Surat Kecewa untuk Belva Devara, Stafsus Jokowi yang Mendadak Mundur

3258
“Kalau mundur kan artinya Anda kalah sebelum benar-benar berperang?
Padahal kami yang sudah percaya dengan stafsus, butuh ruang untuk terus memupuk kepercayaan kami.”

Oleh : Maya Rahma

SEMALAM ketika iseng scroll Instagram, ternyata ada sebuah postingan dari salah satu Staf Khusus Presiden yang sekarang sudah mengundurkan diri. Belva Devara, CEO Ruang Guru yang pada November lalu dengan wajah sumringah berada di samping Presiden Joko Widodo diperkenalkan sebagai Stafsus.  Sekarang sudah mundur.

Keputusan ini diambil setelah netizen mempermasalahkan program kartu prakerja yang pelatihannya memakai jasa Ruang Guru di salah satu program anakannya yakni Skill Academy.

Selama kurang lebih seminggu ini, komentar-komentar pedas datang pada CEO Ruang Guru yang katanya melakukan nepotisme di program prakerja.

Belva sempat melakukan klarifikasi panjang di twitter dan Instagram soal tudingan ini. Lalu pada Selasa (21/4/2020) malam, Ia kembali mengumumkan hal yang mengejutkan.

“Berikut ini saya sampaikan informasi terkait pengunduran diri saya sebagai Staf Khusus Presiden. Pengunduran diri tersebut telah saya sampaikan dalam bentuk surat kepada Bapak Presiden tertanggal 15 April 2020, dan disampaikan langsung ke Presiden pada tanggal 17 April 2020.
Seperti yang telah dijelaskan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian dan Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja (PMO), proses verifikasi semua mitra Kartu Prakerja sudah berjalan sesuai aturan yang berlaku, dan tidak ada keterlibatan yang memunculkan konflik kepentingan. Pemilihan pun dilakukan langsung oleh peserta pemegang Kartu Prakerja.”

Pemuda dengan segudang prestasi ini memutuskan untuk mundur dari Stafsus.

Ah.. Jujur, saya kecewa dengan keputusan ini. Meski banyak sekali warganet yang lega karena Belva akhirnya mundur.

Kekecewaan saya karena ya sayang sekali lah. Gimana sih?

Belva ini salah satu pemuda Indonesia yang punya inovasi keren di bidang pendidikan. Ia juga punya 17 gelar kehormatan. Bahkan pernah juga masuk dalam daftar Forbes 30 under 30.

Sebagai stafsus, seperti tujuan awal Presiden, Belva dkk memiliki tugas memberikan usulan, saran, inovasi kepada negara aka Presiden untuk menangani para milenial ini. Yang banyak ide tapi tak tertampung dengan baik karena juga banyak yang doyan rebahan saja tak merealisasikan ide.

Stafsus diharapkan bisa menyalurkan ide-ide yang tidak tertangkap atau di luar kebiasaan birokrasi. Saya khususnya mendukung hal ini. Terlebih, mereka anak muda di luar kepentingan partai atau politik. Paling tidak, mereka diharapkan bisa menampung aspirasi kami, milenial, lalu disampaikan pada Presiden dengan inovasinya.

Selama periode November 2019 sampai April ini, banyak orang memertanyakan kinerja para stafsus milenial Jokowi. Termasuk saya sendiri. Namun, sebelum kinerjanya terlihat, doi sudah mundur.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya menunggu selama 5 bulan kinerja pemuda-pemuda Indonesia yang akhirnya dilirik prestasinya, namun terhempas gara-gara komentar netizen? Tunjangan selama beberapa bulan terakhir juga bukannya ikut sia-sia?

Saya adalah salah seorang yang sabar menunggu kinerja. Karena saya yakin proses ini membutuhkan waktu lama. Apalagi di lingkup pemerintahan yang ribetnya minta ampun. Birokrasi rumit, sik gesekan sana-sini. Nggak kayak swasta yang sekali ada ide langsung bisa direalisasikan.

Belva dkk selama ini telah mulai berkeliling Indonesia mengikuti Jokowi atau bahkan berangkat sendiri. Dari yang saya dapatkan di unggahan Instagramnya setiap berkeliling, Belva yang memang bergelut di bidang pendidikan, mengunjungi beberapa komunitas di pelosok negeri.

Terakhir, Ia sempat berkunjung ke Tarakan, Kalimantan Utara. Belva melakukan kunjungan singkat tak kurang dari 24 jam untuk riset dengan penggerak literasi. Hasilnya bakal dilaporkan ke Jokowi, dan tentunya beserta inovasinya.

Stafsus satu ini juga sempat melakukan tukar ide dengan stafsus lain dari negeri Jiran, Malaysia. Mereka bertukar pendapat soal inovasi di bidang pendidikan, teknologi, hingga ekonomi kreatif.

Kembali lagi saya tekankan, di pemerintahan itu tidak ada yang mudah. Ribet. Jelaslah kalau tugas stafsus juga gak bakalan secepat yang diharapkan warganet. Karena dari sistemnya saja sudah jelas ruwet.

Wong wakil rakyat, pejabat-pejabat negara juga membutuhkan 5 tahun untuk kerja. Bahkan memperpanjang waktu sampai berperiode-periode. Yakali stafsus 5 bulan sudah berhasil berinovasi. Masih dipotong fokus Covid pada 2-3 bulan terakhir.  ke halaman 2