Kali Besuk, Wisata Sungai Popok

2998
Jika anda melintas di jalan penghubung Kecamatan Besuk dengan Kecamatan Kraksaan, alangkah baiknya untuk singgah sejenak di Kali Besuk. Pandangan mata anda akan disuguhi wisata unik, yakni sungai popok. 

Laporan : S. Adi Wardhana.

WISATA kali ini, bukanlah wisata yang sebenar-benarnya. Melainkan menelusuri kondisi di sisi utara jembatan Kali Besuk. Sungai ini terletak diperbatasan Desa Alas Kandang, Kecamatan Besuk dengan Desa Alas Sumur Kulon, Kecamatan Kraksaan. Jembatan penghubung tersebut lebih dikenal dengan jembatan Rayati, nama salah satu warga.

Kali Besuk yang mempunyai panjang kurang lebih 17 km tersebut merupakan batas alami antara kedua kecamatan itu. Hulu sungai ada di Desa Besuk Kidul, Kecamatan Besuk. Melewati Desa Besuk Agung, Alas Kandang, dan Alas Sumur Lor, Kecamatan Besuk di sisi timur.

Di sebelah barat ada Desa Alas Sumur Kulon dan Sumber Lele, Kecamatan Kraksaan. Bermuara di Selat Madura, membelah Desa Asem Bakor dan Desa Kebon Agung, Kecamatan Kraksaan.

Baca Juga :   Diduga Langgar Kode Etik, Tiga PPK Dalam Investigasi KPU

Sepanjang daerah aliran sungai (DAS), dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan. Semisal irigasi pertanian, mandi, cuci dan kakus. Yang terkini dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat pembuangan sampah. Seperti yang terlihat di sisi utara Jembatan Rayati.

Ya, pemandangan tak lumrah menohok mata kita saat melintas di atas jembatan. Tumpukan buntalan sampah jelas terpampang di atas permukaan sungai. Mayoritas sampahnya adalah popok bekas pakai balita.

“Kalau malam itu ada yang lempar popok dari atas jembatan. Ada yang bawa mobil. Gak tau warga mana yang membuang popok ke sungai ini. Bisa jadi warga sekitar sini atau warga desa lain,” tutur Subai, salah satu warga, dalam Bahasa Madura.

Tak ada yang tahu siapa yang mengawali pembuangan sampah di tempat itu. Di awal 2000-an, masih banyak warga yang memanfatkan untuk mandi, karena airnya bersih.

Baca Juga :   Tiga Rumah Terkena Ledakan hingga Sejarah Bencana Pasuruan di Era Kolonial | Koran Online 10 Mei

Namun, dalam 5 tahun terakhir, buntalan-buntalan plastik kresek berisi popok menjadi penghuni setianya. Hanya hanyut di musim penghujan. Berganti popok lain yang dilempar dari atas jembatan.

“Dulu, sumber air sering dipakai buat minum. Utamanya mereka yang kerja sawah. Sekarang meski masih jernih, sudah gak digunakan lagi, jijik. Sangat disayangkan, karena di hilir masih dimanfaatkan warga untuk mencuci dan mandi,” lanjutnya.

Faktor kenyamanan dan kepraktisan, membuat popok sekali pakai populer di kalangan orangtua.

“Nggak ribet tinggal ganti aja. Biasanya saya ganti popok anak, minimal 3 kali dalam sehari,” ujar Halimatus memberi alasan. Sayang ia enggan bercerita bagaimana penanganan eks popok yang digunakan.

Tapi, sampah popok menyisakan masalah yang dapat mencemari lingkungan. Sebab mengandung zat kimia dan plastik. Juga mengganggu kesehatan manusia. Karena faktor bakteri E-coli dari kotoran manusia.

Baca Juga :   Wisata Bromo dan Semeru Belum Buka

Seperti yang dilaporkan Mongabay, popok sekali pakai menjadi penyumbang sampah terbanyak kedua di laut, yakni 21% menurut riset Bank Dunia pada 2017. Di peringkat pertama ada sampah organik yang besaran angkanya mencapai 44%. Selain itu, ada pula tas plastik (16%), sampah lain (9%), pembungkus plastik (5%), beling kaca dan metal (4%), serta botol plastik (1%).

Popok sekali pakai mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42%. Akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air. Apabila terurai dalam air, zat kimia itu dapat berbahaya bagi lingkungan. Senyawanya dapat menyebabkan perubahan hormon pada ikan.

Selain itu, 55% bahan pokok pembuat popok sekali pakai adalah plastik. Bahan yang notabene membutuhkan waktu lama untuk terurai. Plastiknya pun jarang didaur ulang oleh warga dan tidak laku dijual.