Ini Pesan yang Ditegaskan Khofifah saat Dialog dengan 100 Pemred Terkait Covid-19

1025
Gubernur Jatim dalam dialog bersama 100 pemimpin redaksi/media massa yang tergabung dalam AMSI, Selasa (5/5/2020).

Surabaya (WartaBromo.com) –  Langkah promotif-preventif jadi hal utama digiatkan, mencegah sebaran corona (Covid-19). Pasalnya, sampai sejauh ini penyebaran virus dinilai kian masif, seakan tak dapat ditekan.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam dialog bersama 100 pemimpin redaksi/media massa yang tergabung dalam Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), secara online, Selasa (5/5/2020).

Menurutnya, edukasi dan sosialisasi sampai menyentuh langsung ke masyarakat menjadi penting untuk terus dilakukan, bahkan berulang sekalipun. “Sosialisasi, efektif atau tidak, tetap harus dilakukan,” kata Khofifah.

Dilanjutkannya, bagaimana masyarakat harus bisa memutus rantai sebaran corona dengan cara tetap bertahan tinggal di rumah hingga selalu menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

Hanya saja sampai kini, upaya yang dilakukan dinilai belum membuahkan hasil, karena paparan virus faktanya justru kian meluas.

Ia mencoba ungkapkan bukti jika corona kian mewabah, di antaranya dengan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Sidorjo, dan Gresik.

Kebijakan itu diputuskan setelah telaah yang dilakukan terhadap ketiga daerah termasuk ring satu di Jatim itu, ternyata didapatkan skoring di atas batas ketentuan pembatasan.

“Mestinya skor 8 itu sudah PSBB. Per 11 April Surabaya skor sudah 10, 17 April skor Sidoarjo juga 10, per 17 April Gresik 9. Menurut
PMK (Peraturan Menteri Kesehatan) ini sudah PSBB,” ungkapnya.

Kondisi itulah yang membuatnya bersikeras menyatakan langkah antisipasi, yang disebutnya berupa promotif-preventif itu harus kian digiatkan.

“Sampai sekarang rasanya terus kita endorse.Tolong ya ini bukannya berhenti tapi makin masif penyebaran Covid-19,” tandasnya.

Terkait penanganan corona, sejak 14-15 Maret 2020, Pemerintah Provinsi Jawa Timur  (Pemprov Jatim) dikatakan telah tetapkan langkah strategis, terutama dengan membentuk gugus tugas, yang dibaginya dalam empat fungsi.

Pada medio Maret tersebut, bagaimana Jatim menyiapkan diri, langsung bergerak koordinasi lintas sektor, hingga saat ini terus melakukan upaya penanggulangan wabah.

Khofifah memastikan tim promotif tak henti lakukan edukasi dan sosialisasi, Bagaimana imbauan untuk bekerja hingga belajar dari rumah, serta patuhi ajakan physical distancing tetap menjadi satu hal yang harus diperhatikan.

“Perlu re-edukasi re-sosialisasi. Bahkan waktu itu, musala, masjid ayolah pengeras suaranya dipakai juga untuk menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat tentang penyebaran Covid-19 yang sangat cepat ini,” ucap dia.

Kemudian, tim tracing tidak kalah penting, karena menurutnya, telat melakukan penelusuran terhadap mereka yang terjangkit, maka menyebarnya bakal meluas, atau bahkan tak terkendali.

Hal lain yang diungkapkan juga terhadap tim kuratif, yang sejak awal sudah melakukan persiapan terhadap penanganan pasien terkait corona. Ia menyebutkan, semula telah menyiapkan tempat rujukan sebanyak 44 rumah sakit. Lalu terus bertambah, mulai 54, 65, 74, hingga saat ini berjumlah 85 rumah sakit rujukan di Jawa Timur.

Malah diungkapkan Khofifah, saat ini ada 14 rumah sakit telah ajukan diri sebagai tempat rujukan baru tangani pasien corona.

Penambahan itu juga dimaksudkan agar tiap pasien dapat segera ditangani pada tiap daerah asal.

Meski demikian, dari serangkaian persiapan dan penyediaan tempat perawatan, tanpa terkecuali kelengkapan dan penunjang medis, menurut Khofifah, bukan jawaban untuk menghentikan sebaran virus.

Lebih-lebih keterbatasan tenaga medis, menjadi persoalan lain yang juga ditegaskan wajib untuk dijadikan perhatian.

Sekadar informasi, dokter spesialis paru yang dicatat Khofifah sebanyak 192 orang. Tentunya, jumlah itu tak sebanding dengan tugas dan segala risiko yang dihadapinya.

Tim keempat, dikatakan Khofifah, sampai sekarang ini juga fokus bertugas. Tim ini tengah melakukan penanganan dampak sosial ekonomi yang dialami masyarakat secara luas.

“Tim sudah 15 Maret dibentuk,” terang Khofifah.
Di antara yang telah dilakukan adalah koordinasi secara parsial ke perusahaan-perusahaan, membahas kemungkinan adanya karyawan yang dirumahkan maupun PHK.

“Pada posisi seperti ini,
mari bergotong royong melawan Covid,” tandas Khofifah. (ono/ono)