Menjaring Ilmu di Dermaga, Berekreasi Literasi

1379
BERLITERASI: Suasana belajar di Taman Baca di Kelurahan Tambaan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Foto: Romadoni.
Stigma sebagai ‘Kampung Narkoba’ menginisiasi para pemuda Kelurahan Tambaan, Kota Pasuruan mendirikan taman baca. Fasilitas itu sekaligus menjadi sarana rekreasi literasi.

Laporan: Amal Taufik

DENGAN wajah masih belepotan bedak Ilham yang mengenakan kaos putih penuh terlihat penuh semangat. Kerinduannya akan suasana belajar bersama yang lama vakum imbas Covid-19 membuatnya bergegas ke dermaga.

Segera setelah mencuci tangan, bocah 8 tahun itu menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul. “Bosan belajar di rumah terus,” kata siswa kelas 3 di salah satu sekolah dasar swasta Kota Pasuruan ini.

Pagi itu, Minggu (14/06/2020), kegiatan belajar di Taman Baca Pesisir yang terletak di Kelurahan Tambaan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, memang kembali dibuka.

Taman baca itu mempergunakan sebuah pos mungil di dermaga pantai. Tak jauh dari pos itu, di sebelah barat perahu-perahu nelayan bersandar dan di sebelah timur hijau hutan mangrove tampak rimbun.

Berpayung mendung dan angin yang berhembus pelan, para pengurus yang merupakan para pemuda karang taruna Kelurahan Tambaan mempersiapkan sejumlah bahan bacaan.

Salah satu pengurus Taman Baca Pesisir, Nafiudin menuturkan, taman baca ini diinisiasi para pemuda setempat dan umurnya baru 1 tahun. Ia dan kawan-kawannya saat itu ingin menciptakan kegiatan positif untuk para pemuda di kampungnya. “Karena di tempat kami pada waktu itu sering mendapat stigma ‘kampung narkoba’,” katanya.

Stigma itu dirasa begitu meresahkan dan ia ingin menghapus stigma itu. Seringkali ia dan kawan-kawannya mendapat ‘cap’ ketika berinteraksi dengan orang luar kampungnya.

“Saya di luar gitu ditanya anak mana. Saya jawab Tambaan. Pasti selanjutnya dia tanya hal-hal buruk,” lanjut pemuda yang kini juga menjadi relawan Covid-19 di RSUD Bangil tersebut.

Dalam perjalanannya, taman baca yang diinisiasi bersama rekan-rekannya itu tidak berjalan mulus. Upaya mengubah citra kampung itu sempat tersendat saat taman bacanya baru berdiri beberapa bulan.

Sejumlah respon negatif ia terima. Respon negatif itu berupa anggapan bahwa mereka adalah ‘antek-antek’ pemerintah dalam proyek pembangunan Jalur Lingkar Utara (JLU), sementara di kalangan warga Tambaan sendiri terdapat pro kontra soal pembangunan JLU ini.

Anggapan itu dilekatkan kepada Nafiudin dan kawan-kawan hanya lantaran ketika mereka melakukan kegiatan di taman baca, seringkali para pegawai Pemkot Pasuruan ikut menyaksikan. Akibatnya, pada tahun 2019 lalu taman baca itu sempat mandek selama beberapa bulan sebelum kemudian aktif kembali.

Sekarang keadaannya berubah. Masyarakat sekitar mendukung apa yang dilakukan oleh kelompok pemuda yang menamakan diri Bina Hang Tuah ini. Kalau dulu, Nafiudin dan teman-temannya yang mencari anak-anak, kini orang tua anak-anak itulah yang mendorong anak-anaknya untuk ikut kegiatan di taman baca.

“Kalau dulu awal-awal itu, anak-anak harus diiming-iming jajanan biar mau bergabung,” seloroh pengurus taman baca lainnya, Nouvel.

Seperti yang dilihat WartaBromo pada hari Minggu itu. Hari itu materi belajar diisi oleh volunteer dari luar seputar panduan menjaga kesehatan.

Anindya, tutor pagi itu, dengan mengenakan pelindung wajah atau face shield mengajarkan kepada anak-anak tentang apa itu virus corona, apa itu protokol kesehatan, dan bagaimana menerapkannya.

Ia menjelaskan pentingnya memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak. Dan di tengah-tengah ia menjelaskan itu, dengan wajah polos, salah satu murid bertanya, “Lho kakak sendiri kok nggak pakai masker?” kemudian disusul tawa. “Kakak pakai face shield dan benda ini fungsinya sama seperti masker,” jawab Anindya.

Setelah materi ‘New Normal’, anak-anak dibebaskan membaca buku apapun yang mereka sukai. Mereka berebut mengambil buku atau majalah yang menumpuk di sudut taman baca, kemudian membaca dan sesekali saling mengganggu. Riang tawa anak-anak menjadikan suasana di ujung dermaga pagi itu ceria.

Di kampungnya, kata Nafiudin, dulu banyak sekali anak-anak yang putus sekolah. Anak-anak itu, selesai menamatkan SD atau SMP biasanya ikut orang tuanya jadi nelayan. Menurutnya, faktor ekonomi menjadi penyebab utama anak-anak di kampungnya putus sekolah.

Namun kini perlahan-lahan warga mulai sadar akan pentingnya pendidikan. Hampir semua remaja di kampungnya kini rata-rata pernah mengenyam pendidikan setingkat SMA. “Sekarang yang tamat SMA sudah banyak. Tapi yang sampai kuliah masih jarang. Hanya sebagian kecil saja,” ungkapnya.  ke halaman 2