Merdeka Energi: Cerita dari Kampung Terkotor

4648
Limpahan kotoran sapi sempat menjadikan Desa Balunganyar, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur sebagai desa terkotor. Kini, tak hanya bebas dari limbah yang melimpah, desa ini juga berhasil menahbiskan diri sebagai desa mandiri energi.

Oleh: Asad Asnawi

KUMUH dan kotor. Kesan itu begitu melekat dengan Desa Balunganyar, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Saking kotornya, siapapun yang datang ke sana, besar kemungkinan akan kembali. Penyebabnya, hampir semua sudut kampung penuh oleh kotoran sapi.

Di saluran-saluran, jalanan, hingga halaman rumah, tampak tinja sapi berserakan. Itu karena oleh masyarakat setempat, sapi-sapi itu dirawat di sembarang tempat, termasuk di halaman. Berbeda dengan pola peternak daerah pegunungan yang menempatkannya di tempat khusus di belakang rumah. Atau di tegalan.

“Di mana-mana ya penuh dengan kotoran. Nggak penuh gimana, wong di sini ini antara jumlah penduduk dengan sapinya masih banyak sapinya. Jadi ya kotoran di mana mana,” kata Kepala Desa Baluanyar, Sholeh saat ditemui awal Agustus 2020 lalu.

Tetapi, itu dulu. Sekitar empat atau lima tahun lalu, sebelum masyarakat setempat mengetahui limbah kotoran sapi yang biasa mereka buang, ternyata bisa menjadi uang.

Kini, setelah tahu limbah yang biasa mereka buang bisa menghasilkan untung, tak ada lagi kotoran yang dibuang. Sebaliknya, oleh warga, limbah-limbah itu kini diolah menjadi sumber energi untuk keperluan memasak sehari-hari. Ampasnya pun, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Kalau dulu, orang lewat sepedaan saja kadang jatuh karena terpeleset kotoran sapi. Bisa dibayangkan betapa kotornya desa kami waktu itu,” kenang Sholeh menceritakan kondisi desanya kala itu.

Konflik antar desa yang nyaris saja terjadi pada 2009 kian menegaskan Sholeh betapa limbah kotoran sapi menjadi persoalan serius dan membutuhkan solusi segera.

Ia menceritakan, ketika itu, ia yang belum genap setahun menjabat kepala desa setempat diunjuk rasa oleh warga Desa Tambak Lekok, tetangga desa yang berada di sebelah utara Balunganyar.

Kebetulan, topografi Tambak Lekok memang lebih rendah ketimbang Balunganyar yang ada di sisi selatan. Sementara Tambak Lekok, di utara, berbatasan langsung dengan laut Jawa.

Karena kondisi itu, setiap kali turun hujan, kotoran sapi masuk ke sungai sebelum akhirnya terbawa arus ke perairan laut Jawa.

Desa Tambak Lekok yang memang berbatasan langsung dengan bibir pantai terkena imbasnya. Curah hujan yang tinggi kala itu membuat badan sungai tak cukup menampung.

Akibatnya, air yang bercampur lumpur dari limbah kotoran sapi itu pun meluber ke tambak-tambak milik warga. Ikan-ikan yang segera memasuki masa panen pun mati.

Para petambak yang merasa dirugikan pun mendatangi balai desa Balunganyar beramai-ramai untuk minta pertanggungjawaban. Untung saja, protes berhasil diredam. “Kalau yang antar tetangga bertengkar gara-gara kotoran sapi ya nggak kehitung lagi berapa kalinya,” ujar Sholeh.

Bagi Sholeh, peristiwa itu menjadi momentum untuk mencari solusi bagaimana menangani persoalan kotoran sapi di desanya. Dengan jumlah yang mencapai 8-9 ribu ekor, limbah kotoran yang dihasilkan mencapai 160-180 ton setiap harinya! Sebab, rata-rata, satu ekor sapi menghasilkan tinja 20 kilogram saban harinya.

Beternak sapi perah memang menjadi pekerjaan sehari-hari warga Balunganyar. Dari 7.400 penduduk yang tercatat, 95 persen di antaranya mengandalkan pendapatan dari memerah susu.
Bahkan, jika dibandingkan, jumlah ekor sapi jauh lebih banyak ketimbang warganya. Angkanya mencapai 8.500 ekor. Seorang warga, bahkan disebutkan memiliki 200 ekor sapi lebih.

Banyaknya sapi di Balunganyar tentu melahirkan permasalahan tersendiri. Terutama, berkaitan dengan limbah kotoran sapi yang dihasilkan. Tentu, akan menjadi persoalan serius jika tidak mampu mengolahnya.

Insiden unjuk rasa yang dilakukan warga Desa Tambak Lekok hampir satu dekade silam adalah contohnya. Keberadaan limbah sapi yang tidak mampu diolah dengan baik berpotensi memunculkan konflik di kalangan warga. Kejadian itu hampir berulang saat musim hujan tiba.

Diceritakan Sholeh, sebuah harapan sempat muncul ketika ia bertemu seorang pengusaha asal Surabaya. Usai mendengar ceritanya perihal melimpahnya kotoran sapi di desanya, sang pengusaha lantas berinisiatif membuat usaha pupuk organik.