Cerita Tuhan, Terjebak Pesona Retno hingga Uang dan Hati Melayang

1504
Tuhan berbaju Abu-abu saat ditanyai Kapolres Lumajang AKBP Arsal Sahban.
“Cuma saya gak merasa ditipu karena uang itu buat dimakan bareng-bareng. Uang itu aku kasih, terus dibelanjakan bareng, dimakan bareng sama orang-orang. Setiap belanja, aku yang pegang uangnya,”

Laporan : Maya Rahma

TUHAN di Lumajang hampir saja bernasib sial jika tidak percaya pada firasatnya akan tindak tanduk Retno. Tuhan bisa saja kehilangan uang lebih dari Rp 2 juta karena mulut manis Retno ini.

Mari kita simak pertemuan Retno dan Tuhan yang hampir saja dibumbui percintaan.

Kholifah bisa disebut mak comblang pertemuan Tuhan dan Dwi Retno ini. Ibu 56 tahun itu mulanya mampir ke warung Kholifah di daerah Pasirian sana untuk membeli makan. Ia sekalian bertanya, adakah hotel di sekitar sana untuk Ia menginap.

“Kalau hotel gak ada bu. Terus tanya boleh gak ikut ke rumah saya. Saya bilang rumah saya biasa aja, tapi terus saya bawa ke rumah, dia mau,” ujar Kholifah.

Disinilah kemudian Retno ngintil Kholifah kemanapun Ia pergi. Mulai dari ke Supermarket hingga pasar. Semua keperluan Kholifah dibayari Retno.

“Ibuk ini yang bayar belanjaan saya. Total Rp 300 ribu. Terus dia cari asisten. Karena semua sudah beristri, saya teringat Tuhan yang belum punya istri. Saya panggilah dia nemui Ibu Retno,” ungkapnya.

Klutuk..klutuk.. Tuhan datang ke hadapan Bunda Retno (panggilan Retno). Tuhan diminta jadi guide untuk menemani si Retno jalan-jalan. Termasuk ke Pantai di Pasirian sana.

“Waktu pertama ketemu hari Minggu, tanya bisa nemenin jalan-jalan. Supaya pikirannya fresh, 4 hari dijanjikan dikasih Rp 5 jt,” tutur Tuhan.

Selama jalan-jalan, Retno mendapat decak kagum dari setiap orang. Betapa tidak, Bunda ini kerap kali membelikan berbagai macam makanan.

“Udah loyal, lebih dari Rp 5 jt dia keluar. Setiap orang lewat mesti dikasih rokok. Sampai habis 2 warung rokoknya dia beli. Uang dia sendiri dikeluarin. Setiap belanja mesti habis Rp 400-500ribu,” katanya.

Jelas saja tidak ada kecurigaan. Sampai keesokan harinya Bunda mulai kehabisan uang. Pinjamlah Ia ke Tuhan uang totalnya Rp1,9 juta.

“Cuma saya gak merasa ditipu karena uang itu buat dimakan bareng-bareng. Uang itu aku kasih, terus dibelanjakan bareng, dimakan bareng sama orang-orang. Setiap belanja, aku yang pegang uangnya,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, Retno mengaku punya asisten yang bernama Siska. Katanya mau antar uang Rp 200-an juta ke Lumajang. Terus juga Retno mengaku sedang mencairkan uang Rp 15 Miliar.

“Dia nelepon orang Bank, dari Jakarta sampai Pasirian itu. Katanya uang itu jalan dan baru sampai di Pasirian hari Selasa. Saya yang mencetkan nomornya, pinjam HP saya. Di loudspeaker. Suaranya beda-beda, dan memang bilang uangnya mau cair,” cerita Tuhan yang saat itu katanya bahagia.

Lalu pada sekitar Rabu pagi, Retno pinjam handphone lagi. Katanya mau telpon Siska ini, bilang uangnya cair.

“Dia telpon, hpku kan gak dipencet, kok ngomong? Ini saya curiga, dia telpon pakai hape mati. Ya wes saya ikuti yaopo permainane wong iki, mosok aku gak mampu. Ini saya udah laporan ke RW sampai Polsek Pasirian,” katanya.

Lalu sekitar jam 8 pagi, Retno dan Tuhan menuju salah satu Bank di Pasirian. Mau ngambil uang itu. Tuhan sempat takut, karena Retno ini santai ke Bank seperti bukan penipu. Sementara si Tuhan sudah melaporkan ke Polsek.

“Dia tenang wes masuk bank. Yang dikantor Bank itu bilang kalau uang besar tidak bisa langsung cair, harus ada pengawalan dan lain sebagainya,” kata Tuhan yang saat itu semakin gemetar karena kecurigaannya tidak terbukti.

“Saya gak bohong kan mas, mau cair ini 15,” kata Bunda saat itu.

“Lho kok Rp 15 juta bunda? Kan katanya mau bagi-bagi teman-teman ditotal lebih RP 100 juta,” jawab Tuhan.

“Lho bukan Rp 15 juta. Tapi Rp 15 M mas,” timpal Bunda.

Tuhan pun syok, antara percaya atau tidak. Apalagi sudah dilaporkan polisi. Dia takut salah lapor, meski jika misal uang ini benar cair, Tuhan mau minta pak Polisi untuk mengawal mobil saja. ke halaman 2