Titik Nol Probolinggo yang Terlupa

5457
Titik nol kilometer Kota Probolinggo.
Titik nol suatu daerah biasanya ditandai dengan sebuah monumen atau tugu. Namun, di Kota Probolinggo titik nol ini hanya berupa pal. Tak banyak warga yang tahu dimana keberadaannya.

Laporan M. Ali Gufron, Probolinggo

JIKA kita mencari jarak antara Kota Probolinggo dengan Kota Surabaya di situs pencarian Google, pasti tertulis 108,6 KM (Kilometer). Padahal jaraknya berdasarkan titik nol antara kedua kota ini, sebenarnya hanya 98 KM. Perbedaan itu bisa terjadi, karena Google Maps menandainya berdasarkan laporan dari penggunanya. Apalagi banyak warga Kota Probolinggo yang tidak mengetahui letak titik nol kota mangga ini.

“Nggak tahu dimana letaknya. Padahal saya sendiri asli Kota Probolinggo. Tidak ada tanda yang memberitahu dimana letak patokan jarak tersebut. Saya tahunya jarak Probolinggo-Surabaya ya seratusan lah. Sesuai maps yang saya pakai di ponsel,” tutur Agus Sugiarto (30), warga Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Minggu (31/3/2019).

Berdasarkan penelusuran wartabromo.com, pengukuran titik nol Kota Probolinggo dimulai dari Jalan Panglima Sudirman. Tepatnya di selatan Rumah Makan Sumber Hidup, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan.

Di sana terdapat tanda atau Pal terbuat dari beton berbentuk segi empat dipasang berdiri trapesium, tingginya sekitar 1 meter.

Sisi timur terdapat tulisan “Pasuruan 38” dan sisi depan atas “Surabaya 98” dan sisi barat 0. Tanda atau Pal tersebut menunjukkan, kalau di tempat itulah kilometer 0.

Dari pal bercat abu-abu, putih dan garis merah yang mengelilingi tugu itulah pengukuran diawali. Sehingga jarak Kota Probolinggo ke Pasuruan 38 Km dan ke Surabaya 98 Km.

Tak hanya warga Kota Probolinggo, warga Kabupaten Probolinggo juga menyatakan hal yang sama. “Enggak tahu. Kalau tidak ditanya sampean, saya tidak tahu. Padahal, saya sering lewat dan mengambil uang di ATM, yang jaraknya tidak jauh dari tugu titik nol,” ungkap Hardiyanto (42) warga Desa Clarak, Kecamatan Leces kabupaten Probolinggo.

Baik Agus maupun Eko, berharap pemerintah daerah peduli dengan titik nol itu. Mengingat, tidak ada tanda atau rambu yang menunjukkan keberadaannya. Padahal di kota lain, sudah banyak yang membangun tugu titik nol. “Jelas kalau hanya patok sekecil itu, masyarakat tidak tahu. Bangun dong yang lebih besar. Kalau perlu ada tamannya seperti kota lain,” harap Agus tanpa menyebut kota yang menjadi pembanding.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumadi dengan jujur mengatakan tidak tahu kalau di lokasi tersebut merupakan titik nol-nya kota. Selain ukurannya relatif kecil, tempatnya terhalang pohon, dan kendaraan warga yang berhenti di ATM. Karenanya, ia berencana akan menelaah dan hasilnya akan dilaporkan ke Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin.

“Hasil telaah kami, saya laporkan ke wali kota. Apakah akan dibangun tugu yang besar atau tidak. Jika nantinya hasil telaahnya disetujui wali kota, maka saya akan mengusulkan lokasinya di simpang tiga. Apakah dibangun baru atau kita manfaatkan bangunan monumen yang sudah ada. Kan timur Sumber Hidup sudah ada tugu,” ujarnya.

Sumadi menyarankan agar bertanya ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), kenapa nol kilometer ada di sana. Sebab, Dishub hanya mengurusi PJU (Penerangan Jalan Umum) dan Rambu. Sedang untuk jalan menurutnya, domain PUPR.

“Silahkan tanya ke Pak Amin Fredy (Kadis PUPR) saja. Tanda jarak jalan itu, domainnya PUPR,” pungkasnya.

Di lain pihak, Kadis PUPR Amin Fredy mengaku tidak mengetahui, siapa yang menentukan dan apa dasarnya. Apakah lokasi itu titik tengah wilayah kota, ataukah ada latar belakang atau pertimbangan lain. “Kami tidak tahu. Yang menentukan, kami juga tidak tahu. Apakah Pemerintahan Balanda atau Indonesia,” jawabnya.

Menurut perkiraannya, titik nol kilometer tersebut adalah tengah luas wilayah kota. Mengingat, sejak Kota Probolinggo berdiri hingga tahun 1980, wilayah kota hanya 1 kecamatan. Yakni Kecamatan Kota, Kota Madya Probolinggo. Namun dalam perkembangannya, menjadi 5 kecamatan seperti saat ini.

“Itu setelah sebagian wilayah Kabupaten Probolinggo diberikan ke kota tahun 1981. Itu menurut saya. Masih saya telusuri, mengapa seperti itu. Kami akan mencari ahli sejarah kota,” pungkasnya. (*)