Krisis Air di Musim Hujan

6173
Dalam dua minggu terakhir, warga Kota Probolinggo alami krisis air bersih. Penyebabnya adalah kerusakan pipa PDAM di Ronggojalu, Kabupaten Probolinggo. PDAM tak punya plan B, tak mampu mengatasinya dengan cepat.

Laporan : Lailatuansyah, Probolinggo

SINGGIH, warga Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, terpaksa bolak-balik ke toko yang ada di ujung depan gang, agar bisa dapatkan air bersih.

Toko tersebut memang menjual air mineral curah atau isi ulang. Selama beberapa hari ini, menjadi satu-satunya tempat ia bergantung mendapatkan air bersih, untuk masak dan mandi.

Tapi, untuk menikmatinya, ia harus menebus Rp3500 tiap galon.
Galon air berisi 19 liter itupun ia panggul, dibawa ke dalam tempat penampungan atau bak mandi.
Sehari, setidaknya 6 galon, ia beli untuk kebutuhan mandi dan masak.

Baca Juga :   Bacakades di Probolinggo Wajib Vaksin, Kalau Tidak Bakal Dicoret

“Sejak air dari PDAM mati, kami mengandalkan air isi ulang. Itu sebenarnya gak cukup untuk masak dan mandi. Selama ini, kami menggunakan air PDAM, jadi kesulitan kalo airnya mati. Apalagi sampai lama sekali,” ujar Singgih.

Siasatnya, bersama keluarga Singgih memilih mandi dicukupkan hanya sekali. Bisa pagi atau sore hari.
Ia terpaksa mandi tak lebih dari sekali, lantaran harus menghemat air, selain juga menekan beban pengeluaran membeli air.

“Yang penting anak-anak yang masuk sekolah bisa mandi. Yang tua mengalah,” timpal Irphan Saputra, tetangga Singgih.

Nasib lebih baik dialami Ikhsan Mahmudi, warga Jalan Letjen Sutoyo Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran. Ia tak harus membeli air isi ulang dan mengeluarkan duit ekstra, hadapi krisis air di musim penghujan kali ini.

Baca Juga :   Penahanan Provokator Tolak PPKM Ditangguhkan hingga Kabupaten Pasuruan PPKM Level 1 | Koran Online 11 Sep

Sebab, di rumahnya pompa air bertenaga listrik, setiap saat bisa digunakan. Meski kualitas airnya tak sejernih air dari Ronggojalu.

Selama ini, pompa air itu, digunakan untuk menyiram tanaman, tidak untuk mandi dan memasak.
Tapi, kali ini hal itu tidak berlaku, karena meski tak digunakan memasak, air dari pompa miliknya itu, ada kalanya digunakan untuk mandi.

“Karena kalau ditampung di bak, 3 hari airnya sudah keruh dan harus nguras. Kalau air PDAM, seminggu sekali nguras bak mandi. Airnya bagus, bisa buat minum dan memasak,” tutur Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Probolinggo itu.

Erfan Sudjianto, salah satu pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga, juga merasakan dampak matinya air PDAM.
Rumah toko (Ruko), tempat usahanya, hanya mengandalkan pasokan air dari PDAM.

Baca Juga :   KPK Geledah Pondok Bindereh Hasan hingga Penyebab Kecelakaan Fatal di Jalan Tol | Koran Online 5 Nov

“Saya dikabari kalau air PDAM mati karena kerusakan pipa di Ronggojalu,” ujarnya.

Ruko miliknya, dilengkapi pompa air bertenaga listrik. Namun, pompa itu tak difungsikan menyedot air tanah. Melainkan menyedot air PDAM untuk dinaikkan ke tandon atau tangki berkapasitas 5.000 liter. Air kemudian digunakan untuk cuci baju, kebutuhan mandi hingga memasak.