Pertimbangan apa sebenarnya yang mendasari sehingga pelaksanaan Unas harus dimajukan?

Banyak lagi permasalahan yang muncul dan harus ditanggapi dengan cepat.

Sebagai pelaku di dunia pendidikan, kita mempunyai beban moral cukup berat. Kehilangan waktu pembelajaran selama satu bulan tentu sangat merugikan siswa. Guru juga belum merasa puas dalam menyelesaikan tugasnya.

Namun demikian, di tengah rasa pesimis yang tak berujung, sekolah tetap saja dituntut melakukan persiapan-persiapan seperti tahun lalu.

Pihak sekolah juga masih berupaya menanamkan rasa tanggungjawab pada siswa agar tetap mempersiapkan diri menghadapi Unas. Acara Istighosah menjelang UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) adalah bukti bahwa kita masih banyak berharap hasil Unas akan tetap baik.

Persiapan sarana dan prasarana pendukung seperti komputer dan jaringannya juga dipersiapkan. Fasilitas IT dalam pelaksanaan UNBK nyatanya belum mampu mempengaruhi kualitas pelaksanaan Unas dan hasilnya.

Agenda pendidikan sebenarnya sudah terjadwal secara rapi sesuai dengan kalender pendidikan yang ditetapkan Pemerintah.

Sejak awal tahun pembelajaran, sekolah sudah merancang kegiatan pembelajaran sampai menjelang Unas. Semua disesuaikan dengan porsi kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran.

Kemudian jadwal tiba-tiba berubah. Sekolah pun Kelimpungan, seakan dipaksa menyusun ulang program pembelajaran untuk siswa. Imbasnya rancangan sekolah terkesan menjadi amburadul.

Belum genap dua bulan melaksanakan pembelajaran semester genap, siswa sudah dihadapkan pada try out Unas, simulasi-simulasi dan Ujian Akhir Sekolah.

Meskipun Unas bukan lagi penentu kelulusan siswa, tetapi hampir semua menganggap nilai ujian akhir itu adalah gambaran keberhasilan pembelajaran.

Tak dipungkiri masih banyak perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia yang menjadikan nilai Unas sebagai patokan rekrutmen karyawannya.

Kita sangat berharap kebijakan pemerintah menyangkut dunia pendidikan dilakukan secara lebih berhati-hati. Karena ujian ini bukan hanya ritual tahunan yang hanya sekadar dilaksanakan tanpa mempertimbangkan mutu dan hasilnya.

Jika akhirnya kita paksakan tetap dimajukan, tentu kita harus siap dengan segala konsekuensinya.

Unas bukan pekerjaan guru dan sekolah. Unas melibatkan keberadaan siswa sebagai pemeran utama dan masyarakat sebagi tim penilainya.

Lulusan SMK/SMA khususnya di tahun ini tentu tidak mau dijadikan korban di tahun politik. Mereka punya hak yang sama untuk melaksanakan ujian seperti tahun-tahun sebelumnya. Siswa tetap membutuhkan kenyamanan dalam persiapan menghadapi Unas.

Bukan mencari kambing hitam atau menyerah dengan tugas berat yang diberikan kepada guru. Namun, apapun program yang kita buat, tetap penentu keberhasilan tes tahunan ini adalah siswa itu sendiri. Karena itu persiapan materi pembelajaran, persiapan psikis, kemampuan dan daya tangkap siswa, serta pembentukan karakter jujur, disiplin, dan tanggungjawab merupakan modal awal untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Untuk hal tersebut tentu butuh sinergi antara guru, siswa dan orang tua siswa. Mustahil jika kita bisa melaksanakan tugas berat itu dalam waktu yang singkat.

Belum lagi menghadapi degradasi mental pelajar. Ini adalah fakta yang dirasakan dunia pendidikan kira-kira 5 tahun terakhir ini. Tanggungjawab pelajar di Indonesia mengalami penurunan. Pengaruh lingkungan terutama internet dengan penggunaan media sosial mempunyai peranan atas perubahan itu.

Hanya saja, Unas sekarang tidak lagi mutlak menentukan kelulusan. Dan kita sudah kehilangan atmosfirnya.

Pada tahun 80-an atau 90-an, suasana Unas sangat mencekam. Pelaksanaan Unas benar-benar sakral. Pelajar sangat paham akan kewajibannya. Suasana menjelang Unas benar-benar sepi. Tak ada siswa berkeliaran di malam hari. Semua larut dalam suasana belajar. Terlihat betul bentuk tanggungjawabnya sebagai pelajar.

Dalam perkembangannya, sistem pendidikan di Indonesia juga mengalami perubahan. Unas diupayakan terlaksana dalam situasi yang tidak mencekam. Semua dikondisikan secara tenang. ke halaman 2