Gunung Arjuno; Mitos Pasar Setan dan Alas Lali Jiwo (2)

1340
Lembah Kijang, tempat istirahat pendaki, bagian dari alas Lali Jiwo. Lokasinya di tengah bawah antara Arjuno-Welirang.
Selain bertebaran bangunan suci, banyak mitos mengelilingi Gunung Arjuno. Salah satunya, keberadaan pasar setan dan alas Lali Jiwo.

Laporan M. Asad

SYAHDAN, suatu peristiwa di luar nalar pernah terjadi di Gunung Arjuno. Ketika itu, sekitar lima tahun silam, seorang pendaki asal Surabaya dikabarkan hilang ketika melakukan pendakian ke puncak.

Berdasar laporan teman survivor yang tiba lebih dulu di pintu masuk, petugas lantas bergerak untuk mencari korban.
Dua hari usaha pencarian yang dilakukan tak juga membuahkan hasil.

Sampai hari ketiga, petugas mendapati, survivor tengah tidur lelap di sekitar kawah puncak Welirang. Oleh tim Search and Rescue (SAR), survivor yang masih duduk di bangku SLTA kala itu kemudian dibawa turun.

Kepada sejumlah wartawan yang menunggunya di bawah kala itu, survivor tak tahu bagaimana ia bisa tertidur di lubang kawah kala itu. Ia hanya ingat, saat itu ia berpisah dengan rombongan temannya karena buang air kecil. Sampai akhirnya, ia tak ingat lagi apa yang terjadi, sebelum ditemukan petugas.

Baca juga : Gunung Arjuno; Antara Mitologi dan Jejak Purbakala (1)

Berada di puncak, tanpa makan atau minum, di tengah terpaan panas dan hujan lebat tiga hari adalah fenomena yang tak biasa. Sebab itu, banyak yang kemudian mengaitkan apa yang dialami survivor dengan beragam mistik yang menyelimuti pegunungan Arjuno-Welirang.

“Didelikno (disembunyikan, Red) sama penunggune,” seloroh Masud, salah satu anggota tim rescue kala itu.

Masud yang banyak melakukan pendakian di sejumlah gunung di Indonesia itu pun meyakini, ‘sosok’ penunggu di kawasan gunung Arjuno-Welirang itu benar adanya.
Keberadaan penunggu itu pula yang melahirkan banyak mitos dan dipercaya hingga kini.

Salah satunya, perihal keberadaan Pasar Setan dan juga alas Lali Jiwo. Dalam bahasa Indonesia, lali jiwo bisa diartikan sebagai lupa diri atau jiwa yang hilang.

Sejumlah literatur menempatkan alas Lali Jiwo ini untuk merujuk kawasan hutan lebat di atas wilayah Perhutani. Dengan kata lain, masuk kawasan hutan lindung di Taman Hutan Raya (Tahura) R Soerjo.

Sampai saat ini, sebutan Lali Jiwo masih dipakai untuk menyebut wilayah hutan tersebut.

Konon, menurut cerita, penggunaan nama itu tak lepas dari lebatnya hutan tersebut hingga acapkali membuat pendaki kebingungan menemukan jalur pendakian. Tidak mengherankan, di alas inilah biasanya para pendaki banyak tersesat. Utamanya mereka yang belum berpengalaman.

Lalu, bagaimana dengan mitos Pasar Setan?
Bagi yang percaya, pasar gaib ini diyakini ada di tengah alas Lali Jiwo itu. Oleh mereka, suara-suara berisik yang kerap datang dan pergi itu menjadi penandanya.

“Kalau yang percaya, ya itu dikait-kaitkan dengan keberadaan pasar gaib itu. Kalau saya, suara-suara itu akibat dari pohon-pohon yang tertiup angin. Karena kalau di atas kan anginnya lumayan kencang,” ujar Masud.

Meski dianggap sebagai mitos, tidak sedikit yang mempercayainya. Dari kepercayaan-kepercayaan itu pula yang pada akhirnya melahirkan aturan berupa pantangan yang harus dihindari oleh pendaki.

Selain larangan berbuat yang bisa menjadikan berakibat pada kerusakan alam, salah satu pantangan yang agak nyeleneh adalah larangan untuk bersiul. Jika saja itu dilakukan, diyakini akan mendatangkan badai.

Baca: Gunung Arjuno; Antara Mitologi dan Jejak Purbakala (1)

Karena itu, cukup beralasan jika para penambang belerang acapkali marah besar jika mendapati pendaki yang bersiul. Bisa-bisa, mereka diminta kembali turun jika nekat melakukannya.

“Kan diingatkan dulu. Kalau tetap bersiul ya biasanya suruh turun,” kata Khoiron, penambang setempat. (Bersambung)