Perempuan dalam Pembangunan Bangsa

853

Pasuruan (Wartabromo.com) – Perempuan adalah makhluk Allah yang cukup menarik. Perempuan المدْرَسَةُ الأُوْلَى , bagi anak-anaknya. Perempuan juga mampu berpartisipasi dan mempunyai peran penting pada pembangunan sebuah negara.

Dr. Hj. Laili Abidah, Ketua PAC Muslimat NU Bangil, mengisahkan, pada masa Sayyidina Umar, wanita tidak diperbolehkan terlibat dalam politik. Hingga pada suatu hari, Umar membuat UU tentang perkawinan, seorang perempuan berdiri menyampaikan pendapatnya berdasarkan Al-Qur’an. Orang-orang yang berada dalam majelis pun membenarkan pendapat wanita tersebut. Sejak saat itu, wanita mulai bersemangat lebih maju.

Dalam Q.S At-Taubah: 71,

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain”

“Para pria dan wanita itu sama-sama menjadi pelindung dan saling mengisi, saling membantu satu dengan yang lain,” tutur perempuan yang akrab disapa Nyai Abidah.

Dijelaskan, dalam kehidupan rumah tangga, perempuan wajib taat kepada suami. Namun, dalam sosial masyarakat, perempuan bisa mempunyai daya kemauan yang tinggi dan psikologi yang kuat, lebih peka daripada kaum pria.

Menurutnya, perempuan harus haus akan pengetahuan. Pasalnya, dengan pendidikan tiggi, keimanan kokoh, pengalaman luas, mampu berinovasi, dapat membuat perempuan semakin kuat dan terus maju berkontribusi pada negara dengan kompetensi yang dimilikinya. Jadi, perempuan pun bisa menjadi simbol pelindung bagi anak-anaknya, juga masyarakat.

“Oleh karena itu, para wanita, kartini masa kini, teruslah berjuang dengan diiringi jiwa yang kuat, berideologi, cerdas, berintegritas, bermartabat dan mampu mengorbankan diri untuk orang lain dengan cinta dan baktinya yang tulus, yang dapat menjadikan amal untuk masyarakat,” tutupnya. (bel/ono)