Capaian Tingkat Pendidikan Formal di Indonesia

3259
Pada akhirnya diharapkan setiap lembaga pendidikan pada jenjang TK hingga SLTA secara bertahap harus melakukan pembenahan internal untuk mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi siswa.

Oleh : Sri Kadarwati

SETIAP menjelang bulan Juli hampir semua orang tua disibukkan dengan aktivitas berburu sekolah maupun Perguruan Tinggi untuk buah hatinya. Tahun 2019 merupakan tahun pertama peraturan Mendikbud nomor 20 tahun 2019 tentang system zonasi diberlakukan. Paradigma baru yang disiapkan pemerintah tersebut dimaksudkan untuk memeratakan akses pendidikan bagi masyarakat secara luas.

Tentunya sistem zonasi ini masih belum dikatakan sempurna dalam tahap pemberlakuannya. Karena mungkin masih dirasakan kurang dalam sosialisasinya kepada masyarakat, sehingga masih menyisakan berbagai hal seperti masih adanya kecenderungan memilih sekolah yang “favorit” dan “kurang favorit”.

Baca Juga :   Mayoritas Peserta KB Tak Suka Pakai Kondom

Istilah sekolah favorit dan kurang favorit di suatu wilayah biasanya diciptakan oleh masyarakat sendiri. Yaitu dengan memperhatikan kondisi fisik bangunan (sarana/prasarana sekolah) dan lingkungan yang ekslusif, strata ekonomi menengah ke atas dari orang tua siswa, bahkan kualitas pengajar yang dianggap lebih professional dalam mengajar atau mendidik.

Dari hasil penerapan sistem zonasi di tahun 2019, ke depan Pemerintah pasti akan melakukan evaluasi dan perbaikan yang mampu mengakomodir masukan masyarakat dan para pemerhati pendidikan nasional.

Pada akhirnya diharapkan setiap lembaga pendidikan pada jenjang TK hingga SLTA secara bertahap harus melakukan pembenahan internal untuk mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi siswa. Sehingga mampu memberikan kepuasan dan ketenangan bagi para orang tua untuk menyekolahkan putra/putrinya nya pada lembaga pendidikan sesuai zonasi yang ditentukan pemerintah. Pada akhirnya akan memberikan dampak positif terhadap capaian dan rata-rata harapan pendidikan formal masyarakat.

Baca Juga :   Cara Jitu Bikin Anak Tak Lagi Malas Mengerjakan PR

Seiring dengan reformasi yang terus diupayakan Pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia baik infrastruktur, sistem, program kurikulum maupun anggaran peningkatan SDM, perlu ditengok capaian pendidikan masyarakat selama lima tahun terakhir.

Capaian pendidikan tersebut dapat dilihat dari salah satu komponen pembentuk IPM (Indeks Pembangunan Manusia), yaitu komponen pengetahuan. Dimensi pengetahuan pada IPM dibangun oleh dua indikator yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Rata-rata Lama Sekolah (R LS) merupakan rata- rata lamanya (tahun) penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal, sedangkan Harapan Lama Sekolah (HLS) adalah lamanya (tahun) sekolah formal yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang.